20 Desember 2009
Seperti biasanya, menjelang akhir tahun adalah hari-hari istimewa terutama bagi umat Nasrani karena pada tanggal 25 Desember bertepatan dengan hari raya Natal. Di barat (Amerika), Natal identik dengan hadiah-hadiah, terutama bagi anak-anak, bahkan ada satu tokoh khas yang menjadi idola dan imajinasi anak-anak yaitu Santa Claus. Santa adalah tokoh berupa bapak-bapak tua berjenggot panjang yang dipercaya suka memberikan hadiah-hadiah menarik bagi anak-anak dimalam natal.
Nah yang menarik, di Indonesia kita mengenal istilah Sinterklas atau yang lebih tepat ditulis Sinterklaas, sering kali kita salah kaprah dalam menggambarkan Sinterklaas ini. dulu saya beranggapan bahwa Sinterklaas adalah padanan bahasa Indonesia untuk Santa Claus, maklum saya bukan umat Nasrani jadi tidak begitu tahu banyak tentang hal ini, tapi memang tidak asing dengan nama ini.
Tapi tahukah anda, ternyata Sinterklaas dan Santa Claus itu adalah “orang” yang berbeda!? Sinterklaas adalah tokoh yang berasal dari eropa, asal usulnya sendiri melihat dari berbagai sumber memang bermacam-macam, namun karena dulu kita pernah “dijajah” Belanda, maka sinterklaas yang kita kenal sekarang sebenarnya adalah Sinterklaas versi Belanda dan berasal dari Belanda, dari segi penampilan pun Sinterklaas tidak sama dengan Santa Claus, Sinterklaas berpakaian seperti Paus atau Uskup yang menggunakan jubah dan topi lancip bergambar salib, “kemunculan”-nya pun sebenarnya tidak sama dengan Santa, menurut mitosnya Sinterklaas datang dan memberi hadiah pada anak-anak pada malam 5 Desember karena tanggal 6 Desember merupakan hari Sinterklaas.

Sinterklaas
Nah sedangkan Santa Claus adalah tokoh yang berkembang dari budaya Amerika, menurut cerita Santa ini berasal dari kutub, bepergian dengan kereta yang ditarik rusa dan datang pada anak-anak memberikan hadiah pada malam Natal (24 Desember), pakaiannya pun tidak seperti Sinterklaas, Santa memakai jaket tebal merah dan topi kerucut yang berujung bulat putih.

Santa Claus
Sayangnya di Indonesia sendiri memang sepertinya sering terjadi salah kaprah terhadap Sinterklaas dan Santa Claus ini, mengapa? karena biasanya Sinterklaas memang digambarkan sebagai Santa Claus, datang ketika malam natal dan perwujudan-nya pun seringkali digambarkan sebagai Santa Claus, bisa jadi inilah sebabnya saya pun dulu menganggap Sinterklaas=Santa Claus. nah karena sekarang sudah tau bedanya, jadi jangan salah kaprah lagi yah..
Untuk umat nasrani, saya ucapkan Selamat (menjelang) hari Natal.
Referensi (Wikipedia):
note:
mohon maaf jika tulisan ini terdapat kekurangan, mohon koreksi.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
2 Desember 2009
Pernah pakai email kan? atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut surel alias surat elektronik, nah ketika kita membalas suatu surel maka subjek atau judul dari surel tersebut akan diberi awalan (prefix) re: di bagian depannya, misalkan subjek aslinya:
halo apa kabar?
kemudian anda membalas surel tersebut, maka secara otomatis aplikasi klien surel (email client) akan merubah judul/subjeknya menjadi:
re: halo apa kabar?
Nah dari sini pasti banyak yang menyangka kalau re: didepan itu adalah kependekan dari reply (balas), benar kan? terus terang saya juga dulu menganggapnya begitu, tapi setelah membaca tweet dari mas Ivan Lanin, saya juga baru tahu kalau re: itu bukan kependekan dari Reply, tapi dari Rei/Res yang merupakan bahasa Latin yang artinya kurang lebih adalah “perihal”.
Ternyata ketidaktahuan akan arti sebenarnya dari kata Re: itu tidak hanya terjadi pada orang awam seperti kita (anda dan saya tentunya
), tapi juga bagi para programmer di layanan penyedia surel, contohnya Yahoo! mail Indonesia menterjemahkan Re: ini dengan Bls: yang merupakan kependekan dari “balas” – balas adalah terjemahan langsung dari Reply – berarti mereka juga menganggap bahwa Re: ini adalah Reply, iya kan?
Sekarang saya mengerti kenapa beberapa aplikasi klien surel (email client) kadang tidak menampilkan surel secara berurutan (threaded) ketika ada subjek yang berubah dari re: menjadi bls:, karena aplikasi tersebut tidak mengenal prefix re:, makanya ketika ada prefix baru dengan awalan bls: maka ia akan masuk ke thread/percakapan baru, bukan ke thread/percakapan semula, walaupun subjeknya tetap sama. makanya kalau di milis saya kadang suka agak kesal dengan balasan yang berisi subjek dengan prefix bertumpuk seperti "bls: re: bls: bls: re: re: halo apa kabar?", hal ini terjadi karena klien surel tidak mengenal prefix bls: sehingga membuatkannya thread baru, dan hal ini merusak urutan percakapan. jadi kalau memang re: ini merupakan kependekan dari rei/res, seharusnya prefix ini menjadi universal, apapun bahasa pengantar yang kita pakai, sebagai prefix balasan gunakanlah re: agar urutan percakapan tidak berantakan.
Catatan:
Mohon maaf jika anda agak bingung dan tidak terbiasa dengan istilah serapan seperti surel, saya hanya mencoba membiasakan menggunakan Bahasa Indonesia untuk istilah-istilah dalam dunia teknologi informasi.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
25 November 2009
Seberapa seringkah anda sekarang menulis dengan tangan? apakah masih cukup intens? jika dibandingkan, lebih banyak mana mengetik atau menulis? saya sendiri, terus terang sudah sangat jarang menulis, sejak masih sekolah dan kuliah pun saya memang malas mencatat, ditambah sekarang sudah tidak mengalami lagi proses KBM, kegiatan menulis dengan tangan bisa dibilang nol, tidak heran tulisan saya tidak pernah bagus, hehehe….

ilustrasi
Ada hal yg lucu terjadi beberapa hari lalu, ceritanya minggu depan rekan2 sekantor mau mengadakan outbound, nah untuk mengkonfirmasi apakah akan ikut atau tidak disediakanlah tabel absen, hanya tinggal tulis nama dan tanda tangan, yang menarik, saya lihat tidak ada satupun tulisan tangan mereka yang bisa dibilang “bagus”, apakah ini terjadi gara2 mereka memang jarang menulis lagi? atau memang sudah bakat dari sananya tulisannya jelek? yang saya lihat sih memang rekan2 sini sudah jarang menulis, kebanyakan mengetik di komputer/laptop. sepertinya fenomena seperti ini tidak terjadi disini saja, bahkan para mahasiswa pun sekarang sudah mulai jarang yang menulis dengan tangan, adanya laptop memang mempermudah proses kuliah, ketika belajar dikelas kebanyakan sekarang para mahasiswa langsung mengetikkannya di laptop, bukan di buku catatan lagi. Bagaimana dengan anda, masihkah menulis dengan tangan?
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
24 November 2009
Dulu, katakanlah 2-3 tahun lalu, usaha warnet di Jatinangor cukup menjanjikan. Kawasan disini cukup padat terutama oleh para mahasiswa yang merupakan pasar utama bagi pengusaha warnet. waktu itu, warnet tidak sebanyak sekarang, namun kebutuhan mahasiswa akan internet cukup tinggi, tidak heran kadang para mahasiswa harus mondar-mandir mencari warnet yang kosong, waiting list adalah hal yang lumrah. waktu itu, internet broadband masih jarang, hotspot masih sebatas di restoran atau “kedai” kopi mahal di pusat perbelanjaan, yang punya laptop pun masih orang2 kalangan atas.
Sekarang, jumlah warnet semakin banyak, bahkan hampir menyaingi jumlah warung kelontong, tapi ironisnya para pemilik laptop pun semakin banyak seiring dengan semakin murahnya harga perangkat tersebut, pun diikuti oleh banyaknya “titik panas” yang tersedia, mulai dari kampus (sekarang hampir SELURUH wilayah kampus ter-cover hotspot gratis) sampai kedai2 makan dan “warung kopi” pun sudah mulai menyediakan hotspot gratis. o ya satu lagi, sekarang sudah banyak tersedia layanan internet di kostan, baik menggunakan kabel (ADSL, shared) ataupun mobile broadband. jadi, apakah bisnis warnet di Jatinangor ini masih prospektif? kalau dilihat konsumennya sih masih ada, tapi memang tidak sebanyak dulu, sudah jarang saya melihat ada orang duduk dan terdaftar di waiting list, hampir selalu ada komputer nganggur. persaingan semakin ketat, bahkan harga standar pun diturunkan, tapi tetap saja tidak bisa menarik konsumen sebanyak dulu. pasar memang kejam
Tulisan lain yang mungkin berkaitan: