Secara mengejutkan, film yang tidak begitu heboh memenangkan penghargaan Academy Award 2010; “The Hurt Locker”. Film ini mengalahkan “Avatar” yang begitu digembar-gemborkan sebelumnya. Saya termasuk orang yang terkejut juga oleh kemenangan film yang tidak disangka-sangka ini, apalagi saya memang belum pernah mendengar tentang film ini sebelumnya. Dalam tulisan ini, saya akan mengulas film ini dari persepsi saya pribadi, dari seorang awam film yang kebetulan menyukai tema militer dari film ini.
Overiew
Plot dari film ini sendiri menceritakan tentang satu tim penjinak bom atau EOD (explosive ordnance disposal)US Army yang bertugas di Irak. Di awal cerita, tim ini kehilangan satu anggota-nya karena terkena ledakan bom. Seorang anggota pengganti didatangkan dan masuk kedalam tim kecil yang terdiri dari tiga orang ini, orang baru yang bernama William James ini rupanya agak nyeleneh, dia seperti penantang maut, menikmati pekerjaannya yang penuh resiko dan selalu membangkang. Namun dibalik sifat keras kepalanya ini, dia memang seorang penjinak bom yang hebat, semua misi dilaksanakannya dengan sukses. Sederhananya film yang termasuk genre drama ini adalah menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari tim EOD di medan perang, bagaimana pergolakan emosi mereka, ketakutan menghadapi kematian, dilema, dll. Namun alur “sederhana” itu dikemas dengan apik oleh sineas Kathryn Bigelow yang mendapat penghargaan sutradara terbaik di Academy Award kemarin.
Salah satu adegan dalam "The Hurt Locker"
Jika anda berharap akan menemukan adegan perang seru ala film “Rambo” dengan tokoh jagoan yang tak terkalahkan, anda akan kecewa. Tidak ada adegan one man show di film ini, semua tersaji begitu dramatis dan realistis. Perasaan was-was, tegang, takut dan getir berada dalam medan perang sangat terasa disini. Bagaimana emosi seorang prajurit yang begitu terguncang di medan perang tergambarkan dalam film ini. maka dari itu film ini lebih cocok disebut film drama daripada film perang karena lebih mengangkat sisi emosi dari karakternya dan mengedepankan cerita yang kuat dibanding dengan visual effect yang dahsyat maupun adegan-adegan seru menegangkan.
Sinematografi
Dari sisi sinematografi, film ini cukup unik. Pengambilan gambar menggunakan teknik ala film dokumenter dengan ciri khas kamera yang bergoyang-goyang dan zooming yang terkadang terkesan mendadak dan spontan. Namun “gambar goyang” tersebut tidak terkesan “amatir” seperti yang terdapat dalam film “Cloverfield”, “Paranormal Activity” atau “Blair Witch Project” yang memang sengaja dibuat seolah-olah film tersebut adalah rekaman asli dari video amatir yang dibuat tokohnya. Dalam “The Hurt Locker” kesan Hollywood masih terasa, hanya teknik kamera bergerak-nya saja yang menjadi khas, mungkin apabila mencari film sejenis, trilogi Jason Bourne bisa jadi rujukan.
Dalam pengambilan gambar sebagian besar adegan dalam film, kru film memilih menggunakan kamera film super 16mm yang lebih kompak dibanding kamera “full sized” 35mm yang umum digunakan dalam film Hollywood. Hal ini bukan tanpa alasan, kamera 35mm ukurannya tidaklah kecil dan sangat berat (mencapai belasan kg jika full gear), sehingga tidak mungkin bisa diangkat sendirian oleh kameraman yang akan mengambil gambar dengan teknik ala handycam. Pengaruh penggunaan kamera super 16mm (yang tentu saja kualitasnya dibawah 35mm) cukup terlihat pada gambar yang dihasilkan, gambar film tampak lebih grainy (terlihat “serbuk” film)dibanding film lain, hal ini akan jelas terlihat apabila anda menikmatinya dalam format High Definiton Video ataupun di layar bioskop.
The Gears
Barrett M82
Ini bagian yang paling saya suka: Military Gears! Terus terang hal ini menjadi salah satu alasan terkuat saya untuk menonton film ini selain karena telah memenangkan Oscar. Bagi pecinta dunia militer, menonton film ini seperti surga, banyak gear-gear keren dan modern tampak di film ini, mulai dari Seragam baru US Army yang keren lengkap dengan segala aksesorisnya, Senapan M4 sampai mobil jip Humvee.
Di awal adegan film, tampak personel EOD sedang mengoperasikan robot penjinak bom keluaran Remotec yang merupakan produk dari Northrop Grumman. Jip-jip Humvee lapis baja yang gagah, serta beberapa APC (armored personal carrier) tampak di beberapa adegan. Penggunaan seragam baru US Army yaitu ACU (army combat uniform) lengkap dengan rompi, helm dan segala aksesorisnya juga menjadi daya tarik tersendiri. Penampakan senapan serbu standar infantri AS Colt M4 juga sangat dominan di film ini, tampak para personel US Army menenteng M4 dengan aksesoris modular SOPMOD seperti telescopic butt-stock, forward grip dan red dot sight. Senapan sniper berat Barrett M82 kaliber .50 juga tidak lupa ikut nampang di film ini. Senapan mesin klasik M2 Browning yang terpasang di atap Humvee juga tidak luput dari perhatian saya.
Dari sisi para pemberontak Irak sendiri, senapan wajib pastinya AK-47. Sekelompok tentara bayaran (mercenary) yang ditemui tim EOD di tengah gurun juga terlihat menenteng AK-47 dan variannya. Kehadiran karakter mercenary dalam film ini juga cukup menarik, dari segi pakaian dan gear yang dipakai, cukup menggambarkan bagaimana penampilan para mercenary yang sebenarnya.
The Goofs
Tak ada gading yang tak retak, film ini pun sebenarnya tidaklah sempurna, banyak ‘cacat’ disana-sini namun beberapa masih bisa dimaklumi. Tapi dari sekian kesalahan dalam film ini, ada beberapa goof yang cukup mencolok. Salahsatu “keteledoran” dari pembuat film ini adalah digunakannya seragam baru US Army yaitu ACU sebagai seragam bagi para tentara yang ada dalam film, kenapa? Setting film ini adalah tahun 2004, sedangkan seragam ACU baru dipakai secara resmi tahun 2005. Hal kedua yang menjadi celah film ini adalah kesalahan memilih properti untuk jip Humvee yang digunakan. Humvee yang dipakai personel US Army dalam film ini adalah Humvee yang seharusnya digunakan oleh US Marine Corpse, ciri khasnya adalah adanya cerobong udara yang terlihat tegak berdiri di kap mesin. Untuk Korps Marinir, memang dibutuhkan humvee yang bisa “berenang” sehingga menggunakan cerobong udara keatas untuk sirkulasi udara mesin, tapi tidak untuk Army.
Kesimpulan
Secara keseluruhan film ini cukup bagus, tapi bagi saya tidak terlalu impresif. Saya tidak merasa harus menonton film ini berkali-kali, tidak seperti film Black Hawk Down misalnya yang bisa saya tonton berkali-kali tanpa merasa bosan. malah di beberapa adegann film ini terasa sangat membosankan, ya mungkin karena saya kadang agak susah mencerna film “berat” yang lurus dan nyaris tanpa klimaks. Tapi saya percaya pada para juri Academy Award, mereka memilih film ini menjadi yang terbaik pasti bukan tanpa alasan. Bagi anda yang belum menonton, tidak ada salahnya untuk meluangkan waktu menontonnya, karena tiap orang pasti punya pandangan sendiri terhadap film ini.
Dulu ketika format VideoCD mulai muncul, saya sudah cukup puas dengan gambar yang dihasilkan, memang waktu itu pun saya tidak memperhatikan seberapa besar resolusinya, yang jelas tampak sama saja di televisi saya, tidak ada bedanya dengan film-film yang disiarkan televisi. tapi setelah dilihat di layar komputer baru kelihatan “aslinya”, ternyata resolusinya rendah, tepatnya 352×240 untuk NTSC dan 352×288 untuk PAL.
Kemudian beberapa tahun kemudian munculah format video dalam bentuk DVD, resolusinya memang lebih tinggi dari VCD yaitu 720×576 untuk PAL dan 720×480 untuk NTSC. Ketika saya bandingkan dengan resolusi video dari siaran televisi rasanya memang DVD ini lebih bagus, ya memang faktanya demikian karena resolusi siaran televisi tidak jauh beda dengan VCD. Sampai saat itu, saya menganggap bahwa resolusi terbaik untuk video ya setara DVD ini dan sempat berpikir bahwa resolusi “asli” dari film pun memang segini, karena gambar yang dihasilkan begitu tajam, rasanya tidak mungkin bisa lebih tajam lagi dari ini.
Kemudian munculah format High Definition Video atau lebih dikenal dengan HD saja. Format ini ternyata memiliki resolusi yang lebih tinggi dari DVD, secara umum ada dua format populer untuk HD video yaitu 720i dan 1080i. 720i memiliki resolusi 1280×720 interlaced (i dari kata interlaced) sedangkan 1080i adalah1440×1080 interlaced. Sampai disini saya kembali berpikir, “wah kok bisa yah ada video dengan resolusi setinggi ini? kameranya seperti apa?”, saya bertanya demikian karena berpikir sebelumnya kalau kamera film saja resolusinya setara DVD, berarti kamera untuk HD ini pasti lebih hebat lagi? dan ternyata, sampai disini saya salah lagi….!!
RED Digital Cinema Camera
Sampai saat ini sebagian besar proses pembuatan “film” masih menggunakan kamera dan media film (seluloid) untuk merekamnya, bukan dengan kamera digital. Saya sempat penasaran, kok di jaman modern begini masih menggunakan film sebagai media rekam? ternyata kualitas gambar yang dihasilkan film belum tertandingi sampai saat ini. Memang kita tidak bisa membandingkan secara langsung antara film vs digital ini karena formatnya yang berlainan, namun kalau misalkan saja diukur dengan satuan pixel, maka resolusi yang dihasilkan film 35mm itu setara 22 megapixel, atau bahkan lebih tergantung dari kualitas kamera, lensa dan filmnya itu sendiri. Bandingkan dengan video HD dengan resolusi 1440×1080 pixel saja jika dikalikan hanya menjadi 1.5 megapixel, tidak sampai 10% dari resolusi film.
Singkatnya, jika suatu saat nanti ada teknologi lebih tinggi yang dapat menghasilkan resolusi video yang lebih besar (misalkan 4 megapixel), film-film lama masih bisa direproduksi untuk dijadikan video dengan resolusi sebesar itu, karena “master” dari film-film itu sendiri ada dalam bentuk film (seluloid) yang beresolusi lebih tinggi, sehingga gambar yang dihasilkan masih dalam keadaan baik, bukan hasil perbesaran atau interpolasi.
Namun disisi lain, dunia perfilman tidak lepas dari sentuhan teknologi digital. saat ini sudah ada beberapa produsen kamera yang membuat kamera digital untuk film. Kamera film digital tidak sama dengan kamera video, film-film berbudget rendah seperti film-film Indonesia biasanya melakukan shooting dengan kamera video yang biasa digunakan untuk dunia broadcast (televisi) yang nantinya setelah proses post-production baru diblow-up ke film seluloid untuk disajikan di proyektor bioskop. Kamera film digital memiliki kualitas lebih baik dari kamera video, resolusi yang sangat tinggi dan lensa yang berkualitas. Tujuan dari kamera film digital sendiri memang untuk menggantikan kamera film konvensional bukan untuk dunia broadcast, sehingga standarnya pun disesuaikan untuk kebutuhan film, termasuk aksesorisnya misal rel, lensa, dll.
Salahsatu produsen kamera film digital yang terkenal adalah RED. Sudah cukup banyak film sukses yang dibuat dengan kamera digital RED ini, diantaranya Slumdog Millionaire, Jumper, Knowing, Angels & Demon, District 9, The Lovely Bones, dll. Sepintas memang gambar yang dihasilkan oleh kamera film digital ini sama saja dengan hasil dari kamera film, hal ini wajar saja, karena kebanyakan film walaupun mengambil gambar menggunakan film, tapi untuk proses editing biasanya film-film “mentah” tadi discan dalam bentuk digital dalam format 2K, sedangkan kamera RED mampu merekam bahkan sampai format 4K, sehingga pada akhirnya resolusi yang dihasilkan bisa setara. sebagai perbandingan ukuran resolusi video DVD, HD, 2K atau 4K silakan lihat gambar ilustrasi dibawah ini.
Perbandingan Resolusi Video Film (klik untuk memperbesar)
Dari gambar diatas bisa dilihat kalau format DVD (kotak paling kecil) tidak ada apa-apanya dibanding format film. ukuran yang paling besar (berwarna merah) adalah format 28K yang rencananya akan dikembangkan oleh RED. Maksud dari “K” disini adalah kilo atau ribu pixel untuk ukuran resolusi horizontal. jadi 28K artinya video tersebut memiliki resolusi 28.000×9.334 pixel atau total sekitar 261 megapixel, angka yang sangat besar untuk ukuran video, bahkan untuk foto pun masih sangat jarang yang bisa mencapai angka sebesar itu.
Dari sini saya akhirnya mengetahui kalau standar format video untuk film itu adalah sangat tinggi. baik film ataupun digital sama-sama memiliki resolusi yang sangat tinggi. tidak heran mengapa ketika muncul format video baru untuk kalangan rumahan (VCD, DVD dan HD) tidak menjadi kendala untuk sebuah film (bahkan untuk film keluaran tahun 70an) dirubah kedalam format tersebut karena format aslinya memang jauh lebih besar.
Catatan:
Uraian diatas hanyalah penjelasan secara awam dari saya yang mempelajari teknis format film hanya dalam satu malam saja, jika ada kesalahan atau kekurangan mohon koreksinya. Terima Kasih.
Tadi waktu iseng-iseng saya lihat account Twitter dari CMT saya menemukan sebuah band Country yang cukup menarik, band tersebut bernamaThe McClymonts. The McClymonts (cukup susah ditulis dan diucapkan ) adalah band trio asal Australia yang terdiri dari tiga bersaudara yang kesemuanya adalah perempuan, mereka adalah Brooke McClymont, Samantha McClymont dan Mollie McClymont.
The McClymonts telah memiliki tiga album hingga saat ini, sebuah album EP yaitu “The McClymonts” (2006) dan dua buah full album yaitu “Chaos and Bright Lights” (2007) dan “Wrapped Up Good” (2010) yang baru saja dirilis. Album EP mereka direkam di Australia, baru pada tahun 2007 mereka pergi ke “ibukota” musik Country, dimana lagi kalau bukan Nashville, Tennessee, AS. Hampir bisa dipastikan setiap artis country sukses lahir dari kota ini, hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para artis baru, terutama yang tidak berasal dari Nashville, kota ini seolah punya magnet tersendiri sehingga tidak sedikit artis-artis baru yang mengadu nasib di kota Country ini, termasuk The McClymonts yang jauh-jauh datang dari Australia. Di Nashville mereka bekerja sama dengan beberapa musisi dan penulis handal yang juga menangani artis-artis country populer seperti LeAnn Rimes, Taylor Swift dan rekan senegara mereka, Keith Urban. Pada tahun 2007 lahirlah sebuah full album mereka yaitu “Chaos and Bright Lights” yang made in Nashville. walaupun demikian, album ini lebih dulu dirilis di Australia yaitu tahun 2007, dan baru pada musim semi 2010 ini akan dirilis di Amerika.
Sampul album "Wrapped Up Good"
Album ketiga yaitu “Wrapped Up Good” dirilis pada tanggal 15 Januari 2010 di Australia, belum ada kabar kapan akan dirilis di Amerika maupun negara lainnya. Dikarenakan kesulitan mendapatkan materi asli, akhirnya dengan sedikit usaha saya bisa mendapatkan MP3 album terbaru mereka ini. Dari segi musik, nuansa countrynya cukup kental, malah lebih kuat dibanding artis-artis country Amerika saat ini yang cenderung ngepop, walaupun tidak semua terdengar sangat countrish, pada beberapa lagu nuansa pop terdengar cukup kuat, tapi tidak masalah karena memang inilah ciri musik country kontemporer saat ini. Single pertama mereka “Kick It Up” cukup asyik, single yang dirilis mendahului albumnya yaitu tahun 2009 ini terdengar enerjik, tapi menurut saya kalau didengar-dengar suara violin pada bagian verse-nya agak mirip-mirip dengan lagu “Truth No. 2″ milik Dixie Chicks, tapi memang hanya ada sedikit kemiripan saja bukan berarti menjiplak, mungkin karena saya terlalu familiar dengan lagu Dixie Chicks itu
Secara umum album terbaru mereka ini cukup bagus, betah untuk didengar dan tidak membosankan, kalau tersedia albumnya cukup layak untuk dibeli (walau hampir dipastikan cukup sulit, kecuali beli langsung di Australia). Bagi penggemar country klasik seleranya akan cukup terpuaskan, bagi penggembar country kontemporer juga tidak akan terdengar “old school”, buat yang penasaran, berikut saya tampilkan video klip dari single mereka “Kick it Up”, selamat menikmati
Tadi siang, seorang teman saya datang ke kostan saya, kebetulan saya sedang mandi dan meninggalkan komputer dalam keadaan menyala sambil memutar musik dengan suara cukup kencang, mendengar musik yang diputar, sang teman pun berkomentar di twitternya:
Kalo ke kosan @hielmy musiknya pasti country2 an gini. Teu ngarti mi. (gak ngerti mi)
Saya cuma bisa senyum-senyum saja bacanya, tapi terus terang dalam hati saya bertanya “emang susah yah mencerna musik country?”, pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan, soalnya bukan cuma dia, hampir tiap orang yang mendengar musik yang saya putar pasti merasa “ngga ngerti” dengan apa yang mereka dengar, padahal saya sendiri boleh dibilang sangat awam sama urusan musik tapi cukup merasa nyaman dan mudah mencerna musik country, emang susah ya?
Ilustrasi
Bukan mau sok-sokan berselera musik beda atau kebarat-baratan, tapi untuk saat ini saya sedang merasa sangat nyaman dengan mendengarkan musik country, jangan membayangkan terlalu jauh seperti musik-musik koboi, malah kebanyakan musik yang saya dengar itu cenderung ngepop, malah beberapa kadang sampai tidak ngeh kalau itu termasuk musik country, saking ngepopnya. Herannya masih banyak yang berkomentar kalau mereka sulit untuk mendengarkan musik-musik itu, singkatnya nggak nemu sebelah mana enaknya, hehe…
Yah memang urusan selera susah dipaksakan, saya juga suka musik ini tanpa paksaan siapapun dan tanpa motivasi apapun (misal untuk gaya-gayaan, sok beda, dll), malah saya ingin menyebar luaskan musik ini agar dianggap “biasa” oleh orang-orang, selama ini saya kurang nyaman juga dipandang seperti orang aneh karena musik yang saya dengar, hehe…
Tapi kalau situasinya dibalik, saya pun kadang susah sih menemukan dimana “enaknya” suatu musik, taro lah temen saya begitu suka musik cadas (metal, entah metal apa) pokoknya isinya berupa srceam-scream begitu lah, terus terang saya susah untuk suka musik seperti itu, ya mungkin orang lain juga berpandangan seperti itu terhadap musik yang saya dengar, bedanya musik-musik cadas itu biarpun terdengar aneh buat saya tapi keberadaanya lebih dikenal oleh masyarakat banyak, jadi para penggemarnya pun tidak diangap aneh.
Oh ya, tapi jangan bertanya tentang musik country ke saya, saya tidak tahu banyak, apalagi ditanya urusan sejarah, nama-nama legendaris ataupun (sub)genre, saya hanya mendengarkan dan menikmati. itu saja.
Format audio sekarang memang bermacam-macam, yang paling populer tentu adalah format terkompresi MP3, disusul oleh format terkompresi lainnya seperti AAC, WMA, dll. Para musisi pun sekarang turut pula mengedarkan hasil karya mereka ke dalam format baru tersebut. Namun bagi sebagian orang (termasuk saya), format fisik berupa Audio CD (selanjutnya sebut saja CD) masih belum tergantikan. Rasanya belum afdol kalau kita mengaku sebagai penggemar sang artis tapi tidak memiliki album fisiknya, bisa saja kita beli MP3 secara legal melalui toko musik online seperti iTunes tapi rasanya tetap tidak akan sepuas ketika kita punya album fisiknya, betul kan?!
Koleksi CD (ilustrasi)
Sebenarnya format fisik tidak hanya CD, ada juga kaset maupun piringan hitam (vinyl), tapi menurut saya CD adalah format terbaik (setidaknya paling tepat) untuk kita koleksi dibanding format lain, kenapa? berikut beberapa alasannya:
CD itu mudah didapat. Hampir setiap toko musik pasti menjual CD sebagai komoditas utama yang dijual, selain kaset dan format lain (DVD, VCD, Vinyl).
CD itu tahan lama. dibanding kaset yang lama kelamaan suaranya semakin ‘kusam’ dan melempem atau vinyl yang mudah rusak (pecah) atau terkikis, CD masih lebih awet, suara yg dihasilkan tidak akan berubah karena berupa format digital, baret yang cukup parah pun tidak begitu menganggu kualitas suara yg dihasilkan.
Teknologi CD bertahan lama. CD sudah digunakan sebagai format recording sejak dekade 80an dan sampai sekarang masih digunakan dan jadi media utama. CD player dari dulu sampai sekarang masih beredar luas dan belum ada tanda-tanda penyurutan seperti halnya cassette tape player atau turntable/gramophone.
Banyak perangkat yang bisa memutar CD. Seberapa besar pun perubahan teknologi di bidang optical storage (CD-VCD-DVD-BlueRay, dst) kesemuanya masih bisa digunakan untuk memutar CD, tidak hanya berupa player khusus, tapi hampir semua perangkat seperti CD/DVD-ROM, game console, dll bisa memutar CD tanpa masalah, artinya kita tidak usah khawatir kesulitan memutar CD yang kita miliki. bandingkan dengan media lain seperti kaset atau Vinyl yang memerlukan perangkat khusus untuk memutarnya.
Dengan beberapa poin diatas, rasanya masih cukup beralasan untuk kita tetap mengeksi CD, masa depannya tampaknya masih cerah, setidaknya untuk beberapa tahun kedepan, kita tidak akan kesulian untuk memutar kembali koleksi CD lama kita, beda dengan kaset, saya punya beberapa koleksi kaset yang sekarang terbengkalai karena kesulitan menemukan pemutarnya yang bisa saya gunakan. selain itu, kepuasannya beda apabia dibandingkan dengan hanya mengoleksi MP3nya saja, apalagi bajakan
Yuk ah, mari kita mulai mengoleksi musik secara legal, hargai hasil karya para musisi.