Tersambar Petir

6 Februari 2010

Musibah memang bisa datang kapan saja dan tidak terduga dan bisa menimpa siapa saja, termasuk saya. hari senin lalu saya mengalami musibah yg lumayan membuat stress juga, tersambar petir! tapi tenang saja, bukan saya kok yang tersambar petirnya tapi instalasi listrik disini yang terkena shock tegangan tinggi dari petir yang menyebabkan komputer saya rusak.

Kerusakan tepatnya menimpa UPS yang hangus, monitor LCD yang mati total dan sebuah switch LAN yang juga tewas. sedih memang, dikala lagi butuh2nya komputer dan internet malah mendapat musibah seperti ini, mana kondisi keuangan lagi sangat sangat seret dan mepet. ketika pulang dari kampus dan mendapati bau gosong di kamar saya sudah merasa tidak enak, pasti ada yang “kena” nih, dan benar saja, komputer saya tidak mau menyala. saya sampai bengong beberapa saat waktu itu, shock!

Untunglah, mulai hari ini saya sudah bisa kembali beraktifitas dengan komputer dan internet. berkat bantuan teman2, saya diberi keringanan untuk membeli sebuah monitor baru (yang kebetulan lebih oke dari sebelumnya) dan switch LAN sudah diganti pihak penyedia layanan internet. mudah-mudahan tidak terjadi lagi musibah serupa menimpa saya atau siapapun, bener-bener bikin stress.

duh nih ngeblog aja ngomongnya ngelantur, ya pokoknya begitu lah…

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

Bisnis “Aggressor”

31 Januari 2010

Untuk meningkatkan kemampuan para pilotnya, militer Amerika serikat seringkali mengadakan latihan rutin, salahsatu latihan yang cukup penting adalah latihan tempur udara. Agar kemampuan tempur para pilot semakin tajam, simulasi tempur yang mendekati kondisi nyata kerap kali dilakukan, untuk mendukung latihan tersebut dibutuhkan pemeran “musuh” yang biasa disebut Aggressor. Amerika Serikat sendiri memiliki skadron khusus yang tugasnya cukup spesifik yaitu sebagai aggressor dalam tiap latihan. saking khususnya, pesawat-pesawat yang dimiliki skadron-skadron ini dicat khusus pula menyerupai pesawat-pesawat yang dimiliki para “musuh” Amerika seperti Rusia, Iran, Korea Selatan maupun Cina. Saat ini AS memiliki 3 skadron aggressor di AU, 3 di AL dan 1 di Marinir.

Jet aggressor swasta

Jet aggressor swasta Top Aces

Jika dibandingkan dengan jumlah total pesawat tempur yang dimiliki AS, jelas jumlah skadron aggressor tersebut dirasa sangat kurang sehingga tidak bisa “melayani” seluruh latihan yang diadakan skadron-skadron tempur AS yang banyak itu. Untuk menutupi kekurangan itu tidak jarang militer AS mengontrak pihak swasta untuk turut serta dalam latihan tempur. Di Amerika dan Kanada ternyata ada beberapa perusahaan yang khusus bergerak di bidang “penyewaan aggressor“, bentuk bisnisnya sendiri menurut saya cukup unik, perusahaan-perusaahan ini membeli pesawat tempur bekas militer dari berbagai negara, menyewa (mempekerjakan) mantan-mantan pilot tempur sebagai pilot di perusahaan mereka, kemudian perusahaan ini nantinya dikontrak (outsource) oleh militer sebagai “aggressor” dalam latihan tempur. Kenapa memilih pihak swasta, bukannya dari pihak militer sendiri masih banyak? kadangkala, pesawat-pesawat tempur reguler (non aggressor) cukup sibuk menjalankan misi perang (sungguhan) di luar sana, selain itu pilot-pilot ’swasta’ ini kemampuannya tidak kalah jago dari pilot-pilot militer menjadikannya tantangan tersendiri bagi para penerbang militer sebagai lawan tanding.

Saat ini setidaknya ada empat perusahaan swasta yang biasa dikontrak oleh Militer AS sebagai rekanan aggressor, yaitu ATAC, TopAces, ATSI dan Hunter Team. Keempat perusahaan ini menyediakan armada jet tempur mereka untuk membantu latihan tempur militer AS seperti AU, AL dan Marinir. Pesawat-pesawat yang mereka miliki biasanya berbeda dengan yang dimiliki militer AS saat ini karena biasanya pesawat-pesawat ini didapat dari negara lain (non AS) atau bekas pakai AS yang sudah nonaktif. tapi perbedaan jenis pesawat ini justru menjadikan “sensasi” sendiri ketika latihan, simulasi tempur akan terasa lebih “nyata” karena lawan mereka benar-benar asing.

Bagi kita di sini mungkin akan merasa sedikit aneh dan janggal ketika melihat pesawat jet tempur tetapi dimiliki oleh sipil (swasta) dan memiliki marking logo perusahaan bukannya logo skadron seperti yang biasa kita lihat, tapi di Amerika (dan Kanada) hal tersebut sudah lumrah, bahkan masih banyak perusahaan lain yang memiliki pesawat-pesawat tempur bekas militer yang disewakan ke warga sipil sebagai paket “tamasya” atau aerobat (atraksi udara). Jika penasaran daftarnya bisa dilihat disini. Berbeda dengan perusahaan rekanan aggressor, perusahaan-perusahaan ini menyewakan pesawatnya untuk wisata warga sipil, bukan sebagai rekanan latihan perang.

Kira-kira di Indonesia ada nggak yah perusahaan semacam ini? setahu saya sih belum ada, tapi entahlah, saya sendiri belum tahu persis. kalaupun ada, mungkin tidak akan laku, melihat kondisi AU kita sendiri yang kekurangan dana, jangankan untuk mengontrak pihak swasta, untuk operasional dan pengadaan pesawat di AU sendiri saja masih sangat sulit, tapi kalau target pasarnya negara luar sih bisa saja. namun yang perlu diingat, walaupun bekas, harga jet-jet tempur ex-militer itu tidak murah, tidak jarang masih di kisaran belasan atau bahkan puluhan juta dollar, jadi memang ini bukan bisnis kecil-kecilan.

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

HTML5 Video Player

28 Januari 2010

Baru-baru ini ada sebuah fitur baru diluncurkan oleh dua layanan video sharing populer YouTube dan Vimeo yaitu fitur video player dengan HTML5. dengan menggunakan video player HTML5 ini, kita tidak usah menggunakan flash player untuk memainkan video yang ada di situs tersebut, melainkan bisa diputar secara native karena di render langsung oleh peramban (browser) yang sudah mendukung standar baru HTML5.

ilustrasi

Ilustrasi

Konon, sampai saat ini peramban yang didukung oleh kedua situs tersebut baru Google Chrome, Apple Safari dan Internet Explorer dengan pengaya Chrome Frame, karena baru peramban inilah yang sudah mendukung standar HTML5 secara baik, saya belum tahu apakah peramban terbaru yang sedang populer sekarang Firefox 3.6 sudah mendukung HTML5 dan didukung oleh kedua situs video sharing tersebut atau belum.

Untuk mengaktifkan mode HTML5 player cukup mudah, pada situs Vimeo, coba buka saja salah satu video, kemudian cari di bagian kanan bawah tidak jauh dari jendela video,  klik tulisan switch to HTML5 Player. Untuk situs YouTube juga sama mudahnya, caranya masuk ke halaman http://youtube.com/html5, pada halaman itu akan ada keterangan apakah peramban yang anda pakai sudah mendukung HTML5 atau belum, jika sudah, klik Join the HTML5 Beta di bagian bawah, maka setiap video yang anda putar nantinya akan diputar dengan HTML5 Player.

Saya sendiri sudah mencoba kedua “fitur” baru tersebut, walau masih dalam status “percobaan” tapi hasilnya cukup bagus, terutama untuk video yang diputar dari situs Vimeo, hampir tidak ada perbedaan dengan flash player yang mereka miliki, baik dari segi performa maupun antarmuka player -nya. Untuk situs YouTube pun demikian, namun sepertinya performanya tidak sebaik Vimeo, seringkali video tersendat dan stuck di tengah (bukan karena loading/buffering), setiap membuka satu video pun indikator video buffer (warna merah) selalu terisi penuh, padahal proses loading belum dimulai, ini artinya sistem tidak bekerja dengan semestinya. Dalam percobaan tersebut saya menggunakan peramban Google Chrome, saya belum mencoba dengan peramban lain, bisa saja hasilnya berbeda, karena proses rendernya memang sangat tergantung dari perambannya itu sendiri, berbeda dengan flash player yang dirender oleh plugin Adobe Flash Player.

Saya sendiri berharap HTML5 ini menjadi standar umum dalam waktu dekat, termasuk untuk video player, dengan demikian kita tidak selalu harus bergantung kepada pengaya pihak ketiga seperti Flash Player, setiap peramban bisa menampilkan isi situs yang interaktif tanpa memerlukan banyak pengaya. Namun (lagi-lagi) konon, untuk mencapai standar HTML5 yang sempurna masih jauh, jadi sepertinya kita masih harus lebih bersabar lagi.

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

Mengamankan Username

27 Januari 2010

Situs jejaring sosial semakin populer, layanan online pun semakin banyak, membuat sebuah account di situs-situs tersebut sudah seperti kewajiban bagi para netizen. rasanya tidak gaul kalau belum punya account Facebook atau Twitter; merasa tidak punya identitas kalau belum punya Yahoo! ID maupun email. hampir bisa dipastikan anda yang membaca tulisan ini pun setidaknya telah mempunyai satu alamat email. ketika kita membuat satu account di suatu layanan, kita diberi sebuah nama pengenal yang biasa disebut username. Username adalah suatu nama sandi bagi account kita di layanan tersebut.

Username adalah nama unik, satu username hanya bisa digunakan sekali, tidak bisa ada duplikasi username dalam sebuah layanan yang sama, sehingga username ini bisa menjadi identitas kita di dunia maya. Dalam memilih username cara orang berbeda-beda, ada yang menggunakan nama asli seperti yang biasa saya lakukan, ada pula yang menggunakan nickname atau nama julukan, apapun username yang dipilih sah-sah saja, selama username tersebut belum dimiliki orang lain. oleh karena itu, “pengamanan” username kadang perlu dilakukan untuk mencegah nama kita dipakai oleh orang lain.

Dalam memilih usename, biasanya seseorang menggunakan nama yang sama untuk setiap account yang dimilikinya (walaupun tidak selalu demikian), tujuannya adalah selain untuk memperkuat self branding juga sebagai identitas dirinya agar mudah dikenali oleh orang lain.

Saya sendiri sejak dulu biasa mendaftar di layanan-layanan baru yang terkadang saya belum paham betul apa fungsi layanan tersebut, selain untuk mencoba seperti apakah layanan itu, juga untuk “mengamankan” username sebelum digunakan oleh orang lain. Saya bahkan sering mengalami hal lucu seperti ini, ketika saya mendaftar di sebuah situs ternyata username yang saya daftarkan ditolak karena telah dimiliki orang lain, saya cukup heran juga mengingat nama saya ini jarang ada yang punya dan jarang digunakan orang lain. setelah saya lihat ke profil “yang bersangkutan” ternyata dia itu saya sendiri yang telah mendaftar disana beberapa waktu sebelumnya, bisa sampai lupa begitu, hehe…

Bagi anda yang biasa menggunakan username yang cukup “umum” misal menggunakan nama depan yang dimiliki orang banyak seperti Budi, Indra, Putri, Rina, dll. harus lebih sigap lagi dalam mengamankan username, bukan tidak mungkin nama tersebut sudah keburu didaftarkan orang lain, kalau sudah begitu kita cuma bisa gigit jari. bukan apa-apa, terkadang orang lain mengenal kita dari username kita, tapi ketika “bertemu” di suatu jejaring misalnya dan bertemu nama yang sama bisa-bisa nantinya salah sambung karena username yang biasa kita pakai sudah didahului orang lain.

Mengamankan nama ini sebenarnya bukan terpaku pada username ID untuk sebuah account di layanan online, tapi berlaku juga untuk nama domain dan alamat email, jadi sebelum didahului orang lain sebaiknya anda buru-buru mendaftarkan nama anda sebelum keduluan orang lain dan menyesal nantinya. :)

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

“Need You Now” is out now!

26 Januari 2010

Album terbaru dari grup trio Lady Antebellum yang berjudul “Need You Now” resmi dirilis hari ini (26 Januari 2010), sebuah kabar gembira bagi para penggemar band country ini. Sebelumnya Lady Antebellum telah melepas single pertama dari album ini yang berjudul sama yaitu “Need You Now”, single tersebut sangat sukses di pasaran, bahkan mendapat penghargaan platinum karena telah sukses terjual lebih dari satu juta copy dan menjadi nomor satu selama lima minggu berturut-turut. Lagu “Need You Now” sendiri telah dibuat videoklipnya beberapa waktu lalu. berikut adalah video klipnya:

Single kedua dari album ini yaitu “American Honey” baru saja akan dibuat video klipnya, pengambilan gambarnya sendiri baru selesai dibuat kemarin (25 Januari 2010), kemungkinan tidak akan lama lagi video klip tersebut bisa kita saksikan di televisi maupun internet.

Sampul album "Need You Now"

Lady Antebellum (atau biasa juga disebut Lady A) adalah sebuah grup band yang terdiri dari tiga musisi muda berbakat, yaitu Dave Haywood, Charles Kelley dan satu orang perempuan, Hilary Scott. Band ini dibentuk tahun 2006 oleh ketiga orang tersebut. sebagai informasi saja, Charles Kelley adalah saudara dari artis pop Josh Kelley dan Hilary Scott adalah putri dari penyanyi country legendaris Linda Davis.

Format dari Lady A ini sendiri adalah vocal group+band, artinya semua anggota dari band ini adalah vokalis, namun tidak hanya bernyanyi, kedua anggota pria dari band ini juga bermain musik (instrumen). “Need You Now” adalah album kedua mereka, album pertama yang berjudul sama dengan nama band mereka, “Lady Antebellum” dirilis tahun 2008 silam. album tersebut membuat nama mereka melesat seperti roket, sampai akhirnya album kedua mereka pun menjadi salah satu most waited album di kancah musih country, sungguh prestasi yang luar biasa, hanya dalam waktu singkat nama mereka begitu cepat populer.

Sayangnya, sepertinya album-album mereka belum masuk ke pasar musik Indonesia. beberapa waktu lalu saya sempat mencari CD pertama mereka  di beberapa toko musik di Bandung, tapi tidak menemukannya, kemungkinan untuk album kedua pun demikian, ya mungkin karena nama mereka kurang dikenal disini, tidak seperti di negara asalnya Amerika.

But anyway, it’s still a good news!! *at least for me, hehe…*

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes