Sudah lama terpikir oleh saya ingin membuat suatu halaman yang berisi rangkuman “kegiatan” saya di internet, misal blog post, video post, bookmark post, status, dll. tapi karena malas yang selalu mendera *beuh* niat untuk membuat halaman tersebut tidak jadi-jadi, akhirnya hari ini karena benar2 ngga ada kerjaan dan ga ada teman, saya iseng2 bikin dengan memanfaatkan plugin WordPressLifestream.
Tadinya saya ingin membuat satu halaman khusus di blog ini untuk dijadikan halaman Lifestream ini, tapi dipikir2 mending membuat satu web independen saja, karena disana isinya tidak hanya rangkuman dari blog ini, tapi dari semua blog yang saya punya plus “laporan” dari beberapa jejaring sosial dan situs2 layanan internet lainnya, jadi biar adil akhirnya saya buat terpisah. bermodal satu instalasi baru WordPress dan plugin Lifestream serta theme yang sederhana, setelah otak-atik sekitar 3 jam, akhirnya situs tersebut selesai juga, anda bisa melihatnya disini.
Nah, dengan adanya halaman Lifestream ini, jika ingin “mengikuti” jejak saya tidak usah susah-susah, tinggal lihat saja di halaman tersebut, maka semua “catatan” kegiatan saya di dunia maya terekam disana, asik kan? *kepedean, berasa populer, hehe…*, web ini benar2 hanya terdiri dari satu halaman, masalah desain, jangan tanya, masih tetap sederhana dan minimalis seperti biasa. halaman tersebut akan terupdate secara otomatis apabila saya melakukan update di blog, jejaring sosial seperti Last.fm, Tumblr, Twitter, Twitpic, dll. juga dari layanan multimedia seperti Youtube, vimeo, Picasa, Flickr, dll. tidak lupa bookmark yang saya simpan di Delicious juga akan masuk ke Lifestream itu. tujuan utamanya sebenarnya sih untuk arsip pribadi saja, tapi jika memang bisa bermanfaat juga untuk orang lain, kenapa tidak?!
Lagi-lagi sang raksasa internet, Google, mengeluarkan produk baru, kali ini berupa layanan mobile bernama Google Goggles. Google Goggles adalah layanan pencarian untuk perangkat mobile berbasis Android. Dengan Google Goggles, untuk mencari tahu sesuatu dengan Google anda tidak usah mengetik apapun, cukup arahkan kamera ke objek yang ingin dicari informasinya, misalnya buku, foto, lukisan, tempat (gedung, toko, landmark, dll), atau bahkan teks dari kartu nama, setelah itu Google Goggles akan mencari informasinya dengan mencocokan gambar yang diambil dengan database pencarian dari Google. Masih bingung? mungkin video berikut bisa memberi gambaran lebih jelas….
Selain itu, Google Goggles memungkinkan untuk menampilkan informasi secara realtime dengan memanfaatkan kamera dan GPS, ketika anda mengarahkan kamera ke suatu tempat, misalnya sebuah toko, secara realtime data mengenai toko tersebut ditampilkan oleh Google Goggles (ilustrasi bisa dilihat pada video diatas), waw! canggih sekali bukan?!
Sayangnya penggunaan Google Goggles ini masih terbatas pada perangkat mobile yang berbasis sistem operasi Android saja yang memang dikeluarkan oleh Google sendiri, entahlah kedepannya apakah akan mendukung perangkat lain seperti iPhone atau BlackBerry atau memang eksklusif untuk Android saja, namun yang saya lihat, Google Goggles ini merupakan salahsatu terobosan Google yang luar biasa. Hebat, salut untuk Google .
Hari ini, bertepatan dengan hari anti korupsi, tiba-tiba saya mendapatkan sebuah surel (email) dari Google, memberitahukan bahwa Google Chrome for Linux and Mac sudah tersedia untuk publik dalam versi Beta . Saya sendiri memang sudah cukup lama menggunakan Google Chrome ini pada Linux, namun saat itu saya mendapat tautan untuk mengunduhnya melalui “jalan belakang”, dari tautan untuk para pengembang (developer), bukan untuk umum. versinya pun belum versi Beta, masih alpha kalau tidak salah, dan nama paket di Linux-pun masih bernama google-chrome-unstable. saat itu, jika anda menggunakan Mac atau Linux kemudian membuka situsnya, maka hanya akan tertampil informasi mengenai akan adanya Google Chrome versi Linux dan Mac namun tidak memberikan tautan untuk mengunduh (karena belum dilepas untuk publik).
Karikatur Google Chrome
Hari ini secara resmi Chrome untuk Mac dan Linux diluncurkan dalam versi beta, anda bisa mengunduhnya langsung dari situsnya (ya! sekarang mereka telah menyediakan tautan unduh disana ), bagi yang penasaran silakan mencobanya. Google Chrome adalah perambah (browser) yang dikembangkan oleh Google yang merupakan pengembangan dari Chromium, perambah bersumber terbuka (open source) yang menggunakan Layout Engine Webkit sama seperti yang digunakan oleh perambah Safari dari Apple yang awal mulanya berasal dari layout engine KHTML yang digunakan pada perambah Konqueror yang terdapad di dekstop KDE (Linux, Unix, BSD).
Saya sendiri baru saja menginstall ulang Google Chrome di sistem Ubuntu saya, ternyata ketika menginstall tidak bisa menimpa begitu saja instalasi yang sudah ada, karena sebelumnya saya menggunakan google-chrome-unstable, sehingga terjadi konflik, proses instalasi meminta untuk menghapus terlebih dahulu instalasi lama, setelah itu baru Google Chrome Beta ini bisa dipasang di komputer saya. Fitur yang paling terasa dari versi sebelumnya adalah dukungan terhadap Extension yang lebih baik, sekarang sudah tersedia cukup banyak extension untuk Chrome, anda bisa melihat-lihatnya disini. Dengan adanya fitur extension ini, Google Chrome akan semakin canggih dan fungsional, tidak kalah dengan perambah Firefox, selain itu fitur penggantian kulit (skin) pun sekarang sudah tersedia (yang ini memang sudah ada cukup lama), jadi tidak usah khawatir dengan tampilan aslinya, jika bosan tinggal ganti kulit saja. Tertarik?
Pada tanggal 3 Desember 2009 lalu, Google memperkenalkan sebuah produk baru yaitu Google Public DNS melalui blog resminya. DNS atau domain name server adalah server yang mengarahkan nama domain yang kita ketik di addressbar browser ke alamat IP dari server website tersebut, misal kita mengetikan http://www.google.com, maka DNS akan mengarahkannya ke IP 74.125.53.100 yang merupakan IP server Google, sehingga situs Google bisa kita akses.
ilustrasi
Secara default, ketika kita mengakses internet, DNS yang kita pakai adalah DNS dari ISP, misal dari Telkom, Indosat, dll. memang dengan menggunakan DNS dari ISP pun sebenarnya sudah cukup memuaskan, namun kita juga diberi kebebasan untuk mengganti DNS tersebut, misal dengan openDNS, Nawala Project atau yang terbaru ini Google Public DNS. Menurut kabar, katanya Google Public DNS ini memberikan akses yang lebih cepat dalam berselancar, makanya karena penasaran akhirnya saya pun mencoba menggunakan DNS ini. untuk menggunakannya anda cukup mengganti alamat IP DNS yang ada di network setting sistem operasi anda, ganti dengan alamat IP dengan 8.8.8.8 atau 8.8.4.4 yang merupakan alamat IP dari Google Public DNS ini, cukup gampang diingat bukan?
Setelah mencobanya, saya rasakan memang aksesnya cukup cepat walaupun tidak signifikan, awalnya saya agak skeptis dengan DNS ini karena berdasarkan pengalaman saya, kalau mengganti DNS dengan bukan DNS bawaan ISP biasanya lebih lambat, tapi ternyata tidak dengan DNS dari Google ini. hasilnya juga cukup memuaskan, bahkan beberapa situs atau layanan yang tidak bisa dibuka oleh DNS dari ISP bisa dibuka dengan DNS dari Google ini, misal teman saya tadi mengalami kesulitan untuk login ke Yahoo! Messenger, tapi saya yang menggunakan DNS dari Google tidak mengalami hal tersebut. untuk urusan keamanan dan privasi, Google pun memberi jaminan kalau data kita aman dan tidak disalahgunakan, dengan demikian kita bisa berselancar dengan lebih cepat, aman dan nyaman. mau mencoba?
Pernah pakai email kan? atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut surel alias surat elektronik, nah ketika kita membalas suatu surel maka subjek atau judul dari surel tersebut akan diberi awalan (prefix) re: di bagian depannya, misalkan subjek aslinya:
halo apa kabar?
kemudian anda membalas surel tersebut, maka secara otomatis aplikasi klien surel (email client) akan merubah judul/subjeknya menjadi:
re: halo apa kabar?
Nah dari sini pasti banyak yang menyangka kalau re: didepan itu adalah kependekan dari reply (balas), benar kan? terus terang saya juga dulu menganggapnya begitu, tapi setelah membaca tweet dari mas Ivan Lanin, saya juga baru tahu kalau re: itu bukan kependekan dari Reply, tapi dari Rei/Res yang merupakan bahasa Latin yang artinya kurang lebih adalah “perihal”.
Ternyata ketidaktahuan akan arti sebenarnya dari kata Re: itu tidak hanya terjadi pada orang awam seperti kita (anda dan saya tentunya ), tapi juga bagi para programmer di layanan penyedia surel, contohnya Yahoo! mail Indonesia menterjemahkan Re: ini dengan Bls: yang merupakan kependekan dari “balas” – balas adalah terjemahan langsung dari Reply – berarti mereka juga menganggap bahwa Re: ini adalah Reply, iya kan?
Sekarang saya mengerti kenapa beberapa aplikasi klien surel (email client) kadang tidak menampilkan surel secara berurutan (threaded) ketika ada subjek yang berubah dari re: menjadi bls:, karena aplikasi tersebut tidak mengenal prefixre:, makanya ketika ada prefix baru dengan awalan bls: maka ia akan masuk ke thread/percakapan baru, bukan ke thread/percakapan semula, walaupun subjeknya tetap sama. makanya kalau di milis saya kadang suka agak kesal dengan balasan yang berisi subjek dengan prefix bertumpuk seperti "bls: re: bls: bls: re: re: halo apa kabar?", hal ini terjadi karena klien surel tidak mengenal prefix bls: sehingga membuatkannya thread baru, dan hal ini merusak urutan percakapan. jadi kalau memang re: ini merupakan kependekan dari rei/res, seharusnya prefix ini menjadi universal, apapun bahasa pengantar yang kita pakai, sebagai prefix balasan gunakanlah re: agar urutan percakapan tidak berantakan.
Catatan:
Mohon maaf jika anda agak bingung dan tidak terbiasa dengan istilah serapan seperti surel, saya hanya mencoba membiasakan menggunakan Bahasa Indonesia untuk istilah-istilah dalam dunia teknologi informasi.