6 Februari 2010
Musibah memang bisa datang kapan saja dan tidak terduga dan bisa menimpa siapa saja, termasuk saya. hari senin lalu saya mengalami musibah yg lumayan membuat stress juga, tersambar petir! tapi tenang saja, bukan saya kok yang tersambar petirnya tapi instalasi listrik disini yang terkena shock tegangan tinggi dari petir yang menyebabkan komputer saya rusak.
Kerusakan tepatnya menimpa UPS yang hangus, monitor LCD yang mati total dan sebuah switch LAN yang juga tewas. sedih memang, dikala lagi butuh2nya komputer dan internet malah mendapat musibah seperti ini, mana kondisi keuangan lagi sangat sangat seret dan mepet. ketika pulang dari kampus dan mendapati bau gosong di kamar saya sudah merasa tidak enak, pasti ada yang “kena” nih, dan benar saja, komputer saya tidak mau menyala. saya sampai bengong beberapa saat waktu itu, shock!
Untunglah, mulai hari ini saya sudah bisa kembali beraktifitas dengan komputer dan internet. berkat bantuan teman2, saya diberi keringanan untuk membeli sebuah monitor baru (yang kebetulan lebih oke dari sebelumnya) dan switch LAN sudah diganti pihak penyedia layanan internet. mudah-mudahan tidak terjadi lagi musibah serupa menimpa saya atau siapapun, bener-bener bikin stress.
duh nih ngeblog aja ngomongnya ngelantur, ya pokoknya begitu lah…
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
24 Januari 2010
Saat ini saya menggunakan sistem operasi Linux Ubuntu 9.10 yang bersandi Karmic Koala. sejauh ini fitur-fitur barunya memang cukup menyenangkan, apalagi dari segi tampilan mulai ada perubahan sejak beberapa seri terdahulu yang cenderung begitu-begitu saja. Cukup telat memang kalau baru sekarang saya membahas tentang si Karmic Koala ini, toh sistem operasi ini sudah dirilis sejak bulan Oktober 2009, tapi tak apalah, tak ada larangan bukan?

ilustrasi
Langsung saja ke unek-uneknya, terus terang saya kecewa sama performa Karmic Koala ini, rasanya jauh dibawah versi sebelumnya yaitu Ubuntu 9.04, rasanya untuk menjalankan aplikasi lebih berat dari sebelumnya, padahal setelah menggunakan versi 9.04 sudah banyak perbaikan dan lebih cepat dari seri terdahulu. saya sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu. contoh paling terasa adalah ketika membuka aplikasi peramban (browser), kadang tiba-tiba memori di load sangat tinggi dan kerja prosesor meningkat, sampai-sampai kipas di CPU berdesing kencang. kemudian dari segi desktop effect juga entah kenapa kinerjanya jadi menurut, beberapa efek animasi menjadi tersendat dan tidak mulus, walaupun tidak parah, namun hal ini dirasa mengganggu kenyamanan, sampai-sampai saya harus menonaktifkan beberapa efek, padahal sebelumnya tidak begitu.
Aplikasi Al-Qur’an digital Zekr bahkan sama sekali tidak bisa dibuka, aplikasi berbasis Java ini menolak untuk dijalankan, lagi-lagi sebelumnya tidak seperti itu, padahal bagi saya aplikasi ini cukup penting, ya sambil belajar mengaji lah. Kemudian yang cukup mengecewakan saya adalah aplikasi VirtualBox, sebelumnya lancar-lancar saja, sekarang kok suara dari sistem operasi Guest jadi putus-putus ya? begitupun dengan kinerjanya, rasanya semakin lelet saja. huh…
Dari sejak awal saya menginstall di bulan Oktober itu, beberapa kejanggalan memang terasa, tapi saya pikir ah ini wajar, namanya juga baru diluncurkan, tunggu saja pasti kedepannya ada beberapa perbaikan, namun setelah saya tunggu sampai sekarang, tidak ada perbaikan berarti, padahal untuk urusan pemutakhiran (update) saya tidak pernah ketinggalan, maklum saya orangnya termasuk new version horny *halah*, jadi tiap ada pemutakhiran terbaru pasti langsung saya pasang, bahkan untuk kernel pun kalau tidak salah sudah 3x dimutakhirkan, padahal kernel ini adalah harapan terakhir dimana akan adanya perubahan, tapi hasilnya nihil.
Dengar-dengar gosip sih, katanya memang seri x.10 itu selalu tidak stabil, kalau mau yang stabil pakailah seri x.04, begitu mitosnya. ya mungkin inilah resiko pakai sistem operasi yang menganut update berkala dan terbilang cepat, yang penting keluar tepat waktu, urusan “kematangan” kadang dikesampingkan, ya kita tunggu saja edisi berikutnya, mudah-mudahan bisa jauh lebih baik dari sekarang, saya sebagai user biasa tidak bisa berkontribusi banyak, hanya bisa mengeluh
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
21 Januari 2010
Kadang saya heran, hari gini, informasi sangat mudah didapat dari internet tapi masih saja ada orang kebingungan mendapatkan informasi di internet. hmm… oke lah jika orang tersebut memang sama sekali tidak bisa menggunakan (mengakses) internet, kita bisa maklumi itu, lantas bagaimana jika orang tersebut bertanaya melalui milis maupun instant messenger? saya asumsikan orang tersebut sudah melek internet, tapi kenapa menanyakan hal kecil saja harus dilempar ke forum milis atau menggunakan japri ke instant messenger? sesulit apa sih menggunakan mesin pencari?

Googling!
Mungkin sampai sini saya tampak arogan, ya bolehlah anda bilang saya demikian, setiap orang boleh berpendapat, tapi saya juga boleh kesal donk? menanyakan alamat website sebuah merek ternama saja harus ke milis? padahal jika kita cari di Google, masukan merek tersebut sebagai kata kunci, tidak sampai 5 detik pasti ketemu, atau mungkin ada kesulitan bagaimana cara menggunakan Google? Baiklah, jika masih ada yang belum mengerti cara menggunakan Google, saya akan bantu sedikit caranya. misalkan kita akan mencari tahu tentang website Canon, bagaimana caranya? silakan klik DISINI. mudah kan?
Ada lagi yang bikin saya kesal sama orang-orang seperti itu, sudah nanyanya nggak pake permisi, basa-basi maupun salam, nanya gak penting, terus ketika saya tanya “sudah cari di google?“, dengan entengnya dijawab “males ah, mending tanya aja!“. hmm… oke, saya pun malas menjawab orang pemalas yang tidak mau melakukan hal yang mudah, bahkan lebih mudah daripada menyalakan aplikasi instant messenger dan nge-BUZZ orang sembarangan. iya kan?
catatan:
maaf nih lagi uring-uringan, kalau tidak berkenan, silakan abaikan…
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
20 Januari 2010
Saya suka mendengarkan musik, hidup ini rasanya sepi tanpa musik, ditambah saya yang lebih banyak hidup sendirian dan jarang keluar rumah/kostan membuat saya sering berbetah-betah di kamar sambil mendengarkan alunan lagu. Saya bukan musisi, bukan pula orang yang mengerti musik secara teoritis karena saya tidak pernah belajar musik secara formal. saya hanya pendengar biasa, yang mendapat suatu kepuasan ketika mendengarkan musik, tanpa mengetahui secara mendetail mengenai harmoni, notasi, kunci dan sebagainya.
Untuk mendengarkan musik tersebut memang dibutuhkan sebuah alat bernama speaker atau pengeras suara. nah yang menjadi masalah, beberapa waktu belakangan saya tidak pernah puas dengan pengeras suara yang ada, baik berupa pengeras suara meja (desktop), headphone maupun earphone. Waktu pertama membeli komputer built up Acer, pengeras suara bawaanya sangat jelek, tidak jauh beda dengan pengeras suara generik berharga dibawah 50 ribu rupiah. untunglah kakak saya berbaik hati memerikan saya sebuah pengeras suara yang lebih besar dan bertenaga bermerek Philips lengkap dengan subwoofer. awalnya saya sangat senang karena melihat merek yang cukup ternama mungkin akan memberikan suara yang lebih baik, faktanya ternyata untuk ukuran merek setenar itu dan ukuran pengeras suara yang cukup besar, suara yang dihasilkan bisa dibilang mengecewakan. bukan tidak kencang, tapi tidak jernih dan bersih seperti yang diharapkan, padahal kalau melihat harganya cukup mahal menurut saya, benar-benar kecewa deh…

Pengeras Suara Philips
Untuk mengobati kekecewaan tersebut, saya sempatkan mengumpulkan uang untuk membeli earphone, dari dulu saya memang sudah berniat ingin membeli earphone untuk pemakaian sendiri, maklum di tempat kost kadang tidak enak kalau ingin mendengar musik kencang-kencang tapi takut menganggu tetangga sebelah, earphone menjadi solusi yang oke bagi saya. akhirnya ada juga kesempatan membeli earphone di sebuah toko musik, sekalian membeli CD kalau tidak salah ingat. harga earphonenya sendiri menurut saya cukup mahal, hampir 2x lipat harga CD musik luar. kebetulan waktu itu earphone yang saya beli bermerek sama dengan pengeras suara meja milik saya, yaitu Philips. heran, seperti tidak ada kapoknya saya membeli merk ini, tapi bukan tanpa alasan, produk yang tersedia di toko tersebut memang cuma merek itu, hampir setiap cabang toko tersebut yang saya datangi juga hanya menyediakan merek tersebut.
Ketika saya coba, saya harus menelan kekecewaan lagi, suara dari earphone ‘mahal’ tadi tidak lebih baik dari earphone puluhan ribu yang biasa dijual bersamaan dengan pemutar musik digital buatan Cina. ah… kecewa lagi, entah kenapa merek tersebut kok mengecewakan yah untuk urusan pengeras suara? untung saja saya tidak membeli headphone yang harganya diatas setengah juta, mungkin suaranya juga tidak lebih baik dari ini.
Karena kecewa akhirnya saya jual earphone tersebut ke seorang teman, kebetulan dia sedang butuh earphone. syukurlah teman saya itu menyukainya dan berani membelinya, walaupun harus saya lepas dengan setengah harga. untuk mengobati kekecewaan tadi dan karena saya masih butuh pengeras suara “pribadi” akhirnya uang hasil menjual earphone tadi saya belikan headphone “murah” dengan merek tidak jelas (tidak populer), harganya tidak mahal, masih dibawah 100 ribu rupiah, yang mengejutkan, suara yang dihasilkan dari headphone murah tadi sedikit lebih baik dari earphone ‘bermerek’ yang sebelumnya saya jual, kekecewaan saya sedikit terobati, dengan harga relatif murah bisa dapat produk yang lumayan bisa memuaskan saya, kenapa tidak dari dulu saja ya?

Shure SE530
Sebenarnya ada satu model pengeras suara yang menjadi target saya, tepatnya sebuah earphone bermerek Shure. seperti yang kita ketahui, Shure adalah merek untuk produk-produk audio profesional, seperti mikrofon maupun pengeras suara kelas studio. namun yang menjadi dambaan saya ini bukan produk profesional, menurut webnya produk ini masuk ke dalam kategori “personal audio“. namun, dasar merek “pro”, ternyata harganya pun tidak murah, sebuah earphone Shure SE530 Sound Isolating Earphones dihargai hampir 500 dollar Amerika, wah… mungkin kalau dirupiahkan bisa mencapai 5 jutaan. setelah tahu harganya akhirnya saya sadar kalau produk tersebut hanya impian belaka, sudah dipastikan saya tidak akan mampu membelinya
Saya sebenarnya bukan seorang audiophile yang menuntut kesempurnaan audio, saya hanya ingin suara yang bersih dan jernih saja, walaupun tidak sampai sekelas audio studio maupun audiophile yang penting suara yang dihasilkan cukup bagus. kira-kira ada saran ngga untuk merek pengeras suara yang bagus tapi terjangkau? jangan bilang Simbadda, saya sampai saat ini belum pernah puas dengan pengeras suara Simbadda, mungkin yang agak memenuhi kriteria saya baru Creative dan Altec Lansing, tapi kembali ke harga, kedua merek tersebut memang cukup mahal. ah serba salah, selera (sok) tinggi tapi budget pas-pasan… hehe…
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
18 Januari 2010
Duapuluh empat, bukan angka yang kecil. duapuluh empat harus lebih baik dari sebelumnya, duapuluh empat harus tercapai semua cita-cita, duapuluh empat kehidupan sebenarnya dimulai.
Yah… sekarang saya genap, duapuluh empat.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan: