Format audio sekarang memang bermacam-macam, yang paling populer tentu adalah format terkompresi MP3, disusul oleh format terkompresi lainnya seperti AAC, WMA, dll. Para musisi pun sekarang turut pula mengedarkan hasil karya mereka ke dalam format baru tersebut. Namun bagi sebagian orang (termasuk saya), format fisik berupa Audio CD (selanjutnya sebut saja CD) masih belum tergantikan. Rasanya belum afdol kalau kita mengaku sebagai penggemar sang artis tapi tidak memiliki album fisiknya, bisa saja kita beli MP3 secara legal melalui toko musik online seperti iTunes tapi rasanya tetap tidak akan sepuas ketika kita punya album fisiknya, betul kan?!
Koleksi CD (ilustrasi)
Sebenarnya format fisik tidak hanya CD, ada juga kaset maupun piringan hitam (vinyl), tapi menurut saya CD adalah format terbaik (setidaknya paling tepat) untuk kita koleksi dibanding format lain, kenapa? berikut beberapa alasannya:
CD itu mudah didapat. Hampir setiap toko musik pasti menjual CD sebagai komoditas utama yang dijual, selain kaset dan format lain (DVD, VCD, Vinyl).
CD itu tahan lama. dibanding kaset yang lama kelamaan suaranya semakin ‘kusam’ dan melempem atau vinyl yang mudah rusak (pecah) atau terkikis, CD masih lebih awet, suara yg dihasilkan tidak akan berubah karena berupa format digital, baret yang cukup parah pun tidak begitu menganggu kualitas suara yg dihasilkan.
Teknologi CD bertahan lama. CD sudah digunakan sebagai format recording sejak dekade 80an dan sampai sekarang masih digunakan dan jadi media utama. CD player dari dulu sampai sekarang masih beredar luas dan belum ada tanda-tanda penyurutan seperti halnya cassette tape player atau turntable/gramophone.
Banyak perangkat yang bisa memutar CD. Seberapa besar pun perubahan teknologi di bidang optical storage (CD-VCD-DVD-BlueRay, dst) kesemuanya masih bisa digunakan untuk memutar CD, tidak hanya berupa player khusus, tapi hampir semua perangkat seperti CD/DVD-ROM, game console, dll bisa memutar CD tanpa masalah, artinya kita tidak usah khawatir kesulitan memutar CD yang kita miliki. bandingkan dengan media lain seperti kaset atau Vinyl yang memerlukan perangkat khusus untuk memutarnya.
Dengan beberapa poin diatas, rasanya masih cukup beralasan untuk kita tetap mengeksi CD, masa depannya tampaknya masih cerah, setidaknya untuk beberapa tahun kedepan, kita tidak akan kesulian untuk memutar kembali koleksi CD lama kita, beda dengan kaset, saya punya beberapa koleksi kaset yang sekarang terbengkalai karena kesulitan menemukan pemutarnya yang bisa saya gunakan. selain itu, kepuasannya beda apabia dibandingkan dengan hanya mengoleksi MP3nya saja, apalagi bajakan
Yuk ah, mari kita mulai mengoleksi musik secara legal, hargai hasil karya para musisi.
Entah dari mana dan siapa yang memulainya, sejak pergantian tahun kemarin banyak orang membuat proyek “365 shot, 1 shot per day”. Proyek ini kurang lebih berupa photo blog yang berisi 1 tangkapan gambar (foto) per hari selama satu tahun penuh. gambarnya bebas, bisa berupa foto artistik, candid, atau bahkan tangkapan layar (screenshot).
Beberapa rekan saya juga membuat proyek blog seperti ini, misalnya bang Robin Malau, Den, Alderina dan mas Sony dan mungkin beberapa lainnya yang lupa saya sebutkan. cukup menarik memang membuat blog foto seperti ini, menangkap potret kehidupan setiap hari yang diposting secara periodik. Untuk platform-nya sendiri tidak ada batasan menggunakan apa, bisa blog biasa yang di host di WordPress.com maupun Blogger.com (dan layanan Blog gratis lainnya), WordPressself hosted, Tumblr, Posterous, Flickr atau bahkan di album foto Facebook pun bisa. yang penting ada komitmen untuk memposting satu foto per hari.
Contoh blog #365 shots (http://imagi.alderinagracia.com)
Saya sendiri sebenarnya ingin juga membuat proyek blog semacam ini, tapi ada beberapa kendala yang membuat saya mengurungkan niat ini. Pertama, kalau mau membuat sekarang sudah terlalu telat, karena lebih afdol kalau dibuat bertepatan dengan awal tahun (1 Januari), namun sebenarnya itu bukan masalah sih, masalah yang paling utama adalah tidak punya kamera. saya tidak punya kamera digital, jadi mau menangkap gambar pakai apa? Saya sempat punya ponsel dengan kamera yang lumayan lah, tapi rusak beberapa bulan lalu karena sebuah kecelakaan (padahal masih baru ) dan sampai sekarang belum diperbaiki ataupun membeli yang baru. Alasan berikutnya adalah komitmen, saya belum bisa menjamin bisa membuat 1 jepretan (yang menarik) per hari. nantinya takut terbengkalai, sayang juga.
Bagaimana dengan anda, tertarik membuat proyek serupa? belum ada kata terlambat sih, kalau ingin dimulai dari sekarang juga bisa, yang penting komitmennya dijalankan dengan baik, Insya Allah ini akan menjadi proyek yang menarik, apalagi bagi penyuka seni fotografi, bisa jadi blog portofolio juga, benar kan?!
Album baru penyanyi Country wanita Carrie Underwood dirilis bukan November 2009 lalu, cukup lama memang, tapi tidak ada salahnya saya review sekarang di sini. Album ketiga yang diberi judul “Play On” ini cukup menarik buat saya. pertama, tentu saja karena saya menyukai musik country modern, kedua, saya juga adalah penggemar Carrie Underwood, dan ketiga karena menurut saya pribadi album ini lebih bagus dari album sebelumnya.
Carrie Underwood : Play On
Ketika diputar, pada urutan pertama kita disuguhi sebuah lagu yang sedikit beraroma country rock berjudul “Cowboy Casanova”, lagu ini sekaligus menjadi single pertama dalam album ini. seperti biasa, suara tinggi melengking khas Carrie ada pula di lagu ini. Loncat ke lagu nomor lima ada lagu “Undo It”, yang menarik bagi saya, lagu ini mengingatkan pada lagu “Last Name” dari albumnya yang kedua, pada bagian reff ada sedikit mirip-mirip. Carrie juga menjadi co-writer pada 7 lagu yang terdapat dalam album ini.
Lagu “Mama’s Home” dan “Temporary Home” menjadi single berikutnya dari album ini, tapi sampai saat ini saya belum tahu apakah kedua lagu tersebut akan atau sudah dibuat video klipnya atau belum. Lagu “Quitter” memberikan suasana ceria pada bagian intronya dengan dentingan mandolin yang khas.
Berikut adalah video klip dari single pertamanya “Cowboy Casanova”:
Secara umum menurut saya album “Play On” ini lebih ngepop sekaligus lebih Country dari album sebelumnya, maksudnya? maksudnya begini, dari aransemen, lagu-lagu yang terdapat di album ini lebih catchy dan easy listening, tapi di sisi lain unsur instrumen khas musik country seperti mandolin, steel guitar dan banjo juga lebih terasa jika dibanding album sebelumnya “Carnival Ride” (2007). Di album ini juga, menurut saya suara Carrie tidak terlalu cempreng seperti di album terdahulu. terus terang, pada album kedua pada beberapa lagu agak sedikit annoyed dengan suara cemprengnya, namun disini tampaknya suaranya sudah lebih oke (setidaknya menurut selera saya)
Tracklist lengkapnya sebagai berikut:
Cowboy Casanova
Quitter
Mama’s Song
Change
Undo It
Someday When I Stop Loving You
Songs Like This
Temporary Home
This Time
Look At Me
Unapologize
What Can I Say (feat Sons of Sylvia)
Play On
O Holy Night (bonus track, khusus iTunes AS dan Kanada)
Tertarik? silakan cari albumnya di toko musik sekitar anda, atau bisa juga dibeli di toko musik online sperti iTunes Store maupun Amazon.com
Saya suka mendengarkan musik, hidup ini rasanya sepi tanpa musik, ditambah saya yang lebih banyak hidup sendirian dan jarang keluar rumah/kostan membuat saya sering berbetah-betah di kamar sambil mendengarkan alunan lagu. Saya bukan musisi, bukan pula orang yang mengerti musik secara teoritis karena saya tidak pernah belajar musik secara formal. saya hanya pendengar biasa, yang mendapat suatu kepuasan ketika mendengarkan musik, tanpa mengetahui secara mendetail mengenai harmoni, notasi, kunci dan sebagainya.
Untuk mendengarkan musik tersebut memang dibutuhkan sebuah alat bernama speaker atau pengeras suara. nah yang menjadi masalah, beberapa waktu belakangan saya tidak pernah puas dengan pengeras suara yang ada, baik berupa pengeras suara meja (desktop), headphone maupun earphone. Waktu pertama membeli komputer built upAcer, pengeras suara bawaanya sangat jelek, tidak jauh beda dengan pengeras suara generik berharga dibawah 50 ribu rupiah. untunglah kakak saya berbaik hati memerikan saya sebuah pengeras suara yang lebih besar dan bertenaga bermerek Philips lengkap dengan subwoofer. awalnya saya sangat senang karena melihat merek yang cukup ternama mungkin akan memberikan suara yang lebih baik, faktanya ternyata untuk ukuran merek setenar itu dan ukuran pengeras suara yang cukup besar, suara yang dihasilkan bisa dibilang mengecewakan. bukan tidak kencang, tapi tidak jernih dan bersih seperti yang diharapkan, padahal kalau melihat harganya cukup mahal menurut saya, benar-benar kecewa deh…
Pengeras Suara Philips
Untuk mengobati kekecewaan tersebut, saya sempatkan mengumpulkan uang untuk membeli earphone, dari dulu saya memang sudah berniat ingin membeli earphone untuk pemakaian sendiri, maklum di tempat kost kadang tidak enak kalau ingin mendengar musik kencang-kencang tapi takut menganggu tetangga sebelah, earphone menjadi solusi yang oke bagi saya. akhirnya ada juga kesempatan membeli earphone di sebuah toko musik, sekalian membeli CD kalau tidak salah ingat. harga earphonenya sendiri menurut saya cukup mahal, hampir 2x lipat harga CD musik luar. kebetulan waktu itu earphone yang saya beli bermerek sama dengan pengeras suara meja milik saya, yaitu Philips. heran, seperti tidak ada kapoknya saya membeli merk ini, tapi bukan tanpa alasan, produk yang tersedia di toko tersebut memang cuma merek itu, hampir setiap cabang toko tersebut yang saya datangi juga hanya menyediakan merek tersebut.
Ketika saya coba, saya harus menelan kekecewaan lagi, suara dari earphone ‘mahal’ tadi tidak lebih baik dari earphone puluhan ribu yang biasa dijual bersamaan dengan pemutar musik digital buatan Cina. ah… kecewa lagi, entah kenapa merek tersebut kok mengecewakan yah untuk urusan pengeras suara? untung saja saya tidak membeli headphone yang harganya diatas setengah juta, mungkin suaranya juga tidak lebih baik dari ini.
Karena kecewa akhirnya saya jual earphone tersebut ke seorang teman, kebetulan dia sedang butuh earphone. syukurlah teman saya itu menyukainya dan berani membelinya, walaupun harus saya lepas dengan setengah harga. untuk mengobati kekecewaan tadi dan karena saya masih butuh pengeras suara “pribadi” akhirnya uang hasil menjual earphone tadi saya belikan headphone “murah” dengan merek tidak jelas (tidak populer), harganya tidak mahal, masih dibawah 100 ribu rupiah, yang mengejutkan, suara yang dihasilkan dari headphone murah tadi sedikit lebih baik dari earphone ‘bermerek’ yang sebelumnya saya jual, kekecewaan saya sedikit terobati, dengan harga relatif murah bisa dapat produk yang lumayan bisa memuaskan saya, kenapa tidak dari dulu saja ya?
Shure SE530
Sebenarnya ada satu model pengeras suara yang menjadi target saya, tepatnya sebuah earphone bermerek Shure. seperti yang kita ketahui, Shure adalah merek untuk produk-produk audio profesional, seperti mikrofon maupun pengeras suara kelas studio. namun yang menjadi dambaan saya ini bukan produk profesional, menurut webnya produk ini masuk ke dalam kategori “personal audio“. namun, dasar merek “pro”, ternyata harganya pun tidak murah, sebuah earphoneShure SE530 Sound Isolating Earphones dihargai hampir 500 dollar Amerika, wah… mungkin kalau dirupiahkan bisa mencapai 5 jutaan. setelah tahu harganya akhirnya saya sadar kalau produk tersebut hanya impian belaka, sudah dipastikan saya tidak akan mampu membelinya
Saya sebenarnya bukan seorang audiophile yang menuntut kesempurnaan audio, saya hanya ingin suara yang bersih dan jernih saja, walaupun tidak sampai sekelas audio studio maupun audiophile yang penting suara yang dihasilkan cukup bagus. kira-kira ada saran ngga untuk merek pengeras suara yang bagus tapi terjangkau? jangan bilang Simbadda, saya sampai saat ini belum pernah puas dengan pengeras suara Simbadda, mungkin yang agak memenuhi kriteria saya baru Creative dan Altec Lansing, tapi kembali ke harga, kedua merek tersebut memang cukup mahal. ah serba salah, selera (sok) tinggi tapi budget pas-pasan… hehe…
Pernah kan tiba-tiba kepikiran sesuatu terus pinging mengungkapkannya dalam satu media? ya tentu saja bagi para narablog bisa langsung menuliskannya di blog, tumpahkan semua isi kepala disitu, plek! saya pun demikian, tapi kadang yang muncul ini bukan pemikiran-pemikiran berat dan panjang, hanya sepintas2 saja dan biasanya hal kecil dan remeh-temeh.
Biasanya saya menuliskan pikiran-pikiran kecil nan spontan itu di situs microbloggingTwitter, namun seperti diketahui kalau Twitter ini hanya dibatasi sebanyak 140 karakter saja, yang kadangkala tidak cukup untuk menuliskannya disitu. “kenapa tidak di blog ini saja?” bisa saja sih, tapi kayaknya lebih sreg kalau dibuat khusus satu blog saja, yang isinya berupa pemikiran2 spontan, ringan (kadang konyol) dan pendek, tulisan yang terlalu pendek untuk ditulis disini, namun terlalu panjang untuk ditulis di Twitter dan akhirnya saya buat saja blognya disini.
Blog tersebut saya buat sangat simpel, sesuai yang saya inginkan, tanpa sidebar, tanpa embel-embel kategori, tag dan bahkan kadang tanpa judul di tiap postnya, ya benar-benar pendek dan spontan saja. kalau ada waktu dan sudi berkunjung silakan mampir kesana, kalopun tidak juga tidak apa-apa, saya tidak berharap apa2 dari blog itu, tidak terlalu berharap banyak dikomentari atau dikunjungi walaupun akan sangat senang sekali kalau memang ada yang berkunjung dan meninggalkan jejak komentar disana, ya intinya sih buat senang-senang saja. happy blogging..!!