Dulu ketika format VideoCD mulai muncul, saya sudah cukup puas dengan gambar yang dihasilkan, memang waktu itu pun saya tidak memperhatikan seberapa besar resolusinya, yang jelas tampak sama saja di televisi saya, tidak ada bedanya dengan film-film yang disiarkan televisi. tapi setelah dilihat di layar komputer baru kelihatan “aslinya”, ternyata resolusinya rendah, tepatnya 352×240 untuk NTSC dan 352×288 untuk PAL.
Kemudian beberapa tahun kemudian munculah format video dalam bentuk DVD, resolusinya memang lebih tinggi dari VCD yaitu 720×576 untuk PAL dan 720×480 untuk NTSC. Ketika saya bandingkan dengan resolusi video dari siaran televisi rasanya memang DVD ini lebih bagus, ya memang faktanya demikian karena resolusi siaran televisi tidak jauh beda dengan VCD. Sampai saat itu, saya menganggap bahwa resolusi terbaik untuk video ya setara DVD ini dan sempat berpikir bahwa resolusi “asli” dari film pun memang segini, karena gambar yang dihasilkan begitu tajam, rasanya tidak mungkin bisa lebih tajam lagi dari ini.
Kemudian munculah format High Definition Video atau lebih dikenal dengan HD saja. Format ini ternyata memiliki resolusi yang lebih tinggi dari DVD, secara umum ada dua format populer untuk HD video yaitu 720i dan 1080i. 720i memiliki resolusi 1280×720 interlaced (i dari kata interlaced) sedangkan 1080i adalah1440×1080 interlaced. Sampai disini saya kembali berpikir, “wah kok bisa yah ada video dengan resolusi setinggi ini? kameranya seperti apa?”, saya bertanya demikian karena berpikir sebelumnya kalau kamera film saja resolusinya setara DVD, berarti kamera untuk HD ini pasti lebih hebat lagi? dan ternyata, sampai disini saya salah lagi….!!
RED Digital Cinema Camera
Sampai saat ini sebagian besar proses pembuatan “film” masih menggunakan kamera dan media film (seluloid) untuk merekamnya, bukan dengan kamera digital. Saya sempat penasaran, kok di jaman modern begini masih menggunakan film sebagai media rekam? ternyata kualitas gambar yang dihasilkan film belum tertandingi sampai saat ini. Memang kita tidak bisa membandingkan secara langsung antara film vs digital ini karena formatnya yang berlainan, namun kalau misalkan saja diukur dengan satuan pixel, maka resolusi yang dihasilkan film 35mm itu setara 22 megapixel, atau bahkan lebih tergantung dari kualitas kamera, lensa dan filmnya itu sendiri. Bandingkan dengan video HD dengan resolusi 1440×1080 pixel saja jika dikalikan hanya menjadi 1.5 megapixel, tidak sampai 10% dari resolusi film.
Singkatnya, jika suatu saat nanti ada teknologi lebih tinggi yang dapat menghasilkan resolusi video yang lebih besar (misalkan 4 megapixel), film-film lama masih bisa direproduksi untuk dijadikan video dengan resolusi sebesar itu, karena “master” dari film-film itu sendiri ada dalam bentuk film (seluloid) yang beresolusi lebih tinggi, sehingga gambar yang dihasilkan masih dalam keadaan baik, bukan hasil perbesaran atau interpolasi.
Namun disisi lain, dunia perfilman tidak lepas dari sentuhan teknologi digital. saat ini sudah ada beberapa produsen kamera yang membuat kamera digital untuk film. Kamera film digital tidak sama dengan kamera video, film-film berbudget rendah seperti film-film Indonesia biasanya melakukan shooting dengan kamera video yang biasa digunakan untuk dunia broadcast (televisi) yang nantinya setelah proses post-production baru diblow-up ke film seluloid untuk disajikan di proyektor bioskop. Kamera film digital memiliki kualitas lebih baik dari kamera video, resolusi yang sangat tinggi dan lensa yang berkualitas. Tujuan dari kamera film digital sendiri memang untuk menggantikan kamera film konvensional bukan untuk dunia broadcast, sehingga standarnya pun disesuaikan untuk kebutuhan film, termasuk aksesorisnya misal rel, lensa, dll.
Salahsatu produsen kamera film digital yang terkenal adalah RED. Sudah cukup banyak film sukses yang dibuat dengan kamera digital RED ini, diantaranya Slumdog Millionaire, Jumper, Knowing, Angels & Demon, District 9, The Lovely Bones, dll. Sepintas memang gambar yang dihasilkan oleh kamera film digital ini sama saja dengan hasil dari kamera film, hal ini wajar saja, karena kebanyakan film walaupun mengambil gambar menggunakan film, tapi untuk proses editing biasanya film-film “mentah” tadi discan dalam bentuk digital dalam format 2K, sedangkan kamera RED mampu merekam bahkan sampai format 4K, sehingga pada akhirnya resolusi yang dihasilkan bisa setara. sebagai perbandingan ukuran resolusi video DVD, HD, 2K atau 4K silakan lihat gambar ilustrasi dibawah ini.
Perbandingan Resolusi Video Film (klik untuk memperbesar)
Dari gambar diatas bisa dilihat kalau format DVD (kotak paling kecil) tidak ada apa-apanya dibanding format film. ukuran yang paling besar (berwarna merah) adalah format 28K yang rencananya akan dikembangkan oleh RED. Maksud dari “K” disini adalah kilo atau ribu pixel untuk ukuran resolusi horizontal. jadi 28K artinya video tersebut memiliki resolusi 28.000×9.334 pixel atau total sekitar 261 megapixel, angka yang sangat besar untuk ukuran video, bahkan untuk foto pun masih sangat jarang yang bisa mencapai angka sebesar itu.
Dari sini saya akhirnya mengetahui kalau standar format video untuk film itu adalah sangat tinggi. baik film ataupun digital sama-sama memiliki resolusi yang sangat tinggi. tidak heran mengapa ketika muncul format video baru untuk kalangan rumahan (VCD, DVD dan HD) tidak menjadi kendala untuk sebuah film (bahkan untuk film keluaran tahun 70an) dirubah kedalam format tersebut karena format aslinya memang jauh lebih besar.
Catatan:
Uraian diatas hanyalah penjelasan secara awam dari saya yang mempelajari teknis format film hanya dalam satu malam saja, jika ada kesalahan atau kekurangan mohon koreksinya. Terima Kasih.
Pesawat terbang berbasis kapal induk (carrier-based aircraft) adalah pesawat yang digunakan oleh angkatan laut maupun marinir yang dioperasikan dari atas dek kapal induk. Tidak banyak negara yang memiliki pesawat jenis ini terutama pesawat tempur karena memang negara yang memiliki kapal induk tidaklah banyak. Negara yang memiliki kapal induk terbanyak tentu saja negara adidaya Amerika Serikat. AS memiliki belasan kapal induk kelas Nimitz yang merupakan kapal induk terbesar saat ini, plus beberapa kapal induk kelas lain.
Pesawat terbang berbasis kapal induk memiliki karakteristik tersendiri, seperti misalnya bisa mendarat maupun lepas landas pada landasan pendek dalam hal ini kapal induk, bahkan beberapa tipe bisa mendarat secara vertikal seperti helikopter. secara umum pesawat berbasis kapal induk ada dua macam yaitu CATOBAR (Catapult Assisted Take Off But Arrested Recovery) dan STOVL (Short Take Off and Vertical Landing).
CATOBAR
Pesawat jenis CATOBAR (Catapult Assisted Take Off But Arrested Recovery) adalah pesawat terbang yang lepas landas dibantu oleh alat semacam katapel yang terdapat di kapal induk dan menggunakan kabel penangkap untuk mendaratnya. Pesawat jenis ini hampir mirip dengan pesawat konvensional yang terbang pada landasan di darat, namun karena landasannya sangat pendek maka pesawat membutuhkan “pendorong” tambahan agar bisa lepas landas dengan sempurna, untuk itu digunakanlah semacam katapel yang ditenagai secara hidrolik yang bisa melemparkan pesawat dari kondisi diam ke kecepatan ratusan KM/jam dalam waktu beberapa detik saja.
Katapel ini dibutuhkan karena pesawat jet modern rata-rata memiliki kecepatan lepas landas minimum yang cukup tinggi, sehingga kalau hanya mengandalkan kecepatan kapal plus arah angin yang berlawanan masih belum cukup untuk menerbangkan pesawat tempur mutakhir, oleh karena itu katapel berkekuatan tinggi dibutuhkan untuk membantu lepas landas.
Ketika melakukan pendaratan pun pesawat model ini tidak bisa mendarat begitu saja. proses pendaratan di kapal induk termasuk sangat sulit, arah angin yang tidak jelas serta kapal induk yang terus bergerak menjadi faktor penambah kesulitannya, selain itu landasan yang sangat pendek juga makin menambah tingkat kesulitan. Untuk itu ketika mendarat, pesawat jenis ini memiliki semacam kaitan (hook) yang nantinya akan menyangkut ke kabel-kabel penangkap (arrester) yang dibentangkan sepanjang landasan. ketika mendarat kaitan akan terkait ke kabel dan pesawat akan tersangkut dan berhenti seketika, dengan demikian landasan yang pendek tidak lagi menjadi masalah.
Berbeda dengan pendaratan di daratan, mendarat di kapal induk kecepatan pesawat justru dijaga agar tetap tinggi, bahkan ketika roda menyentuh dek, kondisi throttle (semacam gas) dalam kondisi penuh, baru setelah hook terkait dengan kabel, throttle diturunkan ke nol. Bukan apa-apa, hal ini untuk menjaga kalau-kalau proses pendaratan gagal dan pesawat bisa lepas landas kembali dan mencoba lagi proses pendaratan, kalau tidak bisa-bisa pesawat malah bablas dan tercebur ke laut.
Jenis pesawat model CATOBAR yang aktif saat ini tidak banyak, karena hanya beberapa negara saja yang memiliki kapal induk yang besar dan bisa dijadikan basis bagi pesawat model ini, beberapa diantaranya adalah Boeing F/A-18 (semua tipe), Dassault Rafale, F-35C Lightening II, F-14 Tomcat, C-2 Greyhound , EA-6 Prowler, dll.
STOVL
Jenis pesawat STOVL (Short Take Off and Vertical Landing) adalah pesawat yang berbasis di kapal induk yang bisa lepas landas di landasan pendek (dek kapal) tanpa bantuan katapel dan dapat mendarat secara vertikal layaknya helikopter. Pesawat jenis ini cukup unik dan jumlahnya juga cukup sedikit. keunikan yang paling terlihat adalah kemampuannya mendarat secara vertikal seperti yang biasa kita lihat di film-film fiksi. kemampuan ini didapat karena dorongan jet (thrust) bisa diputar kebawah sehingga daya dorong menjadi kebawah bukan ke belakang, dengan demikian pesawat bisa melayang (hover) dan mendarat secara vertikal.
Karena model pesawat STOVL ini memerlukan mekanisme yang cukup rumit terutama pada bagian pendaratan vertikal sehingga daya dorong mesin harus bisa diputar ke bawah, maka harga dari pesawat STOVL ini pun biasanya cukup mahal. Pesawat yang bisa melakukan ini sampai saat ini baru AV-8 harrier keluaran Amerika Serikat Yakovlev Yak-38 Rusia dan Harrier Inggris, Namun kedepannya akan ada pesawat F-35B yang bisa melakukan kemampuan serupa.
Untuk mengoperasikan pesawat STOVL tidaklah memerlukan kapal induk yang terlalu besar, karena hanya membutuhkan landasan pendek untuk terbang dan “alas” untuk mendarat, tidak perlu repot-repot menggunakan katapel dan kabel penangkap untuk lepas landas dan mendarat, oleh karena itu beberapa negara yang tidak terlalu “kaya” bisa mengoperasikan pesawat model ini tanpa harus memiliki kapal induk besar yang jauh lebih mahal.
Selain kedua model pesawat bersayap tetap diatas, kapal induk juga biasanya mengoperasikan helikopter untuk keperluan lain, misal untuk angkut logistik maupun operasi kapal selam. Dalam sebuah kapal induk besar seperti kelas Nimitz milik Amerika serikat, bisa mengangkut sekitar 80-90 pesawat, sedangkan untuk kapal induk negara lain seperti Inggris, Perancis maupun Italia jumlahnya lebih sedikit lagi karena memang ukuran kapal yang mereka miliki tidak sebesar punya AS, apalagi kalau membandingkan jumlahnya, tidak ada yang bisa menandingi atau bahkan mendekati jumlah yang dimiliki Amerika Serikat. Maka dari itu, tidak salah kalau AL AS merupakan AL terkuat di dunia.
Baru-baru ini ada sebuah fitur baru diluncurkan oleh dua layanan video sharing populer YouTube dan Vimeo yaitu fitur video player dengan HTML5. dengan menggunakan video player HTML5 ini, kita tidak usah menggunakan flash player untuk memainkan video yang ada di situs tersebut, melainkan bisa diputar secara native karena di render langsung oleh peramban (browser) yang sudah mendukung standar baru HTML5.
Ilustrasi
Konon, sampai saat ini peramban yang didukung oleh kedua situs tersebut baru Google Chrome,Apple Safari dan Internet Explorer dengan pengaya Chrome Frame, karena baru peramban inilah yang sudah mendukung standar HTML5 secara baik, saya belum tahu apakah peramban terbaru yang sedang populer sekarang Firefox 3.6 sudah mendukung HTML5 dan didukung oleh kedua situs video sharing tersebut atau belum.
Untuk mengaktifkan mode HTML5 player cukup mudah, pada situs Vimeo, coba buka saja salah satu video, kemudian cari di bagian kanan bawah tidak jauh dari jendela video, klik tulisan switch to HTML5 Player. Untuk situs YouTube juga sama mudahnya, caranya masuk ke halaman http://youtube.com/html5, pada halaman itu akan ada keterangan apakah peramban yang anda pakai sudah mendukung HTML5 atau belum, jika sudah, klik Join the HTML5 Beta di bagian bawah, maka setiap video yang anda putar nantinya akan diputar dengan HTML5 Player.
Saya sendiri sudah mencoba kedua “fitur” baru tersebut, walau masih dalam status “percobaan” tapi hasilnya cukup bagus, terutama untuk video yang diputar dari situs Vimeo, hampir tidak ada perbedaan dengan flash player yang mereka miliki, baik dari segi performa maupun antarmuka player -nya. Untuk situs YouTube pun demikian, namun sepertinya performanya tidak sebaik Vimeo, seringkali video tersendat dan stuck di tengah (bukan karena loading/buffering), setiap membuka satu video pun indikator video buffer (warna merah) selalu terisi penuh, padahal proses loading belum dimulai, ini artinya sistem tidak bekerja dengan semestinya. Dalam percobaan tersebut saya menggunakan peramban Google Chrome, saya belum mencoba dengan peramban lain, bisa saja hasilnya berbeda, karena proses rendernya memang sangat tergantung dari perambannya itu sendiri, berbeda dengan flash player yang dirender oleh pluginAdobe Flash Player.
Saya sendiri berharap HTML5 ini menjadi standar umum dalam waktu dekat, termasuk untuk video player, dengan demikian kita tidak selalu harus bergantung kepada pengaya pihak ketiga seperti Flash Player, setiap peramban bisa menampilkan isi situs yang interaktif tanpa memerlukan banyak pengaya. Namun (lagi-lagi) konon, untuk mencapai standar HTML5 yang sempurna masih jauh, jadi sepertinya kita masih harus lebih bersabar lagi.
Facebook sekarang telah menjadi layanan jejaring terbesar di dunia, sudah ratusan juta orang telah terdaftar sebagai anggotanya dari seantero bumi. ‘main’ Facebook memang mengasyikan, kita bisa saling terhubung dengan teman-teman, salah satu bentuk interaksinya adalah komentar pada post yang kita kirim, misall wall, foto, video, dll.
Ketika kita mengomentari suatu post atau post yang kita kirimkan ada yang mengomentari, biasanya Facebook memberikan notifikasi berupa email kepada kita, hal ini sebenarnya cukup berguna sekaligus juga menganggu. berguna karena kita diberi tahu bahwa post kita ada yang menanggapi sehingga kita bisa dengan segera mengeceknya, namun disisi lain notifikasi ini cukup menganggu, apalagi jika post kita dikomentari oleh banyak orang, bisa-bisa inbox di email kita penuh oleh notifikasi ini dan akhirnya kita merasa kalau email notifikasi ini tidak lebih dari sampah (spam), lagipula kita masih bisa melihat notifikasi dari statusbar di bagian kanan bawah halaman situs Facebook. Namun jika anda sekarang masih menganggap email tersebut sampah dan tidak berguna, coba pikirkan lagi, karena facebook punya fitur baru yang akan membuat email notifikasi tersebut lebih “berguna”.
Kemarin (13/01/2010) Facebook mengumumkan suatu fitur baru dari layanan jejaring sosial ini, yaitu membalas komentar melalui email. bagaimana caranya? cukup mudah, setiap notifikasi pasti dikirim berupa satu email tunggal, untuk membalas komentar dari notifikasi itu cukup tekan tombol “reply” pada aplikasi pengelola email anda layaknya membalas email biasa, setelah itu anda tinggal menuliskan balasan anda disitu dan kirim “send”. yah… memang semudah itu, semudah membalas email biasa saja, tidak ada format khusus untuk membalasnya, Facebook akan otomatis memasukannya ke post yang sedang dikomentari. untuk gambarannya bisa dilihat pada ilustrasi dibawah ini:
Nah, dengan adanya fitur baru ini, setidaknya email yang kita terima dari Facebook akan sedikit lebih berguna, kita bisa menggunakannya untuk membalas komentar tanpa harus masuk ke situs facebooknya sendiri, apalagi jika situs facebook di blokir di tempat anda namun masih bisa berinteraksi dengan teman-teman melalui email ini, fitur ini juga sangat terasa gunanya bagi anda pengguna layanan push mail, karena lebih mudah membalasnya melalui email. Jika anda sebelumnya mematikan fasilitas notifikasi email, tidak ada salahnya mengaktifkannya kembali dan mencoba fitur ini. selamat mencoba.
Lagi-lagi sang raksasa internet, Google, mengeluarkan produk baru, kali ini berupa layanan mobile bernama Google Goggles. Google Goggles adalah layanan pencarian untuk perangkat mobile berbasis Android. Dengan Google Goggles, untuk mencari tahu sesuatu dengan Google anda tidak usah mengetik apapun, cukup arahkan kamera ke objek yang ingin dicari informasinya, misalnya buku, foto, lukisan, tempat (gedung, toko, landmark, dll), atau bahkan teks dari kartu nama, setelah itu Google Goggles akan mencari informasinya dengan mencocokan gambar yang diambil dengan database pencarian dari Google. Masih bingung? mungkin video berikut bisa memberi gambaran lebih jelas….
Selain itu, Google Goggles memungkinkan untuk menampilkan informasi secara realtime dengan memanfaatkan kamera dan GPS, ketika anda mengarahkan kamera ke suatu tempat, misalnya sebuah toko, secara realtime data mengenai toko tersebut ditampilkan oleh Google Goggles (ilustrasi bisa dilihat pada video diatas), waw! canggih sekali bukan?!
Sayangnya penggunaan Google Goggles ini masih terbatas pada perangkat mobile yang berbasis sistem operasi Android saja yang memang dikeluarkan oleh Google sendiri, entahlah kedepannya apakah akan mendukung perangkat lain seperti iPhone atau BlackBerry atau memang eksklusif untuk Android saja, namun yang saya lihat, Google Goggles ini merupakan salahsatu terobosan Google yang luar biasa. Hebat, salut untuk Google .