Sulitkah Menggunakan Google?

21 Januari 2010

Kadang saya heran, hari gini, informasi sangat mudah didapat dari internet tapi masih saja ada orang kebingungan mendapatkan informasi di internet. hmm… oke lah jika orang tersebut memang sama sekali tidak bisa menggunakan (mengakses) internet, kita bisa maklumi itu, lantas bagaimana jika orang tersebut bertanaya melalui milis maupun instant messenger? saya asumsikan orang tersebut sudah melek internet, tapi kenapa menanyakan hal kecil saja harus dilempar ke forum milis atau menggunakan japri ke instant messenger? sesulit apa sih menggunakan mesin pencari?

Googling!

Mungkin sampai sini saya tampak arogan, ya bolehlah anda bilang saya demikian, setiap orang boleh berpendapat, tapi saya juga boleh kesal donk? menanyakan alamat website sebuah merek ternama saja harus ke milis? padahal jika kita cari di Google, masukan merek tersebut sebagai kata kunci, tidak sampai 5 detik pasti ketemu, atau mungkin ada kesulitan bagaimana cara menggunakan Google? Baiklah, jika masih ada yang belum mengerti cara menggunakan Google, saya akan bantu sedikit caranya. misalkan kita akan mencari tahu tentang website Canon, bagaimana caranya? silakan klik DISINI. mudah kan? :)

Ada lagi yang bikin saya kesal sama orang-orang seperti itu, sudah nanyanya nggak pake permisi, basa-basi maupun salam, nanya gak penting, terus ketika saya tanya “sudah cari di google?“, dengan entengnya dijawab “males ah, mending tanya aja!“. hmm… oke, saya pun malas menjawab orang pemalas yang tidak mau melakukan hal yang mudah, bahkan lebih mudah daripada menyalakan aplikasi instant messenger dan nge-BUZZ orang sembarangan. iya kan?

catatan:

maaf nih lagi uring-uringan, kalau tidak berkenan, silakan abaikan…

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

Mencari Pemuas Kuping Yang Bagus

20 Januari 2010

Saya suka mendengarkan musik, hidup ini rasanya sepi tanpa musik, ditambah saya yang lebih banyak hidup sendirian dan jarang keluar rumah/kostan membuat saya sering berbetah-betah di kamar sambil mendengarkan alunan lagu. Saya bukan musisi, bukan pula orang yang mengerti musik secara teoritis karena saya tidak pernah belajar musik secara formal. saya hanya pendengar biasa, yang mendapat suatu kepuasan ketika mendengarkan musik, tanpa mengetahui secara mendetail mengenai harmoni, notasi, kunci dan sebagainya.

Untuk mendengarkan musik tersebut memang dibutuhkan sebuah alat bernama speaker atau pengeras suara. nah yang menjadi masalah, beberapa waktu belakangan saya tidak pernah puas dengan pengeras suara yang ada, baik berupa pengeras suara meja (desktop), headphone maupun earphone. Waktu pertama membeli komputer built up Acer, pengeras suara bawaanya sangat jelek, tidak jauh beda dengan pengeras suara generik berharga dibawah 50 ribu rupiah. untunglah kakak saya berbaik hati memerikan saya sebuah pengeras suara yang lebih besar dan bertenaga bermerek Philips lengkap dengan subwoofer. awalnya saya sangat senang karena melihat merek yang cukup ternama mungkin akan memberikan suara yang lebih baik, faktanya ternyata untuk ukuran merek setenar itu dan ukuran pengeras suara yang cukup besar, suara yang dihasilkan bisa dibilang mengecewakan. bukan tidak kencang, tapi tidak jernih dan bersih seperti yang diharapkan, padahal kalau melihat harganya cukup mahal menurut saya, benar-benar kecewa deh…

Pengeras Suara Philips

Untuk mengobati kekecewaan tersebut, saya sempatkan mengumpulkan uang untuk membeli earphone, dari dulu saya memang sudah berniat ingin membeli earphone untuk pemakaian sendiri, maklum di tempat kost kadang tidak enak kalau ingin mendengar musik kencang-kencang tapi takut menganggu tetangga sebelah, earphone menjadi solusi yang oke bagi saya. akhirnya ada juga kesempatan membeli earphone di sebuah toko musik, sekalian membeli CD kalau tidak salah ingat. harga earphonenya sendiri menurut saya cukup mahal, hampir 2x lipat harga CD musik luar. kebetulan waktu itu earphone yang saya beli bermerek sama dengan pengeras suara meja milik saya, yaitu Philips. heran, seperti tidak ada kapoknya saya membeli merk ini, tapi bukan tanpa alasan, produk yang tersedia di toko tersebut memang cuma merek itu, hampir setiap cabang toko tersebut yang saya datangi juga hanya menyediakan merek tersebut.

Ketika saya coba, saya harus menelan kekecewaan lagi, suara dari earphone ‘mahal’ tadi tidak lebih baik dari earphone puluhan ribu yang biasa dijual bersamaan dengan pemutar musik digital buatan Cina. ah… kecewa lagi, entah kenapa merek tersebut kok mengecewakan yah untuk urusan pengeras suara? untung saja saya tidak membeli headphone yang harganya diatas setengah juta, mungkin suaranya juga tidak lebih baik dari ini.

Karena kecewa akhirnya saya jual earphone tersebut ke seorang teman, kebetulan dia sedang butuh earphone. syukurlah teman saya itu menyukainya dan berani membelinya, walaupun harus saya lepas dengan setengah harga. untuk mengobati kekecewaan tadi dan karena saya masih butuh pengeras suara “pribadi” akhirnya uang hasil menjual earphone tadi saya belikan headphone “murah” dengan merek tidak jelas (tidak populer), harganya tidak mahal, masih dibawah 100 ribu rupiah,  yang mengejutkan, suara yang dihasilkan dari headphone murah tadi sedikit lebih baik dari earphone ‘bermerek’ yang sebelumnya saya jual, kekecewaan saya sedikit terobati, dengan harga relatif murah bisa dapat produk yang lumayan bisa memuaskan saya, kenapa tidak dari dulu saja ya?

Shure SE530

Sebenarnya ada satu model pengeras suara yang menjadi target saya, tepatnya sebuah earphone bermerek Shure. seperti yang kita ketahui, Shure adalah merek untuk produk-produk audio profesional, seperti mikrofon maupun pengeras suara kelas studio. namun yang menjadi dambaan saya ini bukan produk profesional, menurut webnya produk ini masuk ke dalam kategori “personal audio“. namun, dasar merek “pro”, ternyata harganya pun tidak murah, sebuah earphone Shure SE530 Sound Isolating Earphones dihargai hampir 500 dollar Amerika, wah… mungkin kalau dirupiahkan bisa mencapai 5 jutaan. setelah tahu harganya akhirnya saya sadar kalau produk tersebut hanya impian belaka, sudah dipastikan saya tidak akan mampu membelinya :(

Saya sebenarnya bukan seorang audiophile yang menuntut kesempurnaan audio, saya hanya ingin suara yang bersih dan jernih saja, walaupun tidak sampai sekelas audio studio maupun audiophile yang penting suara yang dihasilkan cukup bagus. kira-kira ada saran ngga untuk merek pengeras suara yang bagus tapi terjangkau? jangan bilang Simbadda, saya sampai saat ini belum pernah puas dengan pengeras suara Simbadda, mungkin yang agak memenuhi kriteria saya baru Creative dan Altec Lansing, tapi kembali ke harga, kedua merek tersebut memang cukup mahal. ah serba salah, selera (sok) tinggi tapi budget pas-pasan… hehe…

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

Jojoba

27 November 2009

Pernah dengar “Jojoba”? bukan Jomblo-Jomblo Bahagia loh… tapi jojoba oil yang biasanya ada pada produk2 perawatan tubuh, tapi yan kita bahas disini bukan mengenai jojoba oil dan manfaatnya, tapi pelafalan kata “jojoba” itu sendiri. Yang saya tahu (dan menurut wikipedia pun begitu), Jojoba itu dibaca ho-ho-bah bukan jo-jo-ba seperti yang biasa diucapkan dalam iklan2. aneh memang, seharusnya dalam iklan itu menggunakan ejaan baku, bukan asal dengar seperti itu. tidak lucu kan kalu di iklan menyebut Rice dengan “ri-ceu” bukan “rais“?! tapi karena jojoba ini tidak umum, jadi ketika diucapkan “jojoba” pun tidak banyak orang yang ngeh kalau itu salah.

Nama jojoba diambil dari bahasa latin (Mexico, tempat asalnya), dalam bahasa Latin, huruf “J” dibaca “H”, makanya nama Julio dibaca hulio, begitu pun dengan jojoba yang dibaca ho-ho-bah. kesalahan pengucapan yang dianggap lazim seperti ini juga terjadi pada penyebutan nama klub sepak bola Italia, misalnya Juventus seharusnya dibaca yuventus, tapi karena kita sudah terbiasa, bahkan di berita televisi pun mereka masih sering menyebutnya “juventus”. Untunglah ada salahsatu iklan di radio yang pernah saya dengar sudah ngeh dengan kesalahan ini, dalam iklannya mereka menyindir iklan lain yang biasa menyebut “jojoba”, kutipannya kira2 begini:

hah? Jojoba? ho-ho-ba kali!! hahaha…. *tertawa mengejek*

Jadi, mulai sekarang yuk kita pakai pengucapan yang benar, bukan jo-jo-ba, tapi ho-ho-ba(h) :) . oh iya, untungnya Haji Jaja Miharja bukan orang Latin, kalu iya nanti namanya jadi Hahi Haha Miharha donk….hehe… :P *garing*

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

Kategori: Catatan Bebas
Tag: , ,
Komentar: 4 komentar »

Bis Karyawan

23 November 2009

Hampir setiap hari saya pergi ke Bandung naik angkutan umum (bis DAMRI). jarak dari Jatinangor ke Bandung lumayan juga sih, mungkin sekitar 25-30Km-an. awalnya saya merasa sangat berat harus bolak balik tiap hari ke Bandung, bangun pagi, berangkat pagi, tapi lama2 mulai terbiasa juga sih, setelah berpuluh2 kali naik bis DAMRI pada jam yang sama tiap hari, lama2 saya ngeh juga kalo ternyata ada beberapa orang yang hampir tiap hari juga selalu naik bis yang sama. tampaknya mereka memang bekerja di Bandung juga dan harus masuk tepat jam 8, jadi dari Nangor berangkat jam 6.30.

Melihat banayak yang senasib, saya jadi merasa tidak terlalu berat lagi, ternyata saya tidak sendiri, banyak juga orang2 yang tinggal di jatinangor tapi harus bekerja di Bandung, *cari duit itu susah jendral!!*. sebenarnya “pasar” utama dari bis jatinangor-dipati ukur (bandung) adalah mahasiswa, karena kedua titik pemberhentian tersebut bertepatan dengan kampus Unpad (kampus Jatinangor dan Bandung), tapi kalau pagi2 memang sedikit mahasiswa yang naik, kebanyakan para karyawan yang bekerja di Bandung yang naik DAMRI ini, makanya, karena tiap hari orangnya hampir sama itu2 saja, jadi berasa naik bis karyawan, hehe…

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

Kategori: gak penting
Tag: , , ,
Komentar: 3 komentar »
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes