18 Januari 2010
Saat ini mesin blog WordPress telah tersedia dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, namun secara umum instalasi WordPress biasanya menggunakan Bahasa Inggris, termasuk apabila anda menginstallnya melalui aplikasi autoinstaller yang ada pada fasilitas web hosting. Nah bagaimana caranya menambahkan/merubah instalasi WordPress agar menjadi berbahasa Indonesia? berikut akan saya jelaskan langkah-langkahnya.
Ada dua cara untuk menjadikan WordPress berbahasa Indonesia, yang pertama adalah dengan menginstall ulang WordPress dengan instalasi baru yang berbahasa Indonesia, berkasnya bisa diunduh disini. untuk cara instalasinya bisa ditemukan pula pada web yang sama.
Cara kedua adalah menambahkan paket (berkas) bahasa Indonesia pada instalasi WordPress yang sudah ada (berbahasa Inggris), cara ini terhitung lebih aman dan mudah dibanding dengan menginstall kembali aplikasi WordPress yang baru.
Langkah pertama adalah mengunduh berkas id_ID.mo (paket bahasa) untuk bahasa Indonesia disini. Kemudian buat sebuah direktori baru bernama /languages dalam direktori /wp-contents pada instalasi WordPress anda, unggah berkas id_ID.mo tadi ke dalam direktori /wp-contents/languages yang telah anda buat sebelumnya. Untuk mengatur berkas dan direktori pada server bisa melakukannya melalui klien FTP seperti FileZilla maupun melalui pengelola berkas berbasis web.
Setelah berkas selesai diunggah, langkah berikutnya adalah membuka dan mengedit berkas wp-config.php yang ada di root instalasi WordPress, kemudian cari baris berikut:
Setelah itu, rubah baris tadi menjadi:
1
| define ('WPLANG', 'id_ID'); |
nama id_ID adalah identifikasi untuk Bahasa Indonesia, bagian ini bisa diganti sesuai kebutuhan dengan bahasa lain, tentu saja dengan menyertakan berkas .mo sesuai bahasa yang akan digunakan.
Seteleah selesai mengubah berkas wp-config.php tadi, simpanlah perubahannya, selesai! sekarang instalasi WordPress anda telah berubah menjadi Bahasa Indonesia, perubahan bahasa ini berpengaruh pula pada penamaan hari, tanggal dan bulan pada blog, juga untuk beberapa komponen lain menjadi tersesuaikan menjadi berbahasa Indonesia. cukup mudah bukan? selamat mencoba.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
20 Desember 2009
Seperti biasanya, menjelang akhir tahun adalah hari-hari istimewa terutama bagi umat Nasrani karena pada tanggal 25 Desember bertepatan dengan hari raya Natal. Di barat (Amerika), Natal identik dengan hadiah-hadiah, terutama bagi anak-anak, bahkan ada satu tokoh khas yang menjadi idola dan imajinasi anak-anak yaitu Santa Claus. Santa adalah tokoh berupa bapak-bapak tua berjenggot panjang yang dipercaya suka memberikan hadiah-hadiah menarik bagi anak-anak dimalam natal.
Nah yang menarik, di Indonesia kita mengenal istilah Sinterklas atau yang lebih tepat ditulis Sinterklaas, sering kali kita salah kaprah dalam menggambarkan Sinterklaas ini. dulu saya beranggapan bahwa Sinterklaas adalah padanan bahasa Indonesia untuk Santa Claus, maklum saya bukan umat Nasrani jadi tidak begitu tahu banyak tentang hal ini, tapi memang tidak asing dengan nama ini.
Tapi tahukah anda, ternyata Sinterklaas dan Santa Claus itu adalah “orang” yang berbeda!? Sinterklaas adalah tokoh yang berasal dari eropa, asal usulnya sendiri melihat dari berbagai sumber memang bermacam-macam, namun karena dulu kita pernah “dijajah” Belanda, maka sinterklaas yang kita kenal sekarang sebenarnya adalah Sinterklaas versi Belanda dan berasal dari Belanda, dari segi penampilan pun Sinterklaas tidak sama dengan Santa Claus, Sinterklaas berpakaian seperti Paus atau Uskup yang menggunakan jubah dan topi lancip bergambar salib, “kemunculan”-nya pun sebenarnya tidak sama dengan Santa, menurut mitosnya Sinterklaas datang dan memberi hadiah pada anak-anak pada malam 5 Desember karena tanggal 6 Desember merupakan hari Sinterklaas.

Sinterklaas
Nah sedangkan Santa Claus adalah tokoh yang berkembang dari budaya Amerika, menurut cerita Santa ini berasal dari kutub, bepergian dengan kereta yang ditarik rusa dan datang pada anak-anak memberikan hadiah pada malam Natal (24 Desember), pakaiannya pun tidak seperti Sinterklaas, Santa memakai jaket tebal merah dan topi kerucut yang berujung bulat putih.

Santa Claus
Sayangnya di Indonesia sendiri memang sepertinya sering terjadi salah kaprah terhadap Sinterklaas dan Santa Claus ini, mengapa? karena biasanya Sinterklaas memang digambarkan sebagai Santa Claus, datang ketika malam natal dan perwujudan-nya pun seringkali digambarkan sebagai Santa Claus, bisa jadi inilah sebabnya saya pun dulu menganggap Sinterklaas=Santa Claus. nah karena sekarang sudah tau bedanya, jadi jangan salah kaprah lagi yah..
Untuk umat nasrani, saya ucapkan Selamat (menjelang) hari Natal.
Referensi (Wikipedia):
note:
mohon maaf jika tulisan ini terdapat kekurangan, mohon koreksi.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
2 Desember 2009
Pernah pakai email kan? atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut surel alias surat elektronik, nah ketika kita membalas suatu surel maka subjek atau judul dari surel tersebut akan diberi awalan (prefix) re: di bagian depannya, misalkan subjek aslinya:
halo apa kabar?
kemudian anda membalas surel tersebut, maka secara otomatis aplikasi klien surel (email client) akan merubah judul/subjeknya menjadi:
re: halo apa kabar?
Nah dari sini pasti banyak yang menyangka kalau re: didepan itu adalah kependekan dari reply (balas), benar kan? terus terang saya juga dulu menganggapnya begitu, tapi setelah membaca tweet dari mas Ivan Lanin, saya juga baru tahu kalau re: itu bukan kependekan dari Reply, tapi dari Rei/Res yang merupakan bahasa Latin yang artinya kurang lebih adalah “perihal”.
Ternyata ketidaktahuan akan arti sebenarnya dari kata Re: itu tidak hanya terjadi pada orang awam seperti kita (anda dan saya tentunya
), tapi juga bagi para programmer di layanan penyedia surel, contohnya Yahoo! mail Indonesia menterjemahkan Re: ini dengan Bls: yang merupakan kependekan dari “balas” – balas adalah terjemahan langsung dari Reply – berarti mereka juga menganggap bahwa Re: ini adalah Reply, iya kan?
Sekarang saya mengerti kenapa beberapa aplikasi klien surel (email client) kadang tidak menampilkan surel secara berurutan (threaded) ketika ada subjek yang berubah dari re: menjadi bls:, karena aplikasi tersebut tidak mengenal prefix re:, makanya ketika ada prefix baru dengan awalan bls: maka ia akan masuk ke thread/percakapan baru, bukan ke thread/percakapan semula, walaupun subjeknya tetap sama. makanya kalau di milis saya kadang suka agak kesal dengan balasan yang berisi subjek dengan prefix bertumpuk seperti "bls: re: bls: bls: re: re: halo apa kabar?", hal ini terjadi karena klien surel tidak mengenal prefix bls: sehingga membuatkannya thread baru, dan hal ini merusak urutan percakapan. jadi kalau memang re: ini merupakan kependekan dari rei/res, seharusnya prefix ini menjadi universal, apapun bahasa pengantar yang kita pakai, sebagai prefix balasan gunakanlah re: agar urutan percakapan tidak berantakan.
Catatan:
Mohon maaf jika anda agak bingung dan tidak terbiasa dengan istilah serapan seperti surel, saya hanya mencoba membiasakan menggunakan Bahasa Indonesia untuk istilah-istilah dalam dunia teknologi informasi.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
28 November 2009
Sekitar 2-3 tahun lalu, masyarakat Indonesia mungkin masih asing dengan kata ini, namun sekarang sepertinya kata “hoax” sudah mulai populer, hal ini terjadi karena memang arus informasi semakin mudah, akses ke internet semakin terjangkau sehingga penyebarluasan istilah “hoax” begitu cepat.
Saya sendiri melihat, masyarakat menjadi familiar dengan kata ini karena sering melihat/membacanya di forum terbesar di Indonesia (sebut saja Kaskus), disana banyak sekali thread dengan judul "bla..bla..bla.. hanya HOAX" atau "blablabla...no HOAX", nah dari seringnya muncul istilah hoax di forum tersebut membuat masyarakat tahu bahwa secara sekilas arti hoax=bohong.
Namun ada yang disayangkan, saya juga melihat banyak kesalahan konteks dalam penempatan kata hoax ini, hoax sebenarnya merujuk pada berita bohong, ya…hanya pada berita atau kabar bohong yang dimaksudkan untuk memperdaya para pembaca/publik agar mempercayai bahwa berita tersebut adalah benar, padahal sebenarnya adalah berita bohong, jadi intinya tidak semua yang bohong(an) itu disebut hoax, masih bingung? oke saya kasih contoh, misalnya konteksnya begini:
Kiamat tahun 2012 itu sebenarnya hanya hoax.
nah dari kalimat diatas menunjukan bahwa berita tentang kiamat akan terjadi tahun 2012 itu hanya hoax, hanya rumor belaka, jadi jangan percaya pada berita tersebut. sekarang saya beri contoh penempatan yang kurang tepat, misalnya:
Patung lilin itu mirip manusia, padahal cuma hoax.
Nah kalau melihat contoh diatas, penempatan kata hoax pada konteks diatas kurang tepat, karena kalimat diatas bukan merujuk pada sebuah berita, tapi hanya mengatakan kalau patung lilin itu palsu, tapi palsu disini bukan kabar palsu, tapi hanya benda yang menyerupai asli.
Kemudian hal lain yang menurut saya cukup aneh adalah menggunakan huruf kapital untuk HOAX, kenapa harus kapital? hoax bukan singkatan atau akronim kok! apa karena setiap melihat di forum2 selalu tertulis kapital? ya mungkin itu cuma sekedar penegas saja, tapi tidak ada keharusan menulis hoax dengan huruf kapital, tapi sayangnya beberapa kalangan masyarakat meanggapnya harus begitu, terbukti saya pernah melihat di beberapa posting blog yang menuliskan kata hoax selalu dengan huruf kapital, entah aturan dari mana
Saya disini hanya beropini saja, saya juga bukan ahli bahasa, saya pun masih sering melakukan kesalahan dalam berbahasa, tapi apa salahnya berbagi? betul ngga…??
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
27 November 2009
Pernah dengar “Jojoba”? bukan Jomblo-Jomblo Bahagia loh… tapi jojoba oil yang biasanya ada pada produk2 perawatan tubuh, tapi yan kita bahas disini bukan mengenai jojoba oil dan manfaatnya, tapi pelafalan kata “jojoba” itu sendiri. Yang saya tahu (dan menurut wikipedia pun begitu), Jojoba itu dibaca ho-ho-bah bukan jo-jo-ba seperti yang biasa diucapkan dalam iklan2. aneh memang, seharusnya dalam iklan itu menggunakan ejaan baku, bukan asal dengar seperti itu. tidak lucu kan kalu di iklan menyebut Rice dengan “ri-ceu” bukan “rais“?! tapi karena jojoba ini tidak umum, jadi ketika diucapkan “jojoba” pun tidak banyak orang yang ngeh kalau itu salah.
Nama jojoba diambil dari bahasa latin (Mexico, tempat asalnya), dalam bahasa Latin, huruf “J” dibaca “H”, makanya nama Julio dibaca hulio, begitu pun dengan jojoba yang dibaca ho-ho-bah. kesalahan pengucapan yang dianggap lazim seperti ini juga terjadi pada penyebutan nama klub sepak bola Italia, misalnya Juventus seharusnya dibaca yuventus, tapi karena kita sudah terbiasa, bahkan di berita televisi pun mereka masih sering menyebutnya “juventus”. Untunglah ada salahsatu iklan di radio yang pernah saya dengar sudah ngeh dengan kesalahan ini, dalam iklannya mereka menyindir iklan lain yang biasa menyebut “jojoba”, kutipannya kira2 begini:
hah? Jojoba? ho-ho-ba kali!! hahaha…. *tertawa mengejek*
Jadi, mulai sekarang yuk kita pakai pengucapan yang benar, bukan jo-jo-ba, tapi ho-ho-ba(h)
. oh iya, untungnya Haji Jaja Miharja bukan orang Latin, kalu iya nanti namanya jadi Hahi Haha Miharha donk….hehe…
*garing*
Tulisan lain yang mungkin berkaitan: