28 Januari 2010
Baru-baru ini ada sebuah fitur baru diluncurkan oleh dua layanan video sharing populer YouTube dan Vimeo yaitu fitur video player dengan HTML5. dengan menggunakan video player HTML5 ini, kita tidak usah menggunakan flash player untuk memainkan video yang ada di situs tersebut, melainkan bisa diputar secara native karena di render langsung oleh peramban (browser) yang sudah mendukung standar baru HTML5.

Ilustrasi
Konon, sampai saat ini peramban yang didukung oleh kedua situs tersebut baru Google Chrome, Apple Safari dan Internet Explorer dengan pengaya Chrome Frame, karena baru peramban inilah yang sudah mendukung standar HTML5 secara baik, saya belum tahu apakah peramban terbaru yang sedang populer sekarang Firefox 3.6 sudah mendukung HTML5 dan didukung oleh kedua situs video sharing tersebut atau belum.
Untuk mengaktifkan mode HTML5 player cukup mudah, pada situs Vimeo, coba buka saja salah satu video, kemudian cari di bagian kanan bawah tidak jauh dari jendela video, klik tulisan switch to HTML5 Player. Untuk situs YouTube juga sama mudahnya, caranya masuk ke halaman http://youtube.com/html5, pada halaman itu akan ada keterangan apakah peramban yang anda pakai sudah mendukung HTML5 atau belum, jika sudah, klik Join the HTML5 Beta di bagian bawah, maka setiap video yang anda putar nantinya akan diputar dengan HTML5 Player.
Saya sendiri sudah mencoba kedua “fitur” baru tersebut, walau masih dalam status “percobaan” tapi hasilnya cukup bagus, terutama untuk video yang diputar dari situs Vimeo, hampir tidak ada perbedaan dengan flash player yang mereka miliki, baik dari segi performa maupun antarmuka player -nya. Untuk situs YouTube pun demikian, namun sepertinya performanya tidak sebaik Vimeo, seringkali video tersendat dan stuck di tengah (bukan karena loading/buffering), setiap membuka satu video pun indikator video buffer (warna merah) selalu terisi penuh, padahal proses loading belum dimulai, ini artinya sistem tidak bekerja dengan semestinya. Dalam percobaan tersebut saya menggunakan peramban Google Chrome, saya belum mencoba dengan peramban lain, bisa saja hasilnya berbeda, karena proses rendernya memang sangat tergantung dari perambannya itu sendiri, berbeda dengan flash player yang dirender oleh plugin Adobe Flash Player.
Saya sendiri berharap HTML5 ini menjadi standar umum dalam waktu dekat, termasuk untuk video player, dengan demikian kita tidak selalu harus bergantung kepada pengaya pihak ketiga seperti Flash Player, setiap peramban bisa menampilkan isi situs yang interaktif tanpa memerlukan banyak pengaya. Namun (lagi-lagi) konon, untuk mencapai standar HTML5 yang sempurna masih jauh, jadi sepertinya kita masih harus lebih bersabar lagi.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
17 Januari 2010
Pada tulisan sebelumnya beberapa waktu lalu, saya sempat mengeluhkan mengenai plugin Browser Sniff yang tidak bisa mendeteksi peramban (browser) Google Chrome saya, setiap kali menggunakan Google Chrome, plugin tersebut mendeteksinya sebagai Safari yang berjalan pada sistem operasi Mac OS X, padahal kadang saya menggunakan Google Chrome versi Linux atau Windows. Hal ini terjadi karena sang pembuat plugin yaitu om Priyadi tidak memperbaharui plugin buatannya itu, sehingga belum bisa mendeteksi peramban Google Chrome yang terhitung baru, dia mendeteksi sebagai Safari karena masih menggunakan render engine yang sama yaitu WebKit. Selain itu, sistem operasi terbaru dari Microsoft yaitu Windows 7 belum terdeteksi oleh plugin ini.
Barusan saya iseng-iseng buka berkas plugin Browser Sniff yang hanya terdiri dari satu buah berkas PHP, ceritanya pengen nyobain otak-atik, siapa tahu bisa memperbaiki ‘bug’ tersebut, setelah beberapa menit melototin kode PHP (yang sama sekali tidak saya mengerti), bermodal logika kecil-kecilan saya simpulkan saja kalau ingin mendeteksi suatu sistem operasi maupun peramban baru, tinggal menambahkan saja entri baru ke barisan kode tersebut, bedanya tinggal bedakan saja “identifier” dari entri tersebut. Setiap peramban memiliki user agent yang bisa memberitahukan jenis peramban, versi maupun sistem operasi yang digunakan, dari data user agent inilah plugin Browser Sniff mengambil data untuk ditampilkan di bagian komentar pada suatu blog berbasis WordPress. nah jika kita ingin menambahkan entri baru, tinggal masukan saja identifier peramban dan sistem operasi yang baru ke entri tersebut, sehingga peramban dan sistem operasi baru bisa dikenali oleh plugin ini.
Langsung saja ke langkah editing, untuk menambahkan fungsi agar bisa mendeteksi peramban Google Chrome, cukup menambahkan baris kode berikut ke berkas:
1
2
3
4
5
6
7
8
9
| } elseif (preg_match('#Chrome/([a-zA-Z0-9.]+)#i', $ua, $matches)) {
$browser_name = 'Google Chrome';
$browser_code = 'chrome';
$browser_ver = $matches[1];
if (preg_match('/Windows/i', $ua)) {
list($os_name, $os_code, $os_ver) = pri_windows_detect_os($ua);
} else {
list($os_name, $os_code, $os_ver) = pri_unix_detect_os($ua);
} |
Nah sekarang tinggal memasukan kode agar plugin tersebut juga bisa mendeteksi sistem operasi Windows 7, kodenya sebagai berikut:
1
2
3
4
| } elseif (preg_match('/Windows NT 6.1/i', $ua)) {
$os_name = "Windows";
$os_code = "windows";
$os_ver = "7"; |
Perhatikan identifier kernel untuk Windows 7 adalah Windows NT 6.1, sehingga apabila user agent peramban memberikan data kernel tersebut, maka akan dikenali sebagai Windows 7. sekarang mari kita lihat hasilnya, setelah di otak atik kodenya, ternyata Browser Sniff berhasil mendeteksi peramban Google Chrome dan sistem operasi Windows 7 seperti terlihat di gambar berikut:

Browser Sniff bisa mendeteksi Google Chrome dan Windows 7
Cukup mudah bukan? anda bisa memasukan/mengetikan kode-tersebut di berkas plugin Browser Sniff dengan menggunakan plugin editor yang ada di WordPress maupun editor teks lainnya, atau jika masih bingung dan takut salah mau menyisipkannya dimana? silakan unduh berkasnya yang telah saya perbaharui disini. selamat mencoba.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
10 Januari 2010
Untuk mengelola berkas pada suatu media kita memang membutuhkan aplikasi yang bernama File manager. kalau di komputer sendiri (lokal) aplikasi tersebut sudah tersedia dalam sistem operasi seperti Explorer (Windows), Dolphin atau Nautilus (Linux/xBSD) maupun Finder (Mac). nah bagaimana kalau berkas yang ingin kita kelola berada di server nun jauh disana? sebenarnya gampang-gampang saja sih, kita bisa menggunakan FTP client untuk mengelolanya, misal untuk mengunggah, unduh, salin maupun memindahkan berkas dari satu direktori ke direktori lain, namun sayangnya, menggunakan aplikasi ini tidak begitu praktis apalagi jika kita biasa berpindah-pindah tempat dalam mengakses internet seperti dari warnet atau kampus, menggunakan aplikasi FTP yang bisa dibawa-bawa dalam flashdisk juga sebenarnya tidak begitu praktis, karena aplikasi tersebut hanya bisa berjalan di satu sistem operasi, dan bagaimana jika kita lupa membawa flashdisk?

Tampilan eXtplorer (klik untuk memperbesar)
Nah solusinya adalah dengan aplikasi file manager berbasis web, saat ini saya menggunakan eXtplorer sebagai file manager untuk web saya. penggunaannya sangat gampang, ketika telah terinstall kita tinggal login via web dan tada… munculah tampilan file manager yang cukup lengkap dan mudah digunakan, layaknya file manager di desktop. proses instalasinya sendiri cukup mudah, hanya tinggal extract di server kemudian jalankan saja, tidak memutuhkan koneksi ke database maupun aplikasi lain di server, cukup dengan PHP saja karena aplikasi ini berbasis PHP dan AJAX.
Fungsinya sangat terasa jika anda sering berpindah2 tempat yang berbeda dengan sistem operasi yang bebeda pula, karena berbasis web, dia bisa dibuka dimana saja dan dengan sistem operasi apa saja. Pekerjaan mengelola berkas di server menjadi lebih mudah dengan adanya eXplorer ini.
eXtplorer bisa berdiri sendiri sebagai satu aplikasi independen tapi bisa juga dijadikan sebagai modul di Joomla atau Mambo sehinga menjadi bagian dari file manager CMS tersebut. eXtplorer adalah aplikasi open source, anda bisa menggunakannya dengan bebas tanpa dipungun biaya, begitupun jika anda ingin memodifikasinya sesuai kebutuhan pun tidak dilarang karena anda dibebaskan untuk itu, mau coba? silakan mampir ke situsnya disini.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
9 Desember 2009
Hari ini, bertepatan dengan hari anti korupsi, tiba-tiba saya mendapatkan sebuah surel (email) dari Google, memberitahukan bahwa Google Chrome for Linux and Mac sudah tersedia untuk publik dalam versi Beta . Saya sendiri memang sudah cukup lama menggunakan Google Chrome ini pada Linux, namun saat itu saya mendapat tautan untuk mengunduhnya melalui “jalan belakang”, dari tautan untuk para pengembang (developer), bukan untuk umum. versinya pun belum versi Beta, masih alpha kalau tidak salah, dan nama paket di Linux-pun masih bernama google-chrome-unstable. saat itu, jika anda menggunakan Mac atau Linux kemudian membuka situsnya, maka hanya akan tertampil informasi mengenai akan adanya Google Chrome versi Linux dan Mac namun tidak memberikan tautan untuk mengunduh (karena belum dilepas untuk publik).

Karikatur Google Chrome
Hari ini secara resmi Chrome untuk Mac dan Linux diluncurkan dalam versi beta, anda bisa mengunduhnya langsung dari situsnya (ya! sekarang mereka telah menyediakan tautan unduh disana
), bagi yang penasaran silakan mencobanya. Google Chrome adalah perambah (browser) yang dikembangkan oleh Google yang merupakan pengembangan dari Chromium, perambah bersumber terbuka (open source) yang menggunakan Layout Engine Webkit sama seperti yang digunakan oleh perambah Safari dari Apple yang awal mulanya berasal dari layout engine KHTML yang digunakan pada perambah Konqueror yang terdapad di dekstop KDE (Linux, Unix, BSD).
Saya sendiri baru saja menginstall ulang Google Chrome di sistem Ubuntu saya, ternyata ketika menginstall tidak bisa menimpa begitu saja instalasi yang sudah ada, karena sebelumnya saya menggunakan google-chrome-unstable, sehingga terjadi konflik, proses instalasi meminta untuk menghapus terlebih dahulu instalasi lama, setelah itu baru Google Chrome Beta ini bisa dipasang di komputer saya. Fitur yang paling terasa dari versi sebelumnya adalah dukungan terhadap Extension yang lebih baik, sekarang sudah tersedia cukup banyak extension untuk Chrome, anda bisa melihat-lihatnya disini. Dengan adanya fitur extension ini, Google Chrome akan semakin canggih dan fungsional, tidak kalah dengan perambah Firefox, selain itu fitur penggantian kulit (skin) pun sekarang sudah tersedia (yang ini memang sudah ada cukup lama), jadi tidak usah khawatir dengan tampilan aslinya, jika bosan tinggal ganti kulit saja. Tertarik?
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
5 Desember 2009
Pada tanggal 3 Desember 2009 lalu, Google memperkenalkan sebuah produk baru yaitu Google Public DNS melalui blog resminya. DNS atau domain name server adalah server yang mengarahkan nama domain yang kita ketik di addressbar browser ke alamat IP dari server website tersebut, misal kita mengetikan http://www.google.com, maka DNS akan mengarahkannya ke IP 74.125.53.100 yang merupakan IP server Google, sehingga situs Google bisa kita akses.

ilustrasi
Secara default, ketika kita mengakses internet, DNS yang kita pakai adalah DNS dari ISP, misal dari Telkom, Indosat, dll. memang dengan menggunakan DNS dari ISP pun sebenarnya sudah cukup memuaskan, namun kita juga diberi kebebasan untuk mengganti DNS tersebut, misal dengan openDNS, Nawala Project atau yang terbaru ini Google Public DNS. Menurut kabar, katanya Google Public DNS ini memberikan akses yang lebih cepat dalam berselancar, makanya karena penasaran akhirnya saya pun mencoba menggunakan DNS ini. untuk menggunakannya anda cukup mengganti alamat IP DNS yang ada di network setting sistem operasi anda, ganti dengan alamat IP dengan 8.8.8.8 atau 8.8.4.4 yang merupakan alamat IP dari Google Public DNS ini, cukup gampang diingat bukan?
Setelah mencobanya, saya rasakan memang aksesnya cukup cepat walaupun tidak signifikan, awalnya saya agak skeptis dengan DNS ini karena berdasarkan pengalaman saya, kalau mengganti DNS dengan bukan DNS bawaan ISP biasanya lebih lambat, tapi ternyata tidak dengan DNS dari Google ini. hasilnya juga cukup memuaskan, bahkan beberapa situs atau layanan yang tidak bisa dibuka oleh DNS dari ISP bisa dibuka dengan DNS dari Google ini, misal teman saya tadi mengalami kesulitan untuk login ke Yahoo! Messenger, tapi saya yang menggunakan DNS dari Google tidak mengalami hal tersebut. untuk urusan keamanan dan privasi, Google pun memberi jaminan kalau data kita aman dan tidak disalahgunakan, dengan demikian kita bisa berselancar dengan lebih cepat, aman dan nyaman. mau mencoba?
Tulisan lain yang mungkin berkaitan: