Carrier-Based Aircraft

12 Februari 2010

Pesawat terbang berbasis kapal induk (carrier-based aircraft) adalah pesawat yang digunakan oleh angkatan laut maupun marinir yang dioperasikan dari atas dek kapal induk. Tidak banyak negara yang memiliki pesawat jenis ini terutama pesawat tempur karena memang negara yang memiliki kapal induk tidaklah banyak. Negara yang memiliki kapal induk terbanyak tentu saja negara adidaya Amerika Serikat. AS memiliki belasan kapal induk kelas Nimitz yang merupakan kapal induk terbesar saat ini, plus beberapa kapal induk kelas lain.

Pesawat terbang berbasis kapal induk memiliki karakteristik tersendiri, seperti misalnya bisa mendarat maupun lepas landas pada landasan pendek dalam hal ini kapal induk, bahkan beberapa tipe bisa mendarat secara vertikal seperti helikopter. secara umum pesawat berbasis kapal induk ada dua macam yaitu CATOBAR (Catapult Assisted Take Off But Arrested Recovery) dan STOVL (Short Take Off and Vertical Landing).

CATOBAR

Pesawat jenis CATOBAR (Catapult Assisted Take Off But Arrested Recovery) adalah pesawat terbang yang lepas landas dibantu oleh alat semacam katapel yang terdapat di kapal induk dan menggunakan kabel penangkap untuk mendaratnya. Pesawat jenis ini hampir mirip dengan pesawat konvensional yang terbang pada landasan di darat, namun karena landasannya sangat pendek maka pesawat membutuhkan “pendorong” tambahan agar bisa lepas landas dengan sempurna, untuk itu digunakanlah semacam katapel yang ditenagai secara hidrolik yang bisa melemparkan pesawat dari kondisi diam ke kecepatan ratusan KM/jam dalam waktu beberapa detik saja.

Katapel ini dibutuhkan karena pesawat jet modern rata-rata memiliki kecepatan lepas landas minimum yang cukup tinggi, sehingga kalau hanya mengandalkan kecepatan kapal plus arah angin yang berlawanan masih belum cukup untuk menerbangkan pesawat tempur mutakhir, oleh karena itu katapel berkekuatan tinggi dibutuhkan untuk membantu lepas landas.

Ketika melakukan pendaratan pun pesawat model ini tidak bisa mendarat begitu saja. proses pendaratan di kapal induk termasuk sangat sulit, arah angin yang tidak jelas serta kapal induk yang terus bergerak menjadi faktor penambah kesulitannya, selain itu landasan yang sangat pendek juga makin menambah tingkat kesulitan. Untuk itu ketika mendarat, pesawat jenis ini memiliki semacam kaitan (hook) yang nantinya akan menyangkut ke kabel-kabel penangkap (arrester) yang dibentangkan sepanjang landasan. ketika mendarat kaitan akan terkait ke kabel dan pesawat akan tersangkut dan berhenti seketika, dengan demikian landasan yang pendek tidak lagi menjadi masalah.

Berbeda dengan pendaratan di daratan, mendarat di kapal induk kecepatan pesawat justru dijaga agar tetap tinggi, bahkan ketika roda menyentuh dek, kondisi throttle (semacam gas) dalam kondisi penuh, baru setelah hook terkait dengan kabel, throttle diturunkan ke nol. Bukan apa-apa, hal ini untuk menjaga kalau-kalau proses pendaratan gagal dan pesawat bisa lepas landas kembali dan mencoba lagi proses pendaratan, kalau tidak bisa-bisa pesawat malah bablas dan tercebur ke laut.

Jenis pesawat model CATOBAR yang aktif saat ini tidak banyak, karena hanya beberapa negara saja yang memiliki kapal induk yang besar dan bisa dijadikan basis bagi pesawat model ini, beberapa diantaranya adalah Boeing F/A-18 (semua tipe), Dassault Rafale, F-35C Lightening II, F-14 Tomcat, C-2 Greyhound , EA-6 Prowler, dll.

STOVL

Jenis pesawat STOVL (Short Take Off and Vertical Landing) adalah pesawat yang berbasis di kapal induk yang bisa lepas landas di landasan pendek (dek kapal) tanpa bantuan katapel dan dapat mendarat secara vertikal layaknya helikopter. Pesawat jenis ini cukup unik dan jumlahnya juga cukup sedikit. keunikan yang paling terlihat adalah kemampuannya mendarat secara vertikal seperti yang biasa kita lihat di film-film fiksi. kemampuan ini didapat karena dorongan jet (thrust) bisa diputar kebawah sehingga daya dorong menjadi kebawah bukan ke belakang, dengan demikian pesawat bisa melayang (hover) dan mendarat secara vertikal.

Karena model pesawat STOVL ini memerlukan mekanisme yang cukup rumit terutama pada bagian pendaratan vertikal sehingga daya dorong mesin harus bisa diputar ke bawah, maka harga dari pesawat STOVL ini pun biasanya cukup mahal. Pesawat yang bisa melakukan ini sampai saat ini baru AV-8 harrier keluaran Amerika Serikat Yakovlev Yak-38 Rusia dan Harrier Inggris, Namun kedepannya akan ada pesawat F-35B yang bisa melakukan kemampuan serupa.

Untuk mengoperasikan pesawat STOVL tidaklah memerlukan kapal induk yang terlalu besar, karena hanya membutuhkan landasan pendek untuk terbang dan “alas” untuk mendarat, tidak perlu repot-repot menggunakan katapel dan kabel penangkap untuk lepas landas dan mendarat, oleh karena itu beberapa negara yang tidak terlalu “kaya” bisa mengoperasikan pesawat model ini tanpa harus memiliki kapal induk besar yang jauh lebih mahal.

Selain kedua model pesawat bersayap tetap diatas, kapal induk juga biasanya mengoperasikan helikopter untuk keperluan lain, misal untuk angkut logistik maupun operasi kapal selam. Dalam sebuah kapal induk besar seperti kelas Nimitz milik Amerika serikat, bisa mengangkut sekitar 80-90 pesawat, sedangkan untuk kapal induk negara lain seperti Inggris, Perancis maupun Italia jumlahnya lebih sedikit lagi karena memang ukuran kapal yang mereka miliki tidak sebesar punya AS, apalagi kalau membandingkan jumlahnya, tidak ada yang bisa menandingi atau bahkan mendekati jumlah yang dimiliki Amerika Serikat. Maka dari itu, tidak salah kalau AL AS merupakan AL terkuat di dunia.

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes