“The Hurt Locker” from Mie’s Sight
11 Maret 2010Secara mengejutkan, film yang tidak begitu heboh memenangkan penghargaan Academy Award 2010; “The Hurt Locker”. Film ini mengalahkan “Avatar” yang begitu digembar-gemborkan sebelumnya. Saya termasuk orang yang terkejut juga oleh kemenangan film yang tidak disangka-sangka ini, apalagi saya memang belum pernah mendengar tentang film ini sebelumnya. Dalam tulisan ini, saya akan mengulas film ini dari persepsi saya pribadi, dari seorang awam film yang kebetulan menyukai tema militer dari film ini.
Overiew
Plot dari film ini sendiri menceritakan tentang satu tim penjinak bom atau EOD (explosive ordnance disposal) US Army yang bertugas di Irak. Di awal cerita, tim ini kehilangan satu anggota-nya karena terkena ledakan bom. Seorang anggota pengganti didatangkan dan masuk kedalam tim kecil yang terdiri dari tiga orang ini, orang baru yang bernama William James ini rupanya agak nyeleneh, dia seperti penantang maut, menikmati pekerjaannya yang penuh resiko dan selalu membangkang. Namun dibalik sifat keras kepalanya ini, dia memang seorang penjinak bom yang hebat, semua misi dilaksanakannya dengan sukses. Sederhananya film yang termasuk genre drama ini adalah menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari tim EOD di medan perang, bagaimana pergolakan emosi mereka, ketakutan menghadapi kematian, dilema, dll. Namun alur “sederhana” itu dikemas dengan apik oleh sineas Kathryn Bigelow yang mendapat penghargaan sutradara terbaik di Academy Award kemarin.
Jika anda berharap akan menemukan adegan perang seru ala film “Rambo” dengan tokoh jagoan yang tak terkalahkan, anda akan kecewa. Tidak ada adegan one man show di film ini, semua tersaji begitu dramatis dan realistis. Perasaan was-was, tegang, takut dan getir berada dalam medan perang sangat terasa disini. Bagaimana emosi seorang prajurit yang begitu terguncang di medan perang tergambarkan dalam film ini. maka dari itu film ini lebih cocok disebut film drama daripada film perang karena lebih mengangkat sisi emosi dari karakternya dan mengedepankan cerita yang kuat dibanding dengan visual effect yang dahsyat maupun adegan-adegan seru menegangkan.
Sinematografi
Dari sisi sinematografi, film ini cukup unik. Pengambilan gambar menggunakan teknik ala film dokumenter dengan ciri khas kamera yang bergoyang-goyang dan zooming yang terkadang terkesan mendadak dan spontan. Namun “gambar goyang” tersebut tidak terkesan “amatir” seperti yang terdapat dalam film “Cloverfield”, “Paranormal Activity” atau “Blair Witch Project” yang memang sengaja dibuat seolah-olah film tersebut adalah rekaman asli dari video amatir yang dibuat tokohnya. Dalam “The Hurt Locker” kesan Hollywood masih terasa, hanya teknik kamera bergerak-nya saja yang menjadi khas, mungkin apabila mencari film sejenis, trilogi Jason Bourne bisa jadi rujukan.
Dalam pengambilan gambar sebagian besar adegan dalam film, kru film memilih menggunakan kamera film super 16mm yang lebih kompak dibanding kamera “full sized” 35mm yang umum digunakan dalam film Hollywood. Hal ini bukan tanpa alasan, kamera 35mm ukurannya tidaklah kecil dan sangat berat (mencapai belasan kg jika full gear), sehingga tidak mungkin bisa diangkat sendirian oleh kameraman yang akan mengambil gambar dengan teknik ala handycam. Pengaruh penggunaan kamera super 16mm (yang tentu saja kualitasnya dibawah 35mm) cukup terlihat pada gambar yang dihasilkan, gambar film tampak lebih grainy (terlihat “serbuk” film) dibanding film lain, hal ini akan jelas terlihat apabila anda menikmatinya dalam format High Definiton Video ataupun di layar bioskop.
The Gears
Ini bagian yang paling saya suka: Military Gears! Terus terang hal ini menjadi salah satu alasan terkuat saya untuk menonton film ini selain karena telah memenangkan Oscar. Bagi pecinta dunia militer, menonton film ini seperti surga, banyak gear-gear keren dan modern tampak di film ini, mulai dari Seragam baru US Army yang keren lengkap dengan segala aksesorisnya, Senapan M4 sampai mobil jip Humvee.
Di awal adegan film, tampak personel EOD sedang mengoperasikan robot penjinak bom keluaran Remotec yang merupakan produk dari Northrop Grumman. Jip-jip Humvee lapis baja yang gagah, serta beberapa APC (armored personal carrier) tampak di beberapa adegan. Penggunaan seragam baru US Army yaitu ACU (army combat uniform) lengkap dengan rompi, helm dan segala aksesorisnya juga menjadi daya tarik tersendiri. Penampakan senapan serbu standar infantri AS Colt M4 juga sangat dominan di film ini, tampak para personel US Army menenteng M4 dengan aksesoris modular SOPMOD seperti telescopic butt-stock, forward grip dan red dot sight. Senapan sniper berat Barrett M82 kaliber .50 juga tidak lupa ikut nampang di film ini. Senapan mesin klasik M2 Browning yang terpasang di atap Humvee juga tidak luput dari perhatian saya.
Dari sisi para pemberontak Irak sendiri, senapan wajib pastinya AK-47. Sekelompok tentara bayaran (mercenary) yang ditemui tim EOD di tengah gurun juga terlihat menenteng AK-47 dan variannya. Kehadiran karakter mercenary dalam film ini juga cukup menarik, dari segi pakaian dan gear yang dipakai, cukup menggambarkan bagaimana penampilan para mercenary yang sebenarnya.
The Goofs
Tak ada gading yang tak retak, film ini pun sebenarnya tidaklah sempurna, banyak ‘cacat’ disana-sini namun beberapa masih bisa dimaklumi. Tapi dari sekian kesalahan dalam film ini, ada beberapa goof yang cukup mencolok. Salahsatu “keteledoran” dari pembuat film ini adalah digunakannya seragam baru US Army yaitu ACU sebagai seragam bagi para tentara yang ada dalam film, kenapa? Setting film ini adalah tahun 2004, sedangkan seragam ACU baru dipakai secara resmi tahun 2005. Hal kedua yang menjadi celah film ini adalah kesalahan memilih properti untuk jip Humvee yang digunakan. Humvee yang dipakai personel US Army dalam film ini adalah Humvee yang seharusnya digunakan oleh US Marine Corpse, ciri khasnya adalah adanya cerobong udara yang terlihat tegak berdiri di kap mesin. Untuk Korps Marinir, memang dibutuhkan humvee yang bisa “berenang” sehingga menggunakan cerobong udara keatas untuk sirkulasi udara mesin, tapi tidak untuk Army.
Kesimpulan
Secara keseluruhan film ini cukup bagus, tapi bagi saya tidak terlalu impresif. Saya tidak merasa harus menonton film ini berkali-kali, tidak seperti film Black Hawk Down misalnya yang bisa saya tonton berkali-kali tanpa merasa bosan. malah di beberapa adegann film ini terasa sangat membosankan, ya mungkin karena saya kadang agak susah mencerna film “berat” yang lurus dan nyaris tanpa klimaks. Tapi saya percaya pada para juri Academy Award, mereka memilih film ini menjadi yang terbaik pasti bukan tanpa alasan. Bagi anda yang belum menonton, tidak ada salahnya untuk meluangkan waktu menontonnya, karena tiap orang pasti punya pandangan sendiri terhadap film ini.
Tag: Entertainment, interest, military, militer, movie, review
Komentar: 9 komentar »


