9 Maret 2010
Masih ingat film Black Hawk Down? Film perang buatan tahun 2001 yang menceritakan tentang operasi Gothic Serphent di Mogadishu, Somalia yang dilakukan pasukan gabungan AS pada tahun 1993 yang berakhir kacau dengan jatuhnya dua helikopter Black Hawk dan banyak korban tewas. Film ini diangkat dari kisah nyata dan ceritanya diadaptasi dari buku dengan judul yang sama. Bagi saya film ini sangat bagus, detail dan (hampir) akurat, setidaknya jika dibandingkan kisah-kisah yang diceritakan di buku atau media lain, ceritanya sangat detail dan persis.
Dari sekian banyak karakter dan drama yang ada dalam film itu, ada dua orang prajurit yang tewas dari satuan 1st Special Forces Operational Detachment-Delta atau yang lebih dikenal dengan Delta Force yaitu Master Sergeant Gary Gordon dan Sergeant First Class Randall ‘Randy’ Shughart. Kedua prajurit ini layak disebut sebagai pahlawan, mereka tewas saat berusaha menyelamatkan pilot dari super six-four, Black Hawk kedua yang jatuh.

Gary Gordon dan Randy Shughart
Berawal dari operasi yang dianggap sederhana dan mudah, misinya yaitu “hanya” menangkap beberapa petinggi dari kaki tangan M. Farrah Aidid, penguasa dari pemberontak Somalia saat itu. Misi pasukan AS sendiri disitu bisa dibilang cukup “bersih” dari kepentingan politik dan pribadi karena keberadaan mereka murni sebagai pasukan perdamaian PBB. Namun operasi yang tampak mudah dan (salahnya) dilakukan siang hari itu berakhir kacau, dengan amunisi dan kendaraan tempur seadanya, ternyata pasukan AS mendapat perlawanan sengit dari para milisi Somalia yang berbaur dengan warga, operasi “penculikan” pun berakhir sengit, banyak korban tewas dari kedua belah pihak, puluhan dari pasukan AS dan (katanya) ribuan dari warga dan milisi.
Operasi mulai kacau ketika satu helikopter Black Hawk, super six-one jatuh dihantam RPG, ketika usaha evakuasi dilakukan, helikopter kedua yaitu super six-four juga ikut jatuh dihantam RPG lainnya. Super six-four dipiloti oleh Mike Durant, seorang pilot dari satuan 160th SOAR (special operation aviation regiment) atau yang lebih dikenal dengan Night Stalker.

Mike Durant
Dari atas, dari sebuah helikopter Black Hawk lainnya, dua orang sniper Delta Operator (anggota Delta Force) yaitu Randy Shughart dan Gary Gordon melihat masih ada tanda-tanda kehidupan dari Mike Durant di bangkai Black Hawk yang jatuh, mereka berinisiatif untuk menolongnya dan melakukan evakuasi, namun permintaan mereka ditolak oleh atasan mereka, Jendral Garrison karena ditakutkan malah akan menambah korban jatuh lainnya, namun setelah sedikit “memaksa” akhirnya disetujui dan mereka didrop di crash site dan melakukan covering terhadap Durant.
Berbekal Senapan M-14 dan CAR-15 (keluarga M4/M16) mereka membuat perimiter (perlindungan) dengan menembak ke arah para milisi yang terus merangsek masuk ke wilayah crash site, Mike Durant pun melakukan sedikit perlawanan dengan submachine gun MP-5 yang memang menjadi senjata standar bagi pilot. Mereka terus melawan dengan amunisi seadanya, namun akhirnya habis juga, Randy dan Gary akhirnya tewas tertembak saat melindungi Mike Durant.
Tidak hanya tewas tertembak, jenazah mereka diarak massa dan bahkan dimutilasi. Adegan ini tidak digambarkan dalam film, dalam “Black Hawk Down” hanya diperlihatkan jenazah mereka dianggat oleh massa namun tidak ada kelanjutannya, memang dalam film porsi untuk kejadian ini sangat sedikit, mungkin karena faktor durasi dan harus berbagi cerita dengan adegan lainnya.
Walaupun demikian, bagi saya tindakan heroik mereka patut dihargai, kedua prajurit ini benar-benar pahlawan, tanpa mempedulikan keselamatan mereka, kedua anggota pasukan khusus ini mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Mike Durant yang sudah terluka parah hingga mereka tewas dengan sangat mengenaskan, mereka benar-benar menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati dan menuruti perintah atasan. sebelum berangkat, Jendral Garrison sempat berujar kepada para anggotanya, “No one left behind”, artinya jangan meninggalkan seorangpun di medan perang, bahkan sekalipun sudah tewas.
Perjuangan mereka memang tidak sia-sia, Mike Durant akhirnya memang selamat, namun dia diculik oleh para Milisi sebagai jaminan, namun akhirnya dibebaskan beberapa minggu kemudian. Kedua anggota Delta yang tewas tadi mendapat penghargaan Medal Of Honor dari pemerintah yang merupakan penghargaan tertinggi dalam militer AS. Mereka memang sangat pantas mendapatkannya.
Akhir dari drama pertempuran ini memang cukup menyesakkan AS sehingga sampai saat ini AS tidak mau lagi berpartisipasi dalam pasukan perdamaian PBB, para tentara AS sendiri yang terjebak di medan perang akhirnya bisa dibebaskan dengan datangnya bantuan dari pasukan 10th Mountain Division US Army dibantu kendaraan lapis baja dari pasukan Pakistan dan Malaysia.
Battle of Mogadishu meninggalkan luka mendalam bagi pasukan AS, perhitungan yang salah dan menganggap enteng medan perang memang harus dibayar mahal, bahkan operasi yang dilakukan siang hari itu banyak diragukan oleh para tentara yang ikut dalam operasi, menurut mereka seharusnya operasi ini dilakukan malam hari (dan memang itulah yang biasa dilakukan pasukan khusus), namun operasi tetap dilakukan siang hari mengingat penggerebekan dilakukan pada saat para kaki tangan Aidid itu tengah melakukan rapat. Bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur dan kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi pasukan AS kedepannya.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
4 Maret 2010
Dulu ketika format VideoCD mulai muncul, saya sudah cukup puas dengan gambar yang dihasilkan, memang waktu itu pun saya tidak memperhatikan seberapa besar resolusinya, yang jelas tampak sama saja di televisi saya, tidak ada bedanya dengan film-film yang disiarkan televisi. tapi setelah dilihat di layar komputer baru kelihatan “aslinya”, ternyata resolusinya rendah, tepatnya 352×240 untuk NTSC dan 352×288 untuk PAL.
Kemudian beberapa tahun kemudian munculah format video dalam bentuk DVD, resolusinya memang lebih tinggi dari VCD yaitu 720×576 untuk PAL dan 720×480 untuk NTSC. Ketika saya bandingkan dengan resolusi video dari siaran televisi rasanya memang DVD ini lebih bagus, ya memang faktanya demikian karena resolusi siaran televisi tidak jauh beda dengan VCD. Sampai saat itu, saya menganggap bahwa resolusi terbaik untuk video ya setara DVD ini dan sempat berpikir bahwa resolusi “asli” dari film pun memang segini, karena gambar yang dihasilkan begitu tajam, rasanya tidak mungkin bisa lebih tajam lagi dari ini.
Kemudian munculah format High Definition Video atau lebih dikenal dengan HD saja. Format ini ternyata memiliki resolusi yang lebih tinggi dari DVD, secara umum ada dua format populer untuk HD video yaitu 720i dan 1080i. 720i memiliki resolusi 1280×720 interlaced (i dari kata interlaced) sedangkan 1080i adalah1440×1080 interlaced. Sampai disini saya kembali berpikir, “wah kok bisa yah ada video dengan resolusi setinggi ini? kameranya seperti apa?”, saya bertanya demikian karena berpikir sebelumnya kalau kamera film saja resolusinya setara DVD, berarti kamera untuk HD ini pasti lebih hebat lagi? dan ternyata, sampai disini saya salah lagi….!!

RED Digital Cinema Camera
Sampai saat ini sebagian besar proses pembuatan “film” masih menggunakan kamera dan media film (seluloid) untuk merekamnya, bukan dengan kamera digital. Saya sempat penasaran, kok di jaman modern begini masih menggunakan film sebagai media rekam? ternyata kualitas gambar yang dihasilkan film belum tertandingi sampai saat ini. Memang kita tidak bisa membandingkan secara langsung antara film vs digital ini karena formatnya yang berlainan, namun kalau misalkan saja diukur dengan satuan pixel, maka resolusi yang dihasilkan film 35mm itu setara 22 megapixel, atau bahkan lebih tergantung dari kualitas kamera, lensa dan filmnya itu sendiri. Bandingkan dengan video HD dengan resolusi 1440×1080 pixel saja jika dikalikan hanya menjadi 1.5 megapixel, tidak sampai 10% dari resolusi film.
Singkatnya, jika suatu saat nanti ada teknologi lebih tinggi yang dapat menghasilkan resolusi video yang lebih besar (misalkan 4 megapixel), film-film lama masih bisa direproduksi untuk dijadikan video dengan resolusi sebesar itu, karena “master” dari film-film itu sendiri ada dalam bentuk film (seluloid) yang beresolusi lebih tinggi, sehingga gambar yang dihasilkan masih dalam keadaan baik, bukan hasil perbesaran atau interpolasi.
Namun disisi lain, dunia perfilman tidak lepas dari sentuhan teknologi digital. saat ini sudah ada beberapa produsen kamera yang membuat kamera digital untuk film. Kamera film digital tidak sama dengan kamera video, film-film berbudget rendah seperti film-film Indonesia biasanya melakukan shooting dengan kamera video yang biasa digunakan untuk dunia broadcast (televisi) yang nantinya setelah proses post-production baru diblow-up ke film seluloid untuk disajikan di proyektor bioskop. Kamera film digital memiliki kualitas lebih baik dari kamera video, resolusi yang sangat tinggi dan lensa yang berkualitas. Tujuan dari kamera film digital sendiri memang untuk menggantikan kamera film konvensional bukan untuk dunia broadcast, sehingga standarnya pun disesuaikan untuk kebutuhan film, termasuk aksesorisnya misal rel, lensa, dll.
Salahsatu produsen kamera film digital yang terkenal adalah RED. Sudah cukup banyak film sukses yang dibuat dengan kamera digital RED ini, diantaranya Slumdog Millionaire, Jumper, Knowing, Angels & Demon, District 9, The Lovely Bones, dll. Sepintas memang gambar yang dihasilkan oleh kamera film digital ini sama saja dengan hasil dari kamera film, hal ini wajar saja, karena kebanyakan film walaupun mengambil gambar menggunakan film, tapi untuk proses editing biasanya film-film “mentah” tadi discan dalam bentuk digital dalam format 2K, sedangkan kamera RED mampu merekam bahkan sampai format 4K, sehingga pada akhirnya resolusi yang dihasilkan bisa setara. sebagai perbandingan ukuran resolusi video DVD, HD, 2K atau 4K silakan lihat gambar ilustrasi dibawah ini.

Perbandingan Resolusi Video Film (klik untuk memperbesar)
Dari gambar diatas bisa dilihat kalau format DVD (kotak paling kecil) tidak ada apa-apanya dibanding format film. ukuran yang paling besar (berwarna merah) adalah format 28K yang rencananya akan dikembangkan oleh RED. Maksud dari “K” disini adalah kilo atau ribu pixel untuk ukuran resolusi horizontal. jadi 28K artinya video tersebut memiliki resolusi 28.000×9.334 pixel atau total sekitar 261 megapixel, angka yang sangat besar untuk ukuran video, bahkan untuk foto pun masih sangat jarang yang bisa mencapai angka sebesar itu.
Dari sini saya akhirnya mengetahui kalau standar format video untuk film itu adalah sangat tinggi. baik film ataupun digital sama-sama memiliki resolusi yang sangat tinggi. tidak heran mengapa ketika muncul format video baru untuk kalangan rumahan (VCD, DVD dan HD) tidak menjadi kendala untuk sebuah film (bahkan untuk film keluaran tahun 70an) dirubah kedalam format tersebut karena format aslinya memang jauh lebih besar.
Catatan:
Uraian diatas hanyalah penjelasan secara awam dari saya yang mempelajari teknis format film hanya dalam satu malam saja, jika ada kesalahan atau kekurangan mohon koreksinya. Terima Kasih.
Sumber gambar: Wikipedia
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
31 Januari 2010
Untuk meningkatkan kemampuan para pilotnya, militer Amerika serikat seringkali mengadakan latihan rutin, salahsatu latihan yang cukup penting adalah latihan tempur udara. Agar kemampuan tempur para pilot semakin tajam, simulasi tempur yang mendekati kondisi nyata kerap kali dilakukan, untuk mendukung latihan tersebut dibutuhkan pemeran “musuh” yang biasa disebut Aggressor. Amerika Serikat sendiri memiliki skadron khusus yang tugasnya cukup spesifik yaitu sebagai aggressor dalam tiap latihan. saking khususnya, pesawat-pesawat yang dimiliki skadron-skadron ini dicat khusus pula menyerupai pesawat-pesawat yang dimiliki para “musuh” Amerika seperti Rusia, Iran, Korea Selatan maupun Cina. Saat ini AS memiliki 3 skadron aggressor di AU, 3 di AL dan 1 di Marinir.

Jet aggressor swasta Top Aces
Jika dibandingkan dengan jumlah total pesawat tempur yang dimiliki AS, jelas jumlah skadron aggressor tersebut dirasa sangat kurang sehingga tidak bisa “melayani” seluruh latihan yang diadakan skadron-skadron tempur AS yang banyak itu. Untuk menutupi kekurangan itu tidak jarang militer AS mengontrak pihak swasta untuk turut serta dalam latihan tempur. Di Amerika dan Kanada ternyata ada beberapa perusahaan yang khusus bergerak di bidang “penyewaan aggressor“, bentuk bisnisnya sendiri menurut saya cukup unik, perusahaan-perusaahan ini membeli pesawat tempur bekas militer dari berbagai negara, menyewa (mempekerjakan) mantan-mantan pilot tempur sebagai pilot di perusahaan mereka, kemudian perusahaan ini nantinya dikontrak (outsource) oleh militer sebagai “aggressor” dalam latihan tempur. Kenapa memilih pihak swasta, bukannya dari pihak militer sendiri masih banyak? kadangkala, pesawat-pesawat tempur reguler (non aggressor) cukup sibuk menjalankan misi perang (sungguhan) di luar sana, selain itu pilot-pilot ’swasta’ ini kemampuannya tidak kalah jago dari pilot-pilot militer menjadikannya tantangan tersendiri bagi para penerbang militer sebagai lawan tanding.
Saat ini setidaknya ada empat perusahaan swasta yang biasa dikontrak oleh Militer AS sebagai rekanan aggressor, yaitu ATAC, TopAces, ATSI dan Hunter Team. Keempat perusahaan ini menyediakan armada jet tempur mereka untuk membantu latihan tempur militer AS seperti AU, AL dan Marinir. Pesawat-pesawat yang mereka miliki biasanya berbeda dengan yang dimiliki militer AS saat ini karena biasanya pesawat-pesawat ini didapat dari negara lain (non AS) atau bekas pakai AS yang sudah nonaktif. tapi perbedaan jenis pesawat ini justru menjadikan “sensasi” sendiri ketika latihan, simulasi tempur akan terasa lebih “nyata” karena lawan mereka benar-benar asing.
Bagi kita di sini mungkin akan merasa sedikit aneh dan janggal ketika melihat pesawat jet tempur tetapi dimiliki oleh sipil (swasta) dan memiliki marking logo perusahaan bukannya logo skadron seperti yang biasa kita lihat, tapi di Amerika (dan Kanada) hal tersebut sudah lumrah, bahkan masih banyak perusahaan lain yang memiliki pesawat-pesawat tempur bekas militer yang disewakan ke warga sipil sebagai paket “tamasya” atau aerobat (atraksi udara). Jika penasaran daftarnya bisa dilihat disini. Berbeda dengan perusahaan rekanan aggressor, perusahaan-perusahaan ini menyewakan pesawatnya untuk wisata warga sipil, bukan sebagai rekanan latihan perang.
Kira-kira di Indonesia ada nggak yah perusahaan semacam ini? setahu saya sih belum ada, tapi entahlah, saya sendiri belum tahu persis. kalaupun ada, mungkin tidak akan laku, melihat kondisi AU kita sendiri yang kekurangan dana, jangankan untuk mengontrak pihak swasta, untuk operasional dan pengadaan pesawat di AU sendiri saja masih sangat sulit, tapi kalau target pasarnya negara luar sih bisa saja. namun yang perlu diingat, walaupun bekas, harga jet-jet tempur ex-militer itu tidak murah, tidak jarang masih di kisaran belasan atau bahkan puluhan juta dollar, jadi memang ini bukan bisnis kecil-kecilan.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
22 Desember 2009
Oke, kali ini saya cuma mau curhat saja, tentang musik tepatnya. terus terang saya bukan musisi, saya sama sekali tidak bisa memainkan satupun alat musik, mungkin paling banter ya tamborin (kecrek), hehe…. tapi saya adalah pecinta musik, pendengar musik, saya tidak bisa kalau tidak mendengarkan musik samasekali dalam satu hari, walaupun tidak begitu mengerti apa itu musik, harmoni, genre, dll. yang penting musik bisa membuat saya “on” setiap hari.
Saat ini satu2nya media untuk mendengarkan musik adalah dari komputer, mp3 player dan handphone yang bisa memutar musik punya saya sudah rusak, memang sekarang saatnya untuk membeli kembali, tapi dari segi finansial belum mencukupi
.
Entah kenapa, rasanya jika tidak mendengarkan musik saya merasa gelisah, males ngapa2in dan bawaannya mencari alat (komputer, hp, mp3 player) untuk bisa memutar musik, mungkin seperti orang sakaw obat-obatan, terdengar berlebihan tapi begitulah adanya.
Mungkin kalau anda termasuk salahsatu follower saya di twitter, akan cukup bosan membaca tweet saya tentang musik dan artis, terutama seputar musik country, yah…karena musik itulah yang saya suka, saya kadang terlalu excited mendengarkan suatu musik, jadi bawaanya pengen menumpahkan “unek-unek” saya itu di twitter, kadang berupa pujian, berita, rekomendasi atau bahkan sekedar memberitahukan lagu apa yang sedang saya dengar sekarang dengan menambahkan hashtag #nowplaying. seperti yang dikatakan Sophie Ellis Bextor dalam lagunya, music gets the best of me… yes, it’s so true!
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
20 Desember 2009
Seperti biasanya, menjelang akhir tahun adalah hari-hari istimewa terutama bagi umat Nasrani karena pada tanggal 25 Desember bertepatan dengan hari raya Natal. Di barat (Amerika), Natal identik dengan hadiah-hadiah, terutama bagi anak-anak, bahkan ada satu tokoh khas yang menjadi idola dan imajinasi anak-anak yaitu Santa Claus. Santa adalah tokoh berupa bapak-bapak tua berjenggot panjang yang dipercaya suka memberikan hadiah-hadiah menarik bagi anak-anak dimalam natal.
Nah yang menarik, di Indonesia kita mengenal istilah Sinterklas atau yang lebih tepat ditulis Sinterklaas, sering kali kita salah kaprah dalam menggambarkan Sinterklaas ini. dulu saya beranggapan bahwa Sinterklaas adalah padanan bahasa Indonesia untuk Santa Claus, maklum saya bukan umat Nasrani jadi tidak begitu tahu banyak tentang hal ini, tapi memang tidak asing dengan nama ini.
Tapi tahukah anda, ternyata Sinterklaas dan Santa Claus itu adalah “orang” yang berbeda!? Sinterklaas adalah tokoh yang berasal dari eropa, asal usulnya sendiri melihat dari berbagai sumber memang bermacam-macam, namun karena dulu kita pernah “dijajah” Belanda, maka sinterklaas yang kita kenal sekarang sebenarnya adalah Sinterklaas versi Belanda dan berasal dari Belanda, dari segi penampilan pun Sinterklaas tidak sama dengan Santa Claus, Sinterklaas berpakaian seperti Paus atau Uskup yang menggunakan jubah dan topi lancip bergambar salib, “kemunculan”-nya pun sebenarnya tidak sama dengan Santa, menurut mitosnya Sinterklaas datang dan memberi hadiah pada anak-anak pada malam 5 Desember karena tanggal 6 Desember merupakan hari Sinterklaas.

Sinterklaas
Nah sedangkan Santa Claus adalah tokoh yang berkembang dari budaya Amerika, menurut cerita Santa ini berasal dari kutub, bepergian dengan kereta yang ditarik rusa dan datang pada anak-anak memberikan hadiah pada malam Natal (24 Desember), pakaiannya pun tidak seperti Sinterklaas, Santa memakai jaket tebal merah dan topi kerucut yang berujung bulat putih.

Santa Claus
Sayangnya di Indonesia sendiri memang sepertinya sering terjadi salah kaprah terhadap Sinterklaas dan Santa Claus ini, mengapa? karena biasanya Sinterklaas memang digambarkan sebagai Santa Claus, datang ketika malam natal dan perwujudan-nya pun seringkali digambarkan sebagai Santa Claus, bisa jadi inilah sebabnya saya pun dulu menganggap Sinterklaas=Santa Claus. nah karena sekarang sudah tau bedanya, jadi jangan salah kaprah lagi yah..
Untuk umat nasrani, saya ucapkan Selamat (menjelang) hari Natal.
Referensi (Wikipedia):
note:
mohon maaf jika tulisan ini terdapat kekurangan, mohon koreksi.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan: