20 Januari 2010
Saya suka mendengarkan musik, hidup ini rasanya sepi tanpa musik, ditambah saya yang lebih banyak hidup sendirian dan jarang keluar rumah/kostan membuat saya sering berbetah-betah di kamar sambil mendengarkan alunan lagu. Saya bukan musisi, bukan pula orang yang mengerti musik secara teoritis karena saya tidak pernah belajar musik secara formal. saya hanya pendengar biasa, yang mendapat suatu kepuasan ketika mendengarkan musik, tanpa mengetahui secara mendetail mengenai harmoni, notasi, kunci dan sebagainya.
Untuk mendengarkan musik tersebut memang dibutuhkan sebuah alat bernama speaker atau pengeras suara. nah yang menjadi masalah, beberapa waktu belakangan saya tidak pernah puas dengan pengeras suara yang ada, baik berupa pengeras suara meja (desktop), headphone maupun earphone. Waktu pertama membeli komputer built up Acer, pengeras suara bawaanya sangat jelek, tidak jauh beda dengan pengeras suara generik berharga dibawah 50 ribu rupiah. untunglah kakak saya berbaik hati memerikan saya sebuah pengeras suara yang lebih besar dan bertenaga bermerek Philips lengkap dengan subwoofer. awalnya saya sangat senang karena melihat merek yang cukup ternama mungkin akan memberikan suara yang lebih baik, faktanya ternyata untuk ukuran merek setenar itu dan ukuran pengeras suara yang cukup besar, suara yang dihasilkan bisa dibilang mengecewakan. bukan tidak kencang, tapi tidak jernih dan bersih seperti yang diharapkan, padahal kalau melihat harganya cukup mahal menurut saya, benar-benar kecewa deh…

Pengeras Suara Philips
Untuk mengobati kekecewaan tersebut, saya sempatkan mengumpulkan uang untuk membeli earphone, dari dulu saya memang sudah berniat ingin membeli earphone untuk pemakaian sendiri, maklum di tempat kost kadang tidak enak kalau ingin mendengar musik kencang-kencang tapi takut menganggu tetangga sebelah, earphone menjadi solusi yang oke bagi saya. akhirnya ada juga kesempatan membeli earphone di sebuah toko musik, sekalian membeli CD kalau tidak salah ingat. harga earphonenya sendiri menurut saya cukup mahal, hampir 2x lipat harga CD musik luar. kebetulan waktu itu earphone yang saya beli bermerek sama dengan pengeras suara meja milik saya, yaitu Philips. heran, seperti tidak ada kapoknya saya membeli merk ini, tapi bukan tanpa alasan, produk yang tersedia di toko tersebut memang cuma merek itu, hampir setiap cabang toko tersebut yang saya datangi juga hanya menyediakan merek tersebut.
Ketika saya coba, saya harus menelan kekecewaan lagi, suara dari earphone ‘mahal’ tadi tidak lebih baik dari earphone puluhan ribu yang biasa dijual bersamaan dengan pemutar musik digital buatan Cina. ah… kecewa lagi, entah kenapa merek tersebut kok mengecewakan yah untuk urusan pengeras suara? untung saja saya tidak membeli headphone yang harganya diatas setengah juta, mungkin suaranya juga tidak lebih baik dari ini.
Karena kecewa akhirnya saya jual earphone tersebut ke seorang teman, kebetulan dia sedang butuh earphone. syukurlah teman saya itu menyukainya dan berani membelinya, walaupun harus saya lepas dengan setengah harga. untuk mengobati kekecewaan tadi dan karena saya masih butuh pengeras suara “pribadi” akhirnya uang hasil menjual earphone tadi saya belikan headphone “murah” dengan merek tidak jelas (tidak populer), harganya tidak mahal, masih dibawah 100 ribu rupiah, yang mengejutkan, suara yang dihasilkan dari headphone murah tadi sedikit lebih baik dari earphone ‘bermerek’ yang sebelumnya saya jual, kekecewaan saya sedikit terobati, dengan harga relatif murah bisa dapat produk yang lumayan bisa memuaskan saya, kenapa tidak dari dulu saja ya?

Shure SE530
Sebenarnya ada satu model pengeras suara yang menjadi target saya, tepatnya sebuah earphone bermerek Shure. seperti yang kita ketahui, Shure adalah merek untuk produk-produk audio profesional, seperti mikrofon maupun pengeras suara kelas studio. namun yang menjadi dambaan saya ini bukan produk profesional, menurut webnya produk ini masuk ke dalam kategori “personal audio“. namun, dasar merek “pro”, ternyata harganya pun tidak murah, sebuah earphone Shure SE530 Sound Isolating Earphones dihargai hampir 500 dollar Amerika, wah… mungkin kalau dirupiahkan bisa mencapai 5 jutaan. setelah tahu harganya akhirnya saya sadar kalau produk tersebut hanya impian belaka, sudah dipastikan saya tidak akan mampu membelinya
Saya sebenarnya bukan seorang audiophile yang menuntut kesempurnaan audio, saya hanya ingin suara yang bersih dan jernih saja, walaupun tidak sampai sekelas audio studio maupun audiophile yang penting suara yang dihasilkan cukup bagus. kira-kira ada saran ngga untuk merek pengeras suara yang bagus tapi terjangkau? jangan bilang Simbadda, saya sampai saat ini belum pernah puas dengan pengeras suara Simbadda, mungkin yang agak memenuhi kriteria saya baru Creative dan Altec Lansing, tapi kembali ke harga, kedua merek tersebut memang cukup mahal. ah serba salah, selera (sok) tinggi tapi budget pas-pasan… hehe…
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
18 Januari 2010
Saat ini mesin blog WordPress telah tersedia dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, namun secara umum instalasi WordPress biasanya menggunakan Bahasa Inggris, termasuk apabila anda menginstallnya melalui aplikasi autoinstaller yang ada pada fasilitas web hosting. Nah bagaimana caranya menambahkan/merubah instalasi WordPress agar menjadi berbahasa Indonesia? berikut akan saya jelaskan langkah-langkahnya.
Ada dua cara untuk menjadikan WordPress berbahasa Indonesia, yang pertama adalah dengan menginstall ulang WordPress dengan instalasi baru yang berbahasa Indonesia, berkasnya bisa diunduh disini. untuk cara instalasinya bisa ditemukan pula pada web yang sama.
Cara kedua adalah menambahkan paket (berkas) bahasa Indonesia pada instalasi WordPress yang sudah ada (berbahasa Inggris), cara ini terhitung lebih aman dan mudah dibanding dengan menginstall kembali aplikasi WordPress yang baru.
Langkah pertama adalah mengunduh berkas id_ID.mo (paket bahasa) untuk bahasa Indonesia disini. Kemudian buat sebuah direktori baru bernama /languages dalam direktori /wp-contents pada instalasi WordPress anda, unggah berkas id_ID.mo tadi ke dalam direktori /wp-contents/languages yang telah anda buat sebelumnya. Untuk mengatur berkas dan direktori pada server bisa melakukannya melalui klien FTP seperti FileZilla maupun melalui pengelola berkas berbasis web.
Setelah berkas selesai diunggah, langkah berikutnya adalah membuka dan mengedit berkas wp-config.php yang ada di root instalasi WordPress, kemudian cari baris berikut:
Setelah itu, rubah baris tadi menjadi:
1
| define ('WPLANG', 'id_ID'); |
nama id_ID adalah identifikasi untuk Bahasa Indonesia, bagian ini bisa diganti sesuai kebutuhan dengan bahasa lain, tentu saja dengan menyertakan berkas .mo sesuai bahasa yang akan digunakan.
Seteleah selesai mengubah berkas wp-config.php tadi, simpanlah perubahannya, selesai! sekarang instalasi WordPress anda telah berubah menjadi Bahasa Indonesia, perubahan bahasa ini berpengaruh pula pada penamaan hari, tanggal dan bulan pada blog, juga untuk beberapa komponen lain menjadi tersesuaikan menjadi berbahasa Indonesia. cukup mudah bukan? selamat mencoba.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
18 Januari 2010
Duapuluh empat, bukan angka yang kecil. duapuluh empat harus lebih baik dari sebelumnya, duapuluh empat harus tercapai semua cita-cita, duapuluh empat kehidupan sebenarnya dimulai.
Yah… sekarang saya genap, duapuluh empat.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
17 Januari 2010
Pada tulisan sebelumnya beberapa waktu lalu, saya sempat mengeluhkan mengenai plugin Browser Sniff yang tidak bisa mendeteksi peramban (browser) Google Chrome saya, setiap kali menggunakan Google Chrome, plugin tersebut mendeteksinya sebagai Safari yang berjalan pada sistem operasi Mac OS X, padahal kadang saya menggunakan Google Chrome versi Linux atau Windows. Hal ini terjadi karena sang pembuat plugin yaitu om Priyadi tidak memperbaharui plugin buatannya itu, sehingga belum bisa mendeteksi peramban Google Chrome yang terhitung baru, dia mendeteksi sebagai Safari karena masih menggunakan render engine yang sama yaitu WebKit. Selain itu, sistem operasi terbaru dari Microsoft yaitu Windows 7 belum terdeteksi oleh plugin ini.
Barusan saya iseng-iseng buka berkas plugin Browser Sniff yang hanya terdiri dari satu buah berkas PHP, ceritanya pengen nyobain otak-atik, siapa tahu bisa memperbaiki ‘bug’ tersebut, setelah beberapa menit melototin kode PHP (yang sama sekali tidak saya mengerti), bermodal logika kecil-kecilan saya simpulkan saja kalau ingin mendeteksi suatu sistem operasi maupun peramban baru, tinggal menambahkan saja entri baru ke barisan kode tersebut, bedanya tinggal bedakan saja “identifier” dari entri tersebut. Setiap peramban memiliki user agent yang bisa memberitahukan jenis peramban, versi maupun sistem operasi yang digunakan, dari data user agent inilah plugin Browser Sniff mengambil data untuk ditampilkan di bagian komentar pada suatu blog berbasis WordPress. nah jika kita ingin menambahkan entri baru, tinggal masukan saja identifier peramban dan sistem operasi yang baru ke entri tersebut, sehingga peramban dan sistem operasi baru bisa dikenali oleh plugin ini.
Langsung saja ke langkah editing, untuk menambahkan fungsi agar bisa mendeteksi peramban Google Chrome, cukup menambahkan baris kode berikut ke berkas:
1
2
3
4
5
6
7
8
9
| } elseif (preg_match('#Chrome/([a-zA-Z0-9.]+)#i', $ua, $matches)) {
$browser_name = 'Google Chrome';
$browser_code = 'chrome';
$browser_ver = $matches[1];
if (preg_match('/Windows/i', $ua)) {
list($os_name, $os_code, $os_ver) = pri_windows_detect_os($ua);
} else {
list($os_name, $os_code, $os_ver) = pri_unix_detect_os($ua);
} |
Nah sekarang tinggal memasukan kode agar plugin tersebut juga bisa mendeteksi sistem operasi Windows 7, kodenya sebagai berikut:
1
2
3
4
| } elseif (preg_match('/Windows NT 6.1/i', $ua)) {
$os_name = "Windows";
$os_code = "windows";
$os_ver = "7"; |
Perhatikan identifier kernel untuk Windows 7 adalah Windows NT 6.1, sehingga apabila user agent peramban memberikan data kernel tersebut, maka akan dikenali sebagai Windows 7. sekarang mari kita lihat hasilnya, setelah di otak atik kodenya, ternyata Browser Sniff berhasil mendeteksi peramban Google Chrome dan sistem operasi Windows 7 seperti terlihat di gambar berikut:

Browser Sniff bisa mendeteksi Google Chrome dan Windows 7
Cukup mudah bukan? anda bisa memasukan/mengetikan kode-tersebut di berkas plugin Browser Sniff dengan menggunakan plugin editor yang ada di WordPress maupun editor teks lainnya, atau jika masih bingung dan takut salah mau menyisipkannya dimana? silakan unduh berkasnya yang telah saya perbaharui disini. selamat mencoba.
Tulisan lain yang mungkin berkaitan:
16 Januari 2010
Pernah kan tiba-tiba kepikiran sesuatu terus pinging mengungkapkannya dalam satu media? ya tentu saja bagi para narablog bisa langsung menuliskannya di blog, tumpahkan semua isi kepala disitu, plek! saya pun demikian, tapi kadang yang muncul ini bukan pemikiran-pemikiran berat dan panjang, hanya sepintas2 saja dan biasanya hal kecil dan remeh-temeh.
Biasanya saya menuliskan pikiran-pikiran kecil nan spontan itu di situs microblogging Twitter, namun seperti diketahui kalau Twitter ini hanya dibatasi sebanyak 140 karakter saja, yang kadangkala tidak cukup untuk menuliskannya disitu. “kenapa tidak di blog ini saja?” bisa saja sih, tapi kayaknya lebih sreg kalau dibuat khusus satu blog saja, yang isinya berupa pemikiran2 spontan, ringan (kadang konyol) dan pendek, tulisan yang terlalu pendek untuk ditulis disini, namun terlalu panjang untuk ditulis di Twitter dan akhirnya saya buat saja blognya disini.
Blog tersebut saya buat sangat simpel, sesuai yang saya inginkan, tanpa sidebar, tanpa embel-embel kategori, tag dan bahkan kadang tanpa judul di tiap postnya, ya benar-benar pendek dan spontan saja. kalau ada waktu dan sudi berkunjung silakan mampir kesana, kalopun tidak juga tidak apa-apa, saya tidak berharap apa2 dari blog itu, tidak terlalu berharap banyak dikomentari atau dikunjungi walaupun akan sangat senang sekali kalau memang ada yang berkunjung dan meninggalkan jejak komentar disana, ya intinya sih buat senang-senang saja. happy blogging..!!
http://random.hielmy.web.id
Tulisan lain yang mungkin berkaitan: