Bisnis “Aggressor”

31 Januari 2010

Untuk meningkatkan kemampuan para pilotnya, militer Amerika serikat seringkali mengadakan latihan rutin, salahsatu latihan yang cukup penting adalah latihan tempur udara. Agar kemampuan tempur para pilot semakin tajam, simulasi tempur yang mendekati kondisi nyata kerap kali dilakukan, untuk mendukung latihan tersebut dibutuhkan pemeran “musuh” yang biasa disebut Aggressor. Amerika Serikat sendiri memiliki skadron khusus yang tugasnya cukup spesifik yaitu sebagai aggressor dalam tiap latihan. saking khususnya, pesawat-pesawat yang dimiliki skadron-skadron ini dicat khusus pula menyerupai pesawat-pesawat yang dimiliki para “musuh” Amerika seperti Rusia, Iran, Korea Selatan maupun Cina. Saat ini AS memiliki 3 skadron aggressor di AU, 3 di AL dan 1 di Marinir.

Jet aggressor swasta

Jet aggressor swasta Top Aces

Jika dibandingkan dengan jumlah total pesawat tempur yang dimiliki AS, jelas jumlah skadron aggressor tersebut dirasa sangat kurang sehingga tidak bisa “melayani” seluruh latihan yang diadakan skadron-skadron tempur AS yang banyak itu. Untuk menutupi kekurangan itu tidak jarang militer AS mengontrak pihak swasta untuk turut serta dalam latihan tempur. Di Amerika dan Kanada ternyata ada beberapa perusahaan yang khusus bergerak di bidang “penyewaan aggressor“, bentuk bisnisnya sendiri menurut saya cukup unik, perusahaan-perusaahan ini membeli pesawat tempur bekas militer dari berbagai negara, menyewa (mempekerjakan) mantan-mantan pilot tempur sebagai pilot di perusahaan mereka, kemudian perusahaan ini nantinya dikontrak (outsource) oleh militer sebagai “aggressor” dalam latihan tempur. Kenapa memilih pihak swasta, bukannya dari pihak militer sendiri masih banyak? kadangkala, pesawat-pesawat tempur reguler (non aggressor) cukup sibuk menjalankan misi perang (sungguhan) di luar sana, selain itu pilot-pilot ’swasta’ ini kemampuannya tidak kalah jago dari pilot-pilot militer menjadikannya tantangan tersendiri bagi para penerbang militer sebagai lawan tanding.

Saat ini setidaknya ada empat perusahaan swasta yang biasa dikontrak oleh Militer AS sebagai rekanan aggressor, yaitu ATAC, TopAces, ATSI dan Hunter Team. Keempat perusahaan ini menyediakan armada jet tempur mereka untuk membantu latihan tempur militer AS seperti AU, AL dan Marinir. Pesawat-pesawat yang mereka miliki biasanya berbeda dengan yang dimiliki militer AS saat ini karena biasanya pesawat-pesawat ini didapat dari negara lain (non AS) atau bekas pakai AS yang sudah nonaktif. tapi perbedaan jenis pesawat ini justru menjadikan “sensasi” sendiri ketika latihan, simulasi tempur akan terasa lebih “nyata” karena lawan mereka benar-benar asing.

Bagi kita di sini mungkin akan merasa sedikit aneh dan janggal ketika melihat pesawat jet tempur tetapi dimiliki oleh sipil (swasta) dan memiliki marking logo perusahaan bukannya logo skadron seperti yang biasa kita lihat, tapi di Amerika (dan Kanada) hal tersebut sudah lumrah, bahkan masih banyak perusahaan lain yang memiliki pesawat-pesawat tempur bekas militer yang disewakan ke warga sipil sebagai paket “tamasya” atau aerobat (atraksi udara). Jika penasaran daftarnya bisa dilihat disini. Berbeda dengan perusahaan rekanan aggressor, perusahaan-perusahaan ini menyewakan pesawatnya untuk wisata warga sipil, bukan sebagai rekanan latihan perang.

Kira-kira di Indonesia ada nggak yah perusahaan semacam ini? setahu saya sih belum ada, tapi entahlah, saya sendiri belum tahu persis. kalaupun ada, mungkin tidak akan laku, melihat kondisi AU kita sendiri yang kekurangan dana, jangankan untuk mengontrak pihak swasta, untuk operasional dan pengadaan pesawat di AU sendiri saja masih sangat sulit, tapi kalau target pasarnya negara luar sih bisa saja. namun yang perlu diingat, walaupun bekas, harga jet-jet tempur ex-militer itu tidak murah, tidak jarang masih di kisaran belasan atau bahkan puluhan juta dollar, jadi memang ini bukan bisnis kecil-kecilan.

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes