“The Hurt Locker” from Mie’s Sight

11 Maret 2010

Secara mengejutkan, film yang tidak begitu heboh memenangkan penghargaan Academy Award 2010; “The Hurt Locker”. Film ini mengalahkan “Avatar” yang begitu digembar-gemborkan sebelumnya. Saya termasuk orang yang terkejut juga oleh kemenangan film yang tidak disangka-sangka ini, apalagi saya memang belum pernah mendengar tentang film ini sebelumnya. Dalam tulisan ini, saya akan mengulas film ini dari persepsi saya pribadi, dari seorang awam film yang kebetulan menyukai tema militer dari film ini.

Overiew

Plot dari film ini sendiri menceritakan tentang satu tim penjinak bom atau EOD (explosive ordnance disposal) US Army yang bertugas di Irak. Di awal cerita, tim ini kehilangan satu anggota-nya karena terkena ledakan bom. Seorang anggota pengganti didatangkan dan masuk kedalam tim kecil yang terdiri dari tiga orang ini, orang baru yang bernama William James ini rupanya agak nyeleneh, dia seperti penantang maut, menikmati pekerjaannya yang penuh resiko dan selalu membangkang. Namun dibalik sifat keras kepalanya ini, dia memang seorang penjinak bom yang hebat, semua misi dilaksanakannya dengan sukses. Sederhananya film yang termasuk genre drama ini adalah menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari tim EOD di medan perang, bagaimana pergolakan emosi mereka, ketakutan menghadapi kematian, dilema, dll. Namun alur “sederhana” itu dikemas dengan apik oleh sineas Kathryn Bigelow yang mendapat penghargaan sutradara terbaik di Academy Award kemarin.

Salah satu adegan dalam "The Hurt Locker"

Jika anda berharap akan menemukan adegan perang seru ala film “Rambo” dengan tokoh jagoan yang tak terkalahkan, anda akan kecewa. Tidak ada adegan one man show di film ini, semua tersaji begitu dramatis dan realistis. Perasaan was-was, tegang, takut dan getir berada dalam medan perang sangat terasa disini. Bagaimana emosi seorang prajurit yang begitu terguncang di medan perang tergambarkan dalam film ini. maka dari itu film ini lebih cocok disebut film drama daripada film perang karena lebih mengangkat sisi emosi dari karakternya dan mengedepankan cerita yang kuat dibanding dengan visual effect yang dahsyat maupun adegan-adegan seru menegangkan.

Sinematografi

Dari sisi sinematografi, film ini cukup unik. Pengambilan gambar menggunakan teknik ala film dokumenter dengan ciri khas kamera yang bergoyang-goyang dan zooming yang terkadang terkesan mendadak dan spontan. Namun “gambar goyang” tersebut tidak terkesan “amatir” seperti yang terdapat dalam film “Cloverfield”, “Paranormal Activity” atau “Blair Witch Project” yang memang sengaja dibuat seolah-olah film tersebut adalah rekaman asli dari video amatir yang dibuat tokohnya. Dalam “The Hurt Locker” kesan Hollywood masih terasa, hanya teknik kamera bergerak-nya saja yang menjadi khas, mungkin apabila mencari film sejenis, trilogi Jason Bourne bisa jadi rujukan.

Dalam pengambilan gambar sebagian besar adegan dalam film, kru film memilih menggunakan kamera film super 16mm yang lebih kompak dibanding kamera “full sized” 35mm yang umum digunakan dalam film Hollywood. Hal ini bukan tanpa alasan, kamera 35mm ukurannya tidaklah kecil dan sangat berat (mencapai belasan kg jika full gear), sehingga tidak mungkin bisa diangkat sendirian oleh kameraman yang akan mengambil gambar dengan teknik ala handycam. Pengaruh penggunaan kamera super 16mm (yang tentu saja kualitasnya dibawah 35mm) cukup terlihat pada gambar yang dihasilkan, gambar film tampak lebih grainy (terlihat “serbuk” film) dibanding film lain, hal ini akan jelas terlihat apabila anda menikmatinya dalam format High Definiton Video ataupun di layar bioskop.

The Gears

Barrett M82

Ini bagian yang paling saya suka: Military Gears! Terus terang hal ini menjadi salah satu alasan terkuat saya untuk menonton film ini selain karena telah memenangkan Oscar. Bagi pecinta dunia militer, menonton film ini seperti surga, banyak gear-gear keren dan modern tampak di film ini, mulai dari Seragam baru US Army yang keren lengkap dengan segala aksesorisnya, Senapan M4 sampai mobil jip Humvee.

Di awal adegan film, tampak personel EOD sedang mengoperasikan robot penjinak bom keluaran Remotec yang merupakan produk dari Northrop Grumman. Jip-jip Humvee lapis baja yang gagah, serta beberapa APC (armored personal carrier) tampak di beberapa adegan. Penggunaan seragam baru US Army yaitu ACU (army combat uniform) lengkap dengan rompi, helm dan segala aksesorisnya juga menjadi daya tarik tersendiri. Penampakan senapan serbu standar infantri AS Colt M4 juga sangat dominan di film ini, tampak para personel US Army menenteng M4 dengan aksesoris modular SOPMOD seperti telescopic butt-stock, forward grip dan red dot sight. Senapan sniper berat Barrett M82 kaliber .50 juga tidak lupa ikut nampang di film ini. Senapan mesin klasik M2 Browning yang terpasang di atap Humvee juga tidak luput dari perhatian saya.

Dari sisi para pemberontak Irak sendiri, senapan wajib pastinya AK-47. Sekelompok tentara bayaran (mercenary) yang ditemui tim EOD di tengah gurun juga terlihat menenteng AK-47 dan variannya. Kehadiran karakter mercenary dalam film ini juga cukup menarik, dari segi pakaian dan gear yang dipakai, cukup menggambarkan bagaimana penampilan para mercenary yang sebenarnya.

The Goofs

Tak ada gading yang tak retak, film ini pun sebenarnya tidaklah sempurna, banyak ‘cacat’ disana-sini namun beberapa masih bisa dimaklumi. Tapi dari sekian kesalahan dalam film ini, ada beberapa goof yang cukup mencolok. Salahsatu “keteledoran” dari pembuat film ini adalah digunakannya seragam baru US Army yaitu ACU sebagai seragam bagi para tentara yang ada dalam film, kenapa? Setting film ini adalah tahun 2004, sedangkan seragam ACU baru dipakai secara resmi tahun 2005. Hal kedua yang menjadi celah film ini adalah kesalahan memilih properti untuk jip Humvee yang digunakan. Humvee yang dipakai personel US Army dalam film ini adalah Humvee yang seharusnya digunakan oleh US Marine Corpse, ciri khasnya adalah adanya cerobong udara yang terlihat tegak berdiri di kap mesin. Untuk Korps Marinir, memang dibutuhkan humvee yang bisa “berenang” sehingga menggunakan cerobong udara keatas untuk sirkulasi udara mesin, tapi tidak untuk Army.

Kesimpulan

Secara keseluruhan film ini cukup bagus, tapi bagi saya tidak terlalu impresif. Saya tidak merasa harus menonton film ini berkali-kali, tidak seperti film Black Hawk Down misalnya yang bisa saya tonton berkali-kali tanpa merasa bosan. malah di beberapa adegann film ini terasa sangat membosankan, ya mungkin karena saya kadang agak susah mencerna film “berat” yang lurus dan nyaris tanpa klimaks. Tapi saya percaya pada para juri Academy Award, mereka memilih film ini menjadi yang terbaik pasti bukan tanpa alasan. Bagi anda yang belum menonton, tidak ada salahnya untuk meluangkan waktu menontonnya, karena tiap orang pasti punya pandangan sendiri terhadap film ini.

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

The True Heroes

9 Maret 2010

Masih ingat film Black Hawk Down? Film perang buatan tahun 2001 yang menceritakan tentang operasi Gothic Serphent di Mogadishu, Somalia yang dilakukan pasukan gabungan AS pada tahun 1993 yang berakhir kacau dengan jatuhnya dua helikopter Black Hawk dan banyak korban tewas. Film ini diangkat dari kisah nyata dan ceritanya diadaptasi dari buku dengan judul yang sama. Bagi saya film ini sangat bagus, detail dan (hampir) akurat, setidaknya jika dibandingkan kisah-kisah yang diceritakan di buku atau media lain, ceritanya sangat detail dan persis.

Dari sekian banyak karakter dan drama yang ada dalam film itu, ada dua orang prajurit yang tewas dari satuan 1st Special Forces Operational Detachment-Delta atau yang lebih dikenal dengan Delta Force yaitu Master Sergeant Gary Gordon dan Sergeant First Class Randall ‘Randy’ Shughart. Kedua prajurit ini layak disebut sebagai pahlawan, mereka tewas saat berusaha menyelamatkan pilot dari super six-four, Black Hawk kedua yang jatuh.

Gary Gordon dan Randy Shughart

Berawal dari operasi yang dianggap sederhana dan mudah, misinya yaitu “hanya” menangkap beberapa petinggi dari kaki tangan M. Farrah Aidid, penguasa dari pemberontak Somalia saat itu. Misi pasukan AS sendiri disitu bisa dibilang cukup “bersih” dari kepentingan politik dan pribadi karena keberadaan mereka murni sebagai pasukan perdamaian PBB. Namun operasi yang tampak mudah dan (salahnya) dilakukan siang hari itu berakhir kacau, dengan amunisi dan kendaraan tempur seadanya, ternyata pasukan AS mendapat perlawanan sengit dari para milisi Somalia yang berbaur dengan warga, operasi “penculikan” pun berakhir sengit, banyak korban tewas dari kedua belah pihak, puluhan dari pasukan AS dan (katanya) ribuan dari warga dan milisi.

Operasi mulai kacau ketika satu helikopter Black Hawk, super six-one jatuh dihantam RPG, ketika usaha evakuasi dilakukan, helikopter kedua yaitu super six-four juga ikut jatuh dihantam RPG lainnya. Super six-four dipiloti oleh Mike Durant, seorang pilot dari satuan 160th SOAR (special operation aviation regiment) atau yang lebih dikenal dengan Night Stalker.

Mike Durant

Dari atas, dari sebuah helikopter Black Hawk lainnya, dua orang sniper Delta Operator (anggota Delta Force) yaitu Randy Shughart dan Gary Gordon melihat masih ada tanda-tanda kehidupan dari  Mike Durant di bangkai Black Hawk yang jatuh, mereka berinisiatif untuk menolongnya dan melakukan evakuasi, namun permintaan mereka ditolak oleh atasan mereka, Jendral Garrison karena ditakutkan malah akan menambah korban jatuh lainnya, namun setelah sedikit “memaksa” akhirnya disetujui dan mereka didrop di crash site dan melakukan covering terhadap Durant.

Berbekal Senapan M-14 dan CAR-15 (keluarga M4/M16) mereka membuat perimiter (perlindungan) dengan menembak ke arah para milisi yang terus merangsek masuk ke wilayah crash site, Mike Durant pun melakukan sedikit perlawanan dengan submachine gun MP-5 yang memang menjadi senjata standar bagi pilot. Mereka terus melawan dengan amunisi seadanya, namun akhirnya habis juga, Randy dan Gary akhirnya tewas tertembak saat melindungi Mike Durant.

Tidak hanya tewas tertembak, jenazah mereka diarak massa dan bahkan dimutilasi. Adegan ini tidak digambarkan dalam film, dalam “Black Hawk Down” hanya diperlihatkan jenazah mereka dianggat oleh massa namun tidak ada kelanjutannya, memang dalam film porsi untuk kejadian ini sangat sedikit, mungkin karena faktor durasi dan harus berbagi cerita dengan adegan lainnya.

Walaupun demikian, bagi saya tindakan heroik mereka patut dihargai, kedua prajurit ini benar-benar pahlawan, tanpa mempedulikan keselamatan mereka, kedua anggota pasukan khusus ini mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Mike Durant yang sudah terluka parah hingga mereka tewas dengan sangat mengenaskan, mereka benar-benar menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati dan menuruti perintah atasan. sebelum berangkat, Jendral Garrison sempat berujar kepada para anggotanya, “No one left behind”, artinya jangan  meninggalkan seorangpun di medan perang, bahkan sekalipun sudah tewas.

Perjuangan mereka memang tidak sia-sia, Mike Durant akhirnya memang selamat, namun dia diculik oleh para Milisi sebagai jaminan, namun akhirnya dibebaskan beberapa minggu kemudian. Kedua anggota Delta yang tewas tadi mendapat penghargaan Medal Of Honor dari pemerintah yang merupakan penghargaan tertinggi dalam militer AS. Mereka memang sangat pantas mendapatkannya.

Akhir dari drama pertempuran ini memang cukup menyesakkan AS sehingga sampai saat ini AS tidak mau lagi berpartisipasi dalam pasukan perdamaian PBB, para tentara AS sendiri yang terjebak di medan perang akhirnya bisa dibebaskan dengan datangnya bantuan dari pasukan 10th Mountain Division US Army dibantu kendaraan lapis baja dari pasukan Pakistan dan Malaysia.

Battle of Mogadishu meninggalkan luka mendalam bagi pasukan AS, perhitungan yang salah dan menganggap enteng medan perang memang harus dibayar mahal, bahkan operasi yang dilakukan siang hari itu banyak diragukan oleh para tentara yang ikut dalam operasi, menurut mereka seharusnya operasi ini dilakukan malam hari (dan memang itulah yang biasa dilakukan pasukan khusus), namun operasi tetap dilakukan siang hari mengingat penggerebekan dilakukan pada saat para kaki tangan Aidid itu tengah melakukan rapat. Bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur dan kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi pasukan AS kedepannya.

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

Kategori: militer
Tag: , ,
Komentar: 3 komentar »

Video Resolusi Tinggi

4 Maret 2010

Dulu ketika format VideoCD mulai muncul, saya sudah cukup puas dengan gambar yang dihasilkan, memang waktu itu pun saya tidak memperhatikan seberapa besar resolusinya, yang jelas tampak sama saja di televisi saya, tidak ada bedanya dengan film-film yang disiarkan televisi. tapi setelah dilihat di layar komputer baru kelihatan “aslinya”, ternyata resolusinya rendah, tepatnya 352×240 untuk NTSC dan 352×288 untuk PAL.

Kemudian beberapa tahun kemudian munculah format video dalam bentuk DVD, resolusinya memang lebih tinggi dari VCD yaitu 720×576 untuk PAL dan 720×480 untuk NTSC. Ketika saya bandingkan dengan resolusi video dari siaran televisi rasanya memang DVD ini lebih bagus, ya memang faktanya demikian karena resolusi siaran televisi tidak jauh beda dengan VCD. Sampai saat itu, saya menganggap bahwa resolusi terbaik untuk video ya setara DVD ini dan sempat berpikir bahwa resolusi “asli” dari film pun memang segini, karena gambar yang dihasilkan begitu tajam, rasanya tidak mungkin bisa lebih tajam lagi dari ini.

Kemudian munculah format High Definition Video atau lebih dikenal dengan HD saja. Format ini ternyata memiliki resolusi yang lebih tinggi dari DVD, secara umum ada dua format populer untuk HD video yaitu 720i dan 1080i. 720i memiliki resolusi 1280×720 interlaced (i dari kata interlaced) sedangkan 1080i adalah1440×1080 interlaced. Sampai disini saya kembali berpikir, “wah kok bisa yah ada video dengan resolusi setinggi ini? kameranya seperti apa?”, saya bertanya demikian karena berpikir sebelumnya kalau kamera film saja resolusinya setara DVD, berarti kamera untuk HD ini pasti lebih hebat lagi? dan ternyata, sampai disini saya salah lagi….!!

RED Digital Cinema Camera

Sampai saat ini sebagian besar  proses pembuatan “film” masih menggunakan kamera dan media film (seluloid) untuk merekamnya, bukan dengan kamera digital. Saya sempat penasaran, kok di jaman modern begini masih menggunakan film sebagai media rekam? ternyata kualitas gambar yang dihasilkan film belum tertandingi sampai saat ini. Memang kita tidak bisa membandingkan secara langsung antara film vs digital ini karena formatnya yang berlainan, namun kalau misalkan saja diukur dengan satuan pixel, maka resolusi yang dihasilkan film 35mm itu setara 22 megapixel, atau bahkan lebih tergantung dari kualitas kamera, lensa dan filmnya itu sendiri. Bandingkan dengan video HD dengan resolusi 1440×1080 pixel saja jika dikalikan hanya menjadi 1.5 megapixel, tidak sampai 10% dari resolusi film.

Singkatnya, jika suatu saat nanti ada teknologi lebih tinggi yang dapat menghasilkan resolusi video yang lebih besar (misalkan 4 megapixel), film-film lama masih bisa direproduksi untuk dijadikan video dengan resolusi sebesar itu, karena “master” dari film-film itu sendiri ada dalam bentuk film (seluloid) yang beresolusi lebih tinggi, sehingga gambar yang dihasilkan masih dalam keadaan baik, bukan hasil perbesaran atau interpolasi.

Namun disisi lain, dunia perfilman tidak lepas dari sentuhan teknologi digital. saat ini sudah ada beberapa produsen kamera yang membuat kamera digital untuk film. Kamera film digital tidak sama dengan kamera video, film-film berbudget rendah seperti film-film Indonesia biasanya melakukan shooting dengan kamera video yang biasa digunakan untuk dunia broadcast (televisi) yang nantinya setelah proses post-production baru diblow-up ke film seluloid untuk disajikan di proyektor bioskop. Kamera film digital memiliki kualitas lebih baik dari kamera video, resolusi yang sangat tinggi dan lensa yang berkualitas. Tujuan dari kamera film digital sendiri memang untuk menggantikan kamera film konvensional bukan untuk dunia broadcast, sehingga standarnya pun disesuaikan untuk kebutuhan film, termasuk aksesorisnya misal rel, lensa, dll.

Salahsatu produsen kamera film digital yang terkenal adalah RED. Sudah cukup banyak film sukses yang dibuat dengan kamera digital RED ini, diantaranya Slumdog Millionaire, Jumper, Knowing, Angels & Demon, District 9, The Lovely Bones, dll. Sepintas memang gambar yang dihasilkan oleh kamera film digital ini sama saja dengan hasil dari kamera film, hal ini wajar saja, karena kebanyakan film walaupun mengambil gambar menggunakan film, tapi untuk proses editing biasanya film-film “mentah” tadi discan dalam bentuk digital dalam format 2K, sedangkan kamera RED mampu merekam bahkan sampai format 4K, sehingga pada akhirnya resolusi yang dihasilkan bisa setara. sebagai perbandingan ukuran resolusi video DVD, HD, 2K atau 4K silakan lihat gambar ilustrasi dibawah ini.

Perbandingan Resolusi Video Film (klik untuk memperbesar)

Dari gambar diatas bisa dilihat kalau format DVD (kotak paling kecil) tidak ada apa-apanya dibanding format film. ukuran yang paling besar (berwarna merah) adalah format 28K yang rencananya akan dikembangkan oleh RED. Maksud dari “K” disini adalah kilo atau ribu pixel untuk ukuran resolusi horizontal. jadi 28K artinya video tersebut memiliki resolusi 28.000×9.334 pixel atau total sekitar 261 megapixel, angka yang sangat besar untuk ukuran video, bahkan untuk foto pun masih sangat jarang yang bisa mencapai angka sebesar itu.

Dari sini saya akhirnya mengetahui kalau standar format video untuk film itu adalah sangat tinggi. baik film ataupun digital sama-sama memiliki resolusi yang sangat tinggi. tidak heran mengapa ketika muncul format video baru untuk kalangan rumahan (VCD, DVD dan HD) tidak menjadi kendala untuk sebuah film (bahkan untuk film keluaran tahun 70an) dirubah kedalam format tersebut karena format aslinya memang jauh lebih besar.

Catatan:

Uraian diatas hanyalah penjelasan secara awam dari saya yang mempelajari teknis format film hanya dalam satu malam saja, jika ada kesalahan atau kekurangan mohon koreksinya. Terima Kasih.

Sumber gambar: Wikipedia

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

Chat Facebook dengan XMPP/Jabber Client

3 Maret 2010

Menjelang pertengahan Februari kemarin, Facebook mengumumkan bahwa Facebook chat sekarang bisa diakses melalui XMPP/Jabber client. Dengan protokol yang lebih terbuka ini, maka kita bisa mengakses Facebook Chat dari berbagai aplikasi IM client tanpa harus login dari web Facebook.

XMPP/Jabber adalah protokol terbuka untuk instant messaging (IM). Aplikasi populer yang menggunakan protokol ini adalah Gtalk, kemudian sekarang disusul oleh Facebook. Pengaplikasiannya sangat luas, bahkan bisa juga digunakan dilingkungan internal dengan menggunakan domain sendiri.

Kembali ke Facebook Chat, untuk mengetahui bagaimana pengaturan IM client agar bisa mengakses Facebook Chat, bisa dilihat disini. Pada halaman tersebut disebutkan konfigurasi untuk macam-macam IM client seperti PidginAdium, iChat, dll. secara umum, konfigurasi account-nya seperti ini:

1
2
3
4
5
Protocol: XMPP or Jabber
Username: username
Domain: chat.facebook.com
Jabber ID: username@chat.facebook.com
Password:<password anda>

Ganti username dan password dengan username dan password yang anda gunakan. Apabila belum membuat username untuk account Facebook anda, silakan membuatnya dulu dengan mengakses halaman berikut.Sedangkan untuk server info-nya dengan konfigurasi sebagai berikut:

1
2
3
4
Port: 5222
Server: chat.facebook.com
Use SSL/TLS: no
Allow Plaintext Authentication: no

Silakan sesuaikan pengaturan diatas dengan IM client yang anda gunakan. apabila mengalami kesulitan atau pertanyaan, anda bisa mengakses Facebook Help Center untuk chat disini.

Dengan menggunakan protokol  terbuka seperti XMPP ini, sekarang kita lebih bebas memilih aplikasi yang digunakan untuk chat di Facebook, tidak terpatok harus dari web (yang menurut saya sangat tidak nyaman).  Selamat Mencoba.

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

The McClymonts

27 Februari 2010

Tadi waktu iseng-iseng saya lihat account Twitter dari CMT saya menemukan sebuah band Country yang cukup menarik, band tersebut bernama The McClymonts. The McClymonts (cukup susah ditulis dan diucapkan :P ) adalah band trio asal Australia yang terdiri dari tiga bersaudara yang kesemuanya adalah perempuan, mereka adalah Brooke McClymont, Samantha McClymont dan Mollie McClymont.

The McClymonts telah memiliki tiga album hingga saat ini, sebuah album EP yaitu “The McClymonts” (2006) dan dua buah full album yaitu “Chaos and Bright Lights” (2007) dan “Wrapped Up Good” (2010) yang baru saja dirilis. Album EP mereka direkam di Australia, baru pada tahun 2007 mereka pergi ke “ibukota” musik Country, dimana lagi kalau bukan Nashville, Tennessee, AS. Hampir bisa dipastikan setiap artis country sukses lahir dari kota ini, hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para artis baru, terutama yang tidak berasal dari Nashville, kota ini seolah punya magnet tersendiri sehingga tidak sedikit artis-artis baru yang mengadu nasib di kota Country ini, termasuk The McClymonts yang jauh-jauh datang dari Australia. Di Nashville mereka bekerja sama dengan beberapa musisi dan penulis handal yang juga menangani artis-artis country populer seperti LeAnn Rimes, Taylor Swift dan rekan senegara mereka, Keith Urban. Pada tahun 2007 lahirlah sebuah full album mereka yaitu “Chaos and Bright Lights” yang made in Nashville. walaupun demikian, album ini lebih dulu dirilis di Australia yaitu tahun 2007, dan baru pada musim semi 2010 ini akan dirilis di Amerika.

Sampul album "Wrapped Up Good"

Sampul album "Wrapped Up Good"

Album ketiga yaitu “Wrapped Up Good” dirilis pada tanggal 15 Januari 2010 di Australia, belum ada kabar kapan akan dirilis di Amerika maupun negara lainnya. Dikarenakan kesulitan mendapatkan materi asli, akhirnya dengan sedikit usaha saya bisa mendapatkan MP3 album terbaru mereka ini. Dari segi musik, nuansa countrynya cukup kental, malah lebih kuat dibanding artis-artis country Amerika saat ini yang cenderung ngepop, walaupun tidak semua terdengar sangat countrish, pada beberapa lagu nuansa pop terdengar cukup kuat, tapi tidak masalah karena memang inilah ciri musik country kontemporer saat ini. Single pertama mereka “Kick It Up” cukup asyik, single yang dirilis mendahului albumnya yaitu tahun 2009 ini terdengar enerjik, tapi menurut saya kalau didengar-dengar suara violin pada bagian verse-nya agak mirip-mirip dengan lagu “Truth No. 2″ milik Dixie Chicks, tapi memang hanya ada sedikit kemiripan saja bukan berarti menjiplak, mungkin karena saya terlalu familiar dengan lagu Dixie Chicks itu :)

Secara umum album terbaru mereka ini cukup bagus, betah untuk didengar dan tidak membosankan, kalau tersedia albumnya cukup layak untuk dibeli (walau hampir dipastikan cukup sulit, kecuali beli langsung di Australia). Bagi penggemar country klasik seleranya akan cukup terpuaskan, bagi penggembar country kontemporer juga tidak akan terdengar “old school”, buat yang penasaran, berikut saya tampilkan video klip dari single mereka “Kick it Up”, selamat menikmati :)

Tulisan lain yang mungkin berkaitan:

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes