4 Maret 2010
Dulu ketika format VideoCD mulai muncul, saya sudah cukup puas dengan gambar yang dihasilkan, memang waktu itu pun saya tidak memperhatikan seberapa besar resolusinya, yang jelas tampak sama saja di televisi saya, tidak ada bedanya dengan film-film yang disiarkan televisi. tapi setelah dilihat di layar komputer baru kelihatan “aslinya”, ternyata resolusinya rendah, tepatnya 352×240 untuk NTSC dan 352×288 untuk PAL.
Kemudian beberapa tahun kemudian munculah format video dalam bentuk DVD, resolusinya memang lebih tinggi dari VCD yaitu 720×576 untuk PAL dan 720×480 untuk NTSC. Ketika saya bandingkan dengan resolusi video dari siaran televisi rasanya memang DVD ini lebih bagus, ya memang faktanya demikian karena resolusi siaran televisi tidak jauh beda dengan VCD. Sampai saat itu, saya menganggap bahwa resolusi terbaik untuk video ya setara DVD ini dan sempat berpikir bahwa resolusi “asli” dari film pun memang segini, karena gambar yang dihasilkan begitu tajam, rasanya tidak mungkin bisa lebih tajam lagi dari ini.
Kemudian munculah format High Definition Video atau lebih dikenal dengan HD saja. Format ini ternyata memiliki resolusi yang lebih tinggi dari DVD, secara umum ada dua format populer untuk HD video yaitu 720i dan 1080i. 720i memiliki resolusi 1280×720 interlaced (i dari kata interlaced) sedangkan 1080i adalah1440×1080 interlaced. Sampai disini saya kembali berpikir, “wah kok bisa yah ada video dengan resolusi setinggi ini? kameranya seperti apa?”, saya bertanya demikian karena berpikir sebelumnya kalau kamera film saja resolusinya setara DVD, berarti kamera untuk HD ini pasti lebih hebat lagi? dan ternyata, sampai disini saya salah lagi….!!

RED Digital Cinema Camera
Sampai saat ini sebagian besar proses pembuatan “film” masih menggunakan kamera dan media film (seluloid) untuk merekamnya, bukan dengan kamera digital. Saya sempat penasaran, kok di jaman modern begini masih menggunakan film sebagai media rekam? ternyata kualitas gambar yang dihasilkan film belum tertandingi sampai saat ini. Memang kita tidak bisa membandingkan secara langsung antara film vs digital ini karena formatnya yang berlainan, namun kalau misalkan saja diukur dengan satuan pixel, maka resolusi yang dihasilkan film 35mm itu setara 22 megapixel, atau bahkan lebih tergantung dari kualitas kamera, lensa dan filmnya itu sendiri. Bandingkan dengan video HD dengan resolusi 1440×1080 pixel saja jika dikalikan hanya menjadi 1.5 megapixel, tidak sampai 10% dari resolusi film.
Singkatnya, jika suatu saat nanti ada teknologi lebih tinggi yang dapat menghasilkan resolusi video yang lebih besar (misalkan 4 megapixel), film-film lama masih bisa direproduksi untuk dijadikan video dengan resolusi sebesar itu, karena “master” dari film-film itu sendiri ada dalam bentuk film (seluloid) yang beresolusi lebih tinggi, sehingga gambar yang dihasilkan masih dalam keadaan baik, bukan hasil perbesaran atau interpolasi.
Namun disisi lain, dunia perfilman tidak lepas dari sentuhan teknologi digital. saat ini sudah ada beberapa produsen kamera yang membuat kamera digital untuk film. Kamera film digital tidak sama dengan kamera video, film-film berbudget rendah seperti film-film Indonesia biasanya melakukan shooting dengan kamera video yang biasa digunakan untuk dunia broadcast (televisi) yang nantinya setelah proses post-production baru diblow-up ke film seluloid untuk disajikan di proyektor bioskop. Kamera film digital memiliki kualitas lebih baik dari kamera video, resolusi yang sangat tinggi dan lensa yang berkualitas. Tujuan dari kamera film digital sendiri memang untuk menggantikan kamera film konvensional bukan untuk dunia broadcast, sehingga standarnya pun disesuaikan untuk kebutuhan film, termasuk aksesorisnya misal rel, lensa, dll.
Salahsatu produsen kamera film digital yang terkenal adalah RED. Sudah cukup banyak film sukses yang dibuat dengan kamera digital RED ini, diantaranya Slumdog Millionaire, Jumper, Knowing, Angels & Demon, District 9, The Lovely Bones, dll. Sepintas memang gambar yang dihasilkan oleh kamera film digital ini sama saja dengan hasil dari kamera film, hal ini wajar saja, karena kebanyakan film walaupun mengambil gambar menggunakan film, tapi untuk proses editing biasanya film-film “mentah” tadi discan dalam bentuk digital dalam format 2K, sedangkan kamera RED mampu merekam bahkan sampai format 4K, sehingga pada akhirnya resolusi yang dihasilkan bisa setara. sebagai perbandingan ukuran resolusi video DVD, HD, 2K atau 4K silakan lihat gambar ilustrasi dibawah ini.

Perbandingan Resolusi Video Film (klik untuk memperbesar)
Dari gambar diatas bisa dilihat kalau format DVD (kotak paling kecil) tidak ada apa-apanya dibanding format film. ukuran yang paling besar (berwarna merah) adalah format 28K yang rencananya akan dikembangkan oleh RED. Maksud dari “K” disini adalah kilo atau ribu pixel untuk ukuran resolusi horizontal. jadi 28K artinya video tersebut memiliki resolusi 28.000×9.334 pixel atau total sekitar 261 megapixel, angka yang sangat besar untuk ukuran video, bahkan untuk foto pun masih sangat jarang yang bisa mencapai angka sebesar itu.
Dari sini saya akhirnya mengetahui kalau standar format video untuk film itu adalah sangat tinggi. baik film ataupun digital sama-sama memiliki resolusi yang sangat tinggi. tidak heran mengapa ketika muncul format video baru untuk kalangan rumahan (VCD, DVD dan HD) tidak menjadi kendala untuk sebuah film (bahkan untuk film keluaran tahun 70an) dirubah kedalam format tersebut karena format aslinya memang jauh lebih besar.
Catatan:
Uraian diatas hanyalah penjelasan secara awam dari saya yang mempelajari teknis format film hanya dalam satu malam saja, jika ada kesalahan atau kekurangan mohon koreksinya. Terima Kasih.
Sumber gambar: Wikipedia
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
12 Februari 2010
Pesawat terbang berbasis kapal induk (carrier-based aircraft) adalah pesawat yang digunakan oleh angkatan laut maupun marinir yang dioperasikan dari atas dek kapal induk. Tidak banyak negara yang memiliki pesawat jenis ini terutama pesawat tempur karena memang negara yang memiliki kapal induk tidaklah banyak. Negara yang memiliki kapal induk terbanyak tentu saja negara adidaya Amerika Serikat. AS memiliki belasan kapal induk kelas Nimitz yang merupakan kapal induk terbesar saat ini, plus beberapa kapal induk kelas lain.
Pesawat terbang berbasis kapal induk memiliki karakteristik tersendiri, seperti misalnya bisa mendarat maupun lepas landas pada landasan pendek dalam hal ini kapal induk, bahkan beberapa tipe bisa mendarat secara vertikal seperti helikopter. secara umum pesawat berbasis kapal induk ada dua macam yaitu CATOBAR (Catapult Assisted Take Off But Arrested Recovery) dan STOVL (Short Take Off and Vertical Landing).
CATOBAR
Pesawat jenis CATOBAR (Catapult Assisted Take Off But Arrested Recovery) adalah pesawat terbang yang lepas landas dibantu oleh alat semacam katapel yang terdapat di kapal induk dan menggunakan kabel penangkap untuk mendaratnya. Pesawat jenis ini hampir mirip dengan pesawat konvensional yang terbang pada landasan di darat, namun karena landasannya sangat pendek maka pesawat membutuhkan “pendorong” tambahan agar bisa lepas landas dengan sempurna, untuk itu digunakanlah semacam katapel yang ditenagai secara hidrolik yang bisa melemparkan pesawat dari kondisi diam ke kecepatan ratusan KM/jam dalam waktu beberapa detik saja.

Katapel ini dibutuhkan karena pesawat jet modern rata-rata memiliki kecepatan lepas landas minimum yang cukup tinggi, sehingga kalau hanya mengandalkan kecepatan kapal plus arah angin yang berlawanan masih belum cukup untuk menerbangkan pesawat tempur mutakhir, oleh karena itu katapel berkekuatan tinggi dibutuhkan untuk membantu lepas landas.
Ketika melakukan pendaratan pun pesawat model ini tidak bisa mendarat begitu saja. proses pendaratan di kapal induk termasuk sangat sulit, arah angin yang tidak jelas serta kapal induk yang terus bergerak menjadi faktor penambah kesulitannya, selain itu landasan yang sangat pendek juga makin menambah tingkat kesulitan. Untuk itu ketika mendarat, pesawat jenis ini memiliki semacam kaitan (hook) yang nantinya akan menyangkut ke kabel-kabel penangkap (arrester) yang dibentangkan sepanjang landasan. ketika mendarat kaitan akan terkait ke kabel dan pesawat akan tersangkut dan berhenti seketika, dengan demikian landasan yang pendek tidak lagi menjadi masalah.
Berbeda dengan pendaratan di daratan, mendarat di kapal induk kecepatan pesawat justru dijaga agar tetap tinggi, bahkan ketika roda menyentuh dek, kondisi throttle (semacam gas) dalam kondisi penuh, baru setelah hook terkait dengan kabel, throttle diturunkan ke nol. Bukan apa-apa, hal ini untuk menjaga kalau-kalau proses pendaratan gagal dan pesawat bisa lepas landas kembali dan mencoba lagi proses pendaratan, kalau tidak bisa-bisa pesawat malah bablas dan tercebur ke laut.
Jenis pesawat model CATOBAR yang aktif saat ini tidak banyak, karena hanya beberapa negara saja yang memiliki kapal induk yang besar dan bisa dijadikan basis bagi pesawat model ini, beberapa diantaranya adalah Boeing F/A-18 (semua tipe), Dassault Rafale, F-35C Lightening II, F-14 Tomcat, C-2 Greyhound , EA-6 Prowler, dll.
STOVL

Jenis pesawat STOVL (Short Take Off and Vertical Landing) adalah pesawat yang berbasis di kapal induk yang bisa lepas landas di landasan pendek (dek kapal) tanpa bantuan katapel dan dapat mendarat secara vertikal layaknya helikopter. Pesawat jenis ini cukup unik dan jumlahnya juga cukup sedikit. keunikan yang paling terlihat adalah kemampuannya mendarat secara vertikal seperti yang biasa kita lihat di film-film fiksi. kemampuan ini didapat karena dorongan jet (thrust) bisa diputar kebawah sehingga daya dorong menjadi kebawah bukan ke belakang, dengan demikian pesawat bisa melayang (hover) dan mendarat secara vertikal.
Karena model pesawat STOVL ini memerlukan mekanisme yang cukup rumit terutama pada bagian pendaratan vertikal sehingga daya dorong mesin harus bisa diputar ke bawah, maka harga dari pesawat STOVL ini pun biasanya cukup mahal. Pesawat yang bisa melakukan ini sampai saat ini baru AV-8 harrier keluaran Amerika Serikat Yakovlev Yak-38 Rusia dan Harrier Inggris, Namun kedepannya akan ada pesawat F-35B yang bisa melakukan kemampuan serupa.
Untuk mengoperasikan pesawat STOVL tidaklah memerlukan kapal induk yang terlalu besar, karena hanya membutuhkan landasan pendek untuk terbang dan “alas” untuk mendarat, tidak perlu repot-repot menggunakan katapel dan kabel penangkap untuk lepas landas dan mendarat, oleh karena itu beberapa negara yang tidak terlalu “kaya” bisa mengoperasikan pesawat model ini tanpa harus memiliki kapal induk besar yang jauh lebih mahal.
Selain kedua model pesawat bersayap tetap diatas, kapal induk juga biasanya mengoperasikan helikopter untuk keperluan lain, misal untuk angkut logistik maupun operasi kapal selam. Dalam sebuah kapal induk besar seperti kelas Nimitz milik Amerika serikat, bisa mengangkut sekitar 80-90 pesawat, sedangkan untuk kapal induk negara lain seperti Inggris, Perancis maupun Italia jumlahnya lebih sedikit lagi karena memang ukuran kapal yang mereka miliki tidak sebesar punya AS, apalagi kalau membandingkan jumlahnya, tidak ada yang bisa menandingi atau bahkan mendekati jumlah yang dimiliki Amerika Serikat. Maka dari itu, tidak salah kalau AL AS merupakan AL terkuat di dunia.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
28 Januari 2010
Baru-baru ini ada sebuah fitur baru diluncurkan oleh dua layanan video sharing populer YouTube dan Vimeo yaitu fitur video player dengan HTML5. dengan menggunakan video player HTML5 ini, kita tidak usah menggunakan flash player untuk memainkan video yang ada di situs tersebut, melainkan bisa diputar secara native karena di render langsung oleh peramban (browser) yang sudah mendukung standar baru HTML5.

Ilustrasi
Konon, sampai saat ini peramban yang didukung oleh kedua situs tersebut baru Google Chrome, Apple Safari dan Internet Explorer dengan pengaya Chrome Frame, karena baru peramban inilah yang sudah mendukung standar HTML5 secara baik, saya belum tahu apakah peramban terbaru yang sedang populer sekarang Firefox 3.6 sudah mendukung HTML5 dan didukung oleh kedua situs video sharing tersebut atau belum.
Untuk mengaktifkan mode HTML5 player cukup mudah, pada situs Vimeo, coba buka saja salah satu video, kemudian cari di bagian kanan bawah tidak jauh dari jendela video, klik tulisan switch to HTML5 Player. Untuk situs YouTube juga sama mudahnya, caranya masuk ke halaman http://youtube.com/html5, pada halaman itu akan ada keterangan apakah peramban yang anda pakai sudah mendukung HTML5 atau belum, jika sudah, klik Join the HTML5 Beta di bagian bawah, maka setiap video yang anda putar nantinya akan diputar dengan HTML5 Player.
Saya sendiri sudah mencoba kedua “fitur” baru tersebut, walau masih dalam status “percobaan” tapi hasilnya cukup bagus, terutama untuk video yang diputar dari situs Vimeo, hampir tidak ada perbedaan dengan flash player yang mereka miliki, baik dari segi performa maupun antarmuka player -nya. Untuk situs YouTube pun demikian, namun sepertinya performanya tidak sebaik Vimeo, seringkali video tersendat dan stuck di tengah (bukan karena loading/buffering), setiap membuka satu video pun indikator video buffer (warna merah) selalu terisi penuh, padahal proses loading belum dimulai, ini artinya sistem tidak bekerja dengan semestinya. Dalam percobaan tersebut saya menggunakan peramban Google Chrome, saya belum mencoba dengan peramban lain, bisa saja hasilnya berbeda, karena proses rendernya memang sangat tergantung dari perambannya itu sendiri, berbeda dengan flash player yang dirender oleh plugin Adobe Flash Player.
Saya sendiri berharap HTML5 ini menjadi standar umum dalam waktu dekat, termasuk untuk video player, dengan demikian kita tidak selalu harus bergantung kepada pengaya pihak ketiga seperti Flash Player, setiap peramban bisa menampilkan isi situs yang interaktif tanpa memerlukan banyak pengaya. Namun (lagi-lagi) konon, untuk mencapai standar HTML5 yang sempurna masih jauh, jadi sepertinya kita masih harus lebih bersabar lagi.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
24 Januari 2010
Saat ini saya menggunakan sistem operasi Linux Ubuntu 9.10 yang bersandi Karmic Koala. sejauh ini fitur-fitur barunya memang cukup menyenangkan, apalagi dari segi tampilan mulai ada perubahan sejak beberapa seri terdahulu yang cenderung begitu-begitu saja. Cukup telat memang kalau baru sekarang saya membahas tentang si Karmic Koala ini, toh sistem operasi ini sudah dirilis sejak bulan Oktober 2009, tapi tak apalah, tak ada larangan bukan?

ilustrasi
Langsung saja ke unek-uneknya, terus terang saya kecewa sama performa Karmic Koala ini, rasanya jauh dibawah versi sebelumnya yaitu Ubuntu 9.04, rasanya untuk menjalankan aplikasi lebih berat dari sebelumnya, padahal setelah menggunakan versi 9.04 sudah banyak perbaikan dan lebih cepat dari seri terdahulu. saya sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu. contoh paling terasa adalah ketika membuka aplikasi peramban (browser), kadang tiba-tiba memori di load sangat tinggi dan kerja prosesor meningkat, sampai-sampai kipas di CPU berdesing kencang. kemudian dari segi desktop effect juga entah kenapa kinerjanya jadi menurut, beberapa efek animasi menjadi tersendat dan tidak mulus, walaupun tidak parah, namun hal ini dirasa mengganggu kenyamanan, sampai-sampai saya harus menonaktifkan beberapa efek, padahal sebelumnya tidak begitu.
Aplikasi Al-Qur’an digital Zekr bahkan sama sekali tidak bisa dibuka, aplikasi berbasis Java ini menolak untuk dijalankan, lagi-lagi sebelumnya tidak seperti itu, padahal bagi saya aplikasi ini cukup penting, ya sambil belajar mengaji lah. Kemudian yang cukup mengecewakan saya adalah aplikasi VirtualBox, sebelumnya lancar-lancar saja, sekarang kok suara dari sistem operasi Guest jadi putus-putus ya? begitupun dengan kinerjanya, rasanya semakin lelet saja. huh…
Dari sejak awal saya menginstall di bulan Oktober itu, beberapa kejanggalan memang terasa, tapi saya pikir ah ini wajar, namanya juga baru diluncurkan, tunggu saja pasti kedepannya ada beberapa perbaikan, namun setelah saya tunggu sampai sekarang, tidak ada perbaikan berarti, padahal untuk urusan pemutakhiran (update) saya tidak pernah ketinggalan, maklum saya orangnya termasuk new version horny *halah*, jadi tiap ada pemutakhiran terbaru pasti langsung saya pasang, bahkan untuk kernel pun kalau tidak salah sudah 3x dimutakhirkan, padahal kernel ini adalah harapan terakhir dimana akan adanya perubahan, tapi hasilnya nihil.
Dengar-dengar gosip sih, katanya memang seri x.10 itu selalu tidak stabil, kalau mau yang stabil pakailah seri x.04, begitu mitosnya. ya mungkin inilah resiko pakai sistem operasi yang menganut update berkala dan terbilang cepat, yang penting keluar tepat waktu, urusan “kematangan” kadang dikesampingkan, ya kita tunggu saja edisi berikutnya, mudah-mudahan bisa jauh lebih baik dari sekarang, saya sebagai user biasa tidak bisa berkontribusi banyak, hanya bisa mengeluh
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
17 Januari 2010
Pada tulisan sebelumnya beberapa waktu lalu, saya sempat mengeluhkan mengenai plugin Browser Sniff yang tidak bisa mendeteksi peramban (browser) Google Chrome saya, setiap kali menggunakan Google Chrome, plugin tersebut mendeteksinya sebagai Safari yang berjalan pada sistem operasi Mac OS X, padahal kadang saya menggunakan Google Chrome versi Linux atau Windows. Hal ini terjadi karena sang pembuat plugin yaitu om Priyadi tidak memperbaharui plugin buatannya itu, sehingga belum bisa mendeteksi peramban Google Chrome yang terhitung baru, dia mendeteksi sebagai Safari karena masih menggunakan render engine yang sama yaitu WebKit. Selain itu, sistem operasi terbaru dari Microsoft yaitu Windows 7 belum terdeteksi oleh plugin ini.
Barusan saya iseng-iseng buka berkas plugin Browser Sniff yang hanya terdiri dari satu buah berkas PHP, ceritanya pengen nyobain otak-atik, siapa tahu bisa memperbaiki ‘bug’ tersebut, setelah beberapa menit melototin kode PHP (yang sama sekali tidak saya mengerti), bermodal logika kecil-kecilan saya simpulkan saja kalau ingin mendeteksi suatu sistem operasi maupun peramban baru, tinggal menambahkan saja entri baru ke barisan kode tersebut, bedanya tinggal bedakan saja “identifier” dari entri tersebut. Setiap peramban memiliki user agent yang bisa memberitahukan jenis peramban, versi maupun sistem operasi yang digunakan, dari data user agent inilah plugin Browser Sniff mengambil data untuk ditampilkan di bagian komentar pada suatu blog berbasis WordPress. nah jika kita ingin menambahkan entri baru, tinggal masukan saja identifier peramban dan sistem operasi yang baru ke entri tersebut, sehingga peramban dan sistem operasi baru bisa dikenali oleh plugin ini.
Langsung saja ke langkah editing, untuk menambahkan fungsi agar bisa mendeteksi peramban Google Chrome, cukup menambahkan baris kode berikut ke berkas:
1
2
3
4
5
6
7
8
9
| } elseif (preg_match('#Chrome/([a-zA-Z0-9.]+)#i', $ua, $matches)) {
$browser_name = 'Google Chrome';
$browser_code = 'chrome';
$browser_ver = $matches[1];
if (preg_match('/Windows/i', $ua)) {
list($os_name, $os_code, $os_ver) = pri_windows_detect_os($ua);
} else {
list($os_name, $os_code, $os_ver) = pri_unix_detect_os($ua);
} |
Nah sekarang tinggal memasukan kode agar plugin tersebut juga bisa mendeteksi sistem operasi Windows 7, kodenya sebagai berikut:
1
2
3
4
| } elseif (preg_match('/Windows NT 6.1/i', $ua)) {
$os_name = "Windows";
$os_code = "windows";
$os_ver = "7"; |
Perhatikan identifier kernel untuk Windows 7 adalah Windows NT 6.1, sehingga apabila user agent peramban memberikan data kernel tersebut, maka akan dikenali sebagai Windows 7. sekarang mari kita lihat hasilnya, setelah di otak atik kodenya, ternyata Browser Sniff berhasil mendeteksi peramban Google Chrome dan sistem operasi Windows 7 seperti terlihat di gambar berikut:

Browser Sniff bisa mendeteksi Google Chrome dan Windows 7
Cukup mudah bukan? anda bisa memasukan/mengetikan kode-tersebut di berkas plugin Browser Sniff dengan menggunakan plugin editor yang ada di WordPress maupun editor teks lainnya, atau jika masih bingung dan takut salah mau menyisipkannya dimana? silakan unduh berkasnya yang telah saya perbaharui disini. selamat mencoba.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan: